Ten

87 18 20
                                        

Saat profesor Raymond berkata bahwa pergi ke Edinburgh akan menjadi pengalaman yang berharga, Rhea hanya bisa setuju dengan skeptis. Namun, setelah seminar selesai, ia tidak bisa berhenti berdecak kagum.

Ia tahu Lucien adalah pria jenius yang karismatik—ia telah mencari tahu profil sang pria saat Kathleen terus mencetuskan gagasan kalau Lucien sengaja mengatur perjalanan mereka berdua ke Edinburgh untuk membuktikan pada Kathleen pria semacam Lucien tidak mungkin menyimpan rasa padanya—Namun, baru hari ini melihat langsung sosok Lucien yang berada di elemennya.

Pria itu dengan mudah menarik atensi seluruh audiens, memaksa mereka untuk menyimak penjelasan tentang penelitian terakhir profesor Raymond. Rhea menahan diri untuk tidak menggumamkan 'wah' saat Lucien berhasil memaparkan teori rumit dengan bahasa yang mudah dimengerti. Bahkan, Lucien masih sempat memberinya sorotan walaupun perannya sebagai seorang asisten terbilang kecil.

Tidak heran Lucien akan meraih gelar doktornya di umur 24 tahun, batin Rhea.

Pandangannya melekat pada Lucien yang membungkuk sopan setelah menutup presentasinya dengan apik. Selama beberapa detik, ia yakin pria itu melirik ke arahnya lalu melempar senyum. Namun, sebelum ia bisa memastikan, fokus Lucien telah teralihkan.

Ia bertepuk tangan pelan, menyambut Lucien yang turun dari panggung. "Pemaparan yang hebat, Senior Lucien."

Lucien terkekeh pelan, menepuk puncak kepalanya lembut. "Kau juga."

Sebelah alisnya terangkat. "Yang kulakukan hanya menekan tombol 'selanjutnya' selagi kau bicara. Bukan hal besar."

"Tapi kau berhasil melakukannya tanpa satu kesalahan. Itu sudah lebih dari cukup." Rhea terhenyak saat ekspresi Lucien berubah datar dan mengeras ketika melihat sesuatu di belakangnya. Ia hendak menoleh, tapi Lucien lebih dulu menahan lengannya. "Ada seseorang yang harus kutemui. Jangan pergi terlalu jauh dan jangan bicara dengan orang asing, kau mengerti?"

Keningnya mengerut bingung dengan sikap protektif Lucien yang tiba-tiba muncul. "Aku bukan anak kecil, Senior Lucien. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

Seulas senyum tipis terbit di bibir Lucien. "Aku tahu, tapi tidak ada salahnya berhati-hati. Kau tidak mengenal siapapun di sini."

"Kalau begitu, aku akan tetap diam di sini sampai kau kembali," ujar Rhea berusaha menenangkan Lucien. Sejujurnya, sepercik ketakutan menyergapnya ketika Lucien berubah seperti orang lain. "Atau kalau kau tidak menemukanku di sini. Aku pasti ada di dekat jendela."

"Kau yakin?" Lucien memastikan. "Bagaimana kalau kau ikut denganku saja?"

Rhea mengibaskan tangannya cepat. "Tidak perlu. Seperti yang kau bilang, aku tidak mengenal siapapun di sini. Yang ada malah mengganggu urusanmu."

Lucien berdehem pelan, berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan. Mata keunguan Lucien sempat berkilat dingin selayaknya kristal di bawah tumpukan salju, menimbulkan tanda tanya besar dalam kepala Rhea. Apa dan siapa yang bisa mengubah sifat Lucien yang ramah menjadi sekeras berlian?

"Baiklah. Jangan pergi terlalu jauh, oke?" Lucien menghela napas panjang, tampak tidak rela meninggalkan Rhea. "Kalau keluar dari aula harus menghubungiku dulu."

"Oh astaga. Kau bahkan lebih paranoid daripada orang tuaku!" Rhea mendorong tubuh Lucien, berniat mengusir pria itu sebelum mengeluarkan petuah lebih lama. "Sana pergi. Tamumu sudah menunggu."

Lucien tertawa kecil, melambaikan tangan sejenak lalu berbalik untuk menyapa kolega profesor Raymond yang terlibat dalam penelitian ini, juga jajaran profesor dari universitas lain.

Rhea mengamati punggung Lucien yang perlahan-lahan menghilang di tengah keramaian. Pria itu tampak menakjubkan saat menjadi pusat atensi, terlebih Rhea mencuri dengar ada banyak pihak yang memuji kinerja dan ketekunannya selama penelitian. Pemandangan ini memperkuat asumsi Rhea bahwa Kathleen salah.

The Painter and The ButterflyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang