Bab 16

1.6K 162 8
                                        

Terima kasih buat yang baca cerita ini, semoga suka....


Aku menyesali konfrontasi yang dilakukan pada Pak Aryo bukan karena takut kehilangan pekerjaan tapi malu. Sikapku sangat kasar dan tidak sopan. Ada rasa khawatir, emosiku meledak seperti itu di kantor, kalau itu terjadi pasti akan sangat memalukan, jadi berpikir untuk resign, selain sudah tidak tahan dengan sikap Pak Aryo yang ketus dan seperti selalu mencari-cari kesalahanku.

"Jangan membuat keputusan karena emosi, relasi staf dan bos memang seperti itu. Bos menekan staf, bos ditekan pemilik perusahaan," ujar Mas Angga ketika aku mengeluh lewat telepon, tapi tidak menceritakan pada Mas Angga jika diminta Bu Hardjo mengantar Pak Aryo terapi apalagi konfrontasi yang aku lakukan, hanya mengeluhkan soal beban pekerjaan dan sikap Pak Aryo.

"Tapi rasanya beban pekerjaanku lebih banyak."

"Perempuan banyak pake perasaan," terdengar tawa Mas Angga di sebrang sana. "Rekan kerjamu yang lain terlihat santai karena mereka sudah menemukan ritmenya, sudah terbiasa. Kamu kan masih belajar. Apalagi pekerjaanmu tidak sesuai basic ilmu yang kamu miliki."

"Aku mulai apply pekerjaan ke Jakarta ya, Mas."

"Hah kemana? Perusahaan atau sekolah?" Suara Mas Angga terdengar agak kaget alih-alih antusias. Padahal aku antusias setiap kali apply lamaran ke perusahaan di Jakarta.

"Dua-duanya, pengalamanku kan sudah lumayan untuk staf office."

"Baru lima bulan Yu, belum apa-apa."

"Ya pokoknya dicoba aja dulu, iya kan."

Itulah sepenggal obrolanku dengan Mas Angga melalui telepon. Akhir-akhir ini obrolan kami didominasi keluhanku tentang pekerjaan. Tapi kalau diingat-ingat kami memang jarang bicara mesra layaknya orang pacaran, sepertinya kami sama-sama sungkan untuk berbicara mesra.

Jika Mas Angga menyarankan untuk bertahan dengan pekerjaan sekarang dan menasehati untuk tidak banyak melibatkan perasaan, lain halnya dengan Rara yang mendukung mencari pekerjaan baru.

"Ya kalau kamu nggak kuat sabar, dari pada stres mending resign, Yu. Lihat badanmu jadi makin langsing sejak kerja di perusahaan Bu Hardjo." Rara tidak berlebihan, berat badanku memang turun 1 kg selama tiga bulan terakhir ini. "Tapi sebaiknya dapat penggantinya dulu baru resign."

"Info-info Ra kalau ada info lowongan di sekolah mana aja kisaran Yogya atau Klaten." Aku tidak bisa balik lagi bekerja di sekolah tempat mengajar dulu karena sudah terisi orang lain.

"Siap."

Tentu saja aku tidak menceritakan pada Ibu perihal keinginan untuk resign dari perusahaan Bu Hardjo. Jika kuceritakan, Ibu pasti akan menyerahkan keputusan padaku tapi beban pikiran Ibu akan bertambah, terlebih Muti tahun depan kuliah.

Setelah berhari-hari kupertimbangan, sambil menebarkan surat lamaran ke mana-mana, hari ini keputusanku sudah bulat, resign. Tidak ada satupun orang kantor yang tahu rencana ini , bahkan mungkin mereka tidak tahu jika selama ini aku tidak nyaman bekerja di sini karena sikap Pak Aryo.

Pagi itu, beberapa menit setelah Pak Aryo datang dan masuk ke ruangannya aku mengetuk pintu. Setelah terdengar sahutannya, aku membuka pintu dan berjalan menuju mejanya dengan membawa sebuah map.

"Pagi Pak."

"Pagi. Ya ada apa?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptop.

"Saya mengajukan resign Pak."

"Oh." Pak Aryo mengangkat kepala, menatapku sekilas lalu kembali ke layar laptop. Ekspresinya tidak menampakkan keterkejutan. Jadi benar, mungkin momen ini yang dia tunggu-tunggu, pengajuan resignku.

Complicated BossTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang