Meskipun sudah memasuki bulan April, tetapi hujan masih sering turun. Kami berdua termenung di dalam mobil. Air menggenang sekitar tujuh senti di area kami terjebak kemacetan panjang. Sorot lampu mobil terlihat berbayang di mataku yang silinder dan tanpa lensa. Suara klakson dibunyikan berganti-gantian, beriringan dengan lagu Charlie Puth yang sejak tadi berputar di dalam mobil.
Aku mengembuskan napas di kaca pintu mobil, lalu menghapusnya dengan tangan. Radeva menjalankan mobilnya sekitar satu meter, lalu berhenti lagi. Kemacetan menjadi hal yang hampir tidak pernah tidak terjadi di kota ini. Namun entah kenapa akhir-akhir ini keadaannya sedikit lebih parah.
Aku menggumam angka delapan saat melihat anak perempuan dengan pakaian yang sudah basah kuyup membawa tisu. Setiap melihat mereka rasa ibaku naik melesat, tetapi mama dan Radeva sepakat bahwa memberi mereka uang bukan langkah yang tepat.
"Apa kemiskinan di Jakarta meningkat?"
Kurasa Radeva menatapku sebentar. "Kenapa?"
"Sudah ada delapan anak berbeda minta-minta. Biasanya paling banyak aku temukan lima."
"Mau mengaitkannya dengan nilai rupiah yang terjun payung?"
Aku menghela napas, menyandar ke jok mobil, memberi Radeva lirikan maut. Ada banyak hal yang bisa kami bicarakan, tetapi persoalan ekonomi negara bukan salah satunya.
"Jumlah rupiah di rekeningku juga terjun payung," kataku memberinya topik yang lebih menarik.
"Kebutuhanmu banyak bulan ini?"
"Tepatnya, kebutuhan kita berdua." Kuserongkan badan ke arahnya, memberinya tatapan serius. "Kamu yakin nggak mau ambil peran menentukan mau seperti apa suasana pernikahan kita nanti?"
Tanpa sadar aku meraba cincin yang sudah terpasang di jari manis. Meskipun sudah hampir dua minggu sejak kami bersepakat menikah, tetapi rasa nggak percaya itu masih tinggi. Ini seperti mimpi sesuatu yang tidak pernah aku impikan sebelumnya.
"Udah dapat konsep?"
"Awalnya aku mau intimate wedding, mengumpulkan keluarga inti dan teman dekat, di restoran, makan-makan, lalu kita lanjutkan dengan pesta sederhana."
"Pasti sekarang sudah berubah."
Demi tebakannya yang seratus persen benar, aku nyengir.
"Bagaimana sekarang?"
"Kamu keberatan kalau resepsi kita sedikit berlebihan?"
Mengenal Radeva artinya juga menyadari sepenuhnya bahwa dia mahluk introvert yang tidak suka pesta. Dia malas bermain-main dengan banyak kepala. Bahkan ada yang bilang hanya denganku saja Radeva bisa berkeliling kota tanpa tujuan yang jelas. Oleh sebab itu, awalnya aku merancakan intimate wedding, karena itu yang paling cocok dengannya.
"Terserahmu. Kamu tinggal bilang kalau uangnya kurang."
"Hey, Radeva." Kusentuh pundaknya dan berkata dengan nada menasehati. "Aku yakin kamu nggak berniat sombong, tapi jangan meremehkan aku. Tabunganku juga banyak."
"Berapa?"
"Kenapa kamu tanya jumlahnya?" Nada suaraku agak naik sekarang.
"Kamu bahkan melihat langsung buku tabunganku."
Ah, benar. Aku memang melihat buku tabungannya minggu lalu dan hampir mati karena kaget melihat jumlahnya.
"Kamu ceroboh meletakkan buku tabungan di sembarang tempat. Aku cuma mau melihat seberapa besar transaksimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Woman On Top
Chick-LitPramita pernah nembak Radeva karena alasan sepele, tetapi Radeva menolak karena alasan itu terlalu sepele. Lalu, tiba-tiba Radeva nembak Pra.
