"Aku nggak nyangka kita bakalan gagal bahkan setelah 3 hari mencoba."
Radeva terkekeh-kekeh mendengar pernyataan yang lebih seperti rasa heran itu keluar dari mulut Pra.
"Aku sebenarnya menantikan di mana sisi Pramita yang berani sebelum menikah itu."
"Ck!" Pra berdecak merasa tersindir dengan kalimat mengejek itu. "Aku udah bilang lakuin aja, masukin Dev masukin. Tapi kamu sendiri yang nggak mau ngelakuinnya. Bukannya kamu yang cemen?"
"Harus kita rekam ekspresi wajahmu yang kesakitan?" tanya Radeva, sedikit tak terima dibilang cemen padahal dia lebih mengkhawatirkan Pra.
"It's ok. Memang bakalan sakit di awal tapi lama-lama kebiasaan. Aku bakalan ikut nikmatin seiring waktu berjalan."
Radeva mengedik, tak berniat menanggapi dan Pra melanjutkan ocehannya.
"Kamu yang sebenarnya nggak berani, kan? Kamu sebenarnya nggak tau cara memulainya gimana?"
Radeva menoleh sesaat. "Apa?"
"Kamu sebenarnya nggak ngerti kan gimana cara ngelakuinnya? Kamu cuma bisa skinship sampai kita bugil tapi kamu nggak tau bagaimana cara menyatukan MeyMey dan Doni?" Seolah baru saja menemukan inti masalah sebenarnya, Pra menyerongkan badannya ke arah Radeva. "Perlu nonton video porno dulu sebelum melakukannya?"
"Apa maksudnya?" tanya Radeva masih belum terlalu memahami.
"Nggak pa-pa Radeva kalau kamu memang nggak bisa. Kita sama-sama pemula. Aku juga yakin kamu masih perjaka dan bahkan nggak pernah nonton video porno. Aku memaklumi kalau kamu memang nggak bisa menyatukan MeyMey dan Doni. Kedengarannya gampang tapi sebenarnya bercinta juga butuh keahlian khusus. Kita belajar sama-sama, ok?"
Demi menjaga fokusnya yang sedikit terganggu, Radeva meminun air meral beberapa tegukan, lantas menoleh pada Pramita sesaat sambil bicara panjang.
"Kamu sungguh berpikir aku nggak bisa? MeyMey dan Doni maksud kamu milikku dan milikmu?"
"Ya." Pra tersenyum lebar. "Kamu pasti canggung menyebutnya vagina atau kemaluan atau memek. Aku juga malu menyebut penis atau k—"
"Stop!" Radeva menarik napasnya dalam dan mengembuskannya panjang. "Terserah apa pun sebutannya tapi jangan pernah sebut lagi."
"Padahal kita akan lebih mudah bilang MeyMey dan Doni. MeyMey," ujar Pra menunjuk bagian bawahnya, lalu dia menunjuk bagian di antara kedua paha Radeva, "Doni. Mereka terdengar akrab dan mudah disebutkan."
Sedangkan Radeva merasakan hawa di dalam mobilnya menghangat. Subuh tubuhnya agak meningkat padahal sebelumnya baik-baik saja. Hanya saja ini terlalu unexpected.
"Tapi kamu setuju kan?"
"Soal apa?" tanya Radeva lagi.
"Nonton video."
Radeva berdecak. "Pra, kamu pernah dengar bahwa naluri alamiah lelaki adalah meniduri perempuan?"
"Hm, tapi kita semua butuh belajar."
"Itu dia, laki-laki nggak perlu belajar dari video-video yang kamu maksud."
"Hm?" Pra menatap lelaki itu bingung. Melihat Radeva kini tampak percaya diri, dia menunggu penjelasannya.
"Kita lelaki memang punya naluri semacam itu, dan pelajarannya sudah kita dapatkan sejak masih sekolah."
"Pelajaran sekolah?"
"Iya. Bagaimana menjelaskannya." Radeva mengetuk setir mobil pelan, lantas mulai menjelaskan. "Kami dapat pelajaran semacam itu, cuma kami nggak mau mengakui saja ke perempuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Woman On Top
Literatura FemininaPramita pernah nembak Radeva karena alasan sepele, tetapi Radeva menolak karena alasan itu terlalu sepele. Lalu, tiba-tiba Radeva nembak Pra.
