Terima kasih yang masih mengikuti cerita ini, boleh komen dan voet ya ....
***
Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak. Memikirkan cara mengolah data yang dikirim Pak Aryo. Sampai-sampai terbawa mimpi.
Aku datang ke kantor lebih pagi. Menonton ulang video youtube tentang statistik dasar. Beberapa mulai aku mengerti, setelah ditonton berulang kali. Dengan menahan malu meminta bantuan Andini lagi. Kali ini mencoba fokus dan konsentrasi saat Andini menjelaskan sambil memasuk-masukkan data ke dalam tabel excel, bahkan merekam penjelasan Andini.
"Makasih ya An, jadi merepotkan." Aku menyalaminya. Dalam hati berjanji akan mentraktir Andini makan siang nanti.
"Iya Mba sama-sama. Nggak ngerepotin kok." Andini tersenyum manis, menampakkan lesung pipinya.
Aku segera mengirimkaan laporan melalui email pada Pak Aryo. Sesaat bisa menarik nafas lega tapi tak lama karena telepon interkom di meja berdering. Aku menduga itu Pak Aryo, seketika jantungku berdebar kencang, ada kesalahan apa lagi?
"Yu, ke ruangan saya ya." Selalu tanpa basa-basi dan dengan nada tergesa. Aku membayangkan raut Pak Aryo, merenggut dengan kening berkerut, menampakkan kekesalan karena aku melakukan kesalahan yang sama.
"Baik Pak." Sebelum beranjak, aku meneguk air minum yang selalu di sediakan OB setiap pagi di meja hingga tandas selain haus berharap segelas air bisa meredakan rasa gugup dan takut menghadapi Pak Aryo.
Aku mengetuk pintu ruangan sebelum membuka berlahan, berjalan pelan bukan sekedar kesopanan tapi memang memperlambat. Pak Aryo tengah menatap layar laptop, dari caranya mengerutkan kening dan raut masamnya aku menduga, ada yang tidak beres. Seketika jantungku seperti mau lepas dari tempatnya. Tenang Yu, tenang.
"Siang Pak," kataku sambil menarik kursi di depannya dan duduk dengan hati-hati, takut suara derit kursi menambah kemarahannya.
"Siang. Ini tidak cocok rumusnya." Pak Aryo membalikkan laptop hingga menghadapku. Rahangnya mengetat, menahan marah. Jika aku diibaratkan es krim, situasi ini membuat aku meleleh.
"Coba kamu hitung pakai kalkulator, hasilnya ini dan ini beda, harusnya sama. Rumusnya harus berlaku untuk semua row, inikan tinggal di klik seperti ini. Membuat rumus ini hanya pake logika matematika dasar lho, masa begini saja tidak bisa," Pak Aryo berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala, rasa jengkel tergambar jelas di wajahnya. "Coba kamu belajar, beli buku tentang statistik excel atau lihat tutorialnya di youtube. Perbaiki, sore saya tunggu laporannya." Pak Aryo membalikkan kembali laptopnya. Tanpa berkata apa-apa dia kembali fokus pada layar laptopnya.
Aku menelan ludah. Rasa maluku sudah sampai puncaknya jadi rasanya ingin menghilang dari hadapan Pak Aryo, sayang ini bukan dunia sihir."Baik Pak." Aku berdiri dan keluar dari ruangannya. Aku tidak paham di mana letak salahnya, mengerjakan sesuai yang diajarkan Andini. Tapi memang hanya paham sebagian yang Andini jelaskan. Sebenarnya malu meminta Andini menjelaskan lagi tapi mau tidak mau, harus meminta bantuan Andini lagi.
"Andini mana Bu?" tanyaku pada Bu Mita begitu masuk ruangan karena meja Andini kosong.
"Baru saja pulang, dia ijin masuk setengah hari, ada bimbingan di kampus katanya."
"Oh." Duh, bagaimana ini?! Mati aku! Aku duduk di kursi meja kerja dengan lemas.
"Ada apa Yu?" tanya Bu Mita.
"Ehm, nggak ada apa-apa Bu." Aku buru-buru menegakkan punggung, mengembalikan perhatian pada laptop, membuka file yang dikoreksi Pak Aryo, mengamati dan mengingat-ngingat kesalahan yang dijelaskan Pak Aryo tapi tetap saja tidak paham. Aku menatap deretan angka di layar laptop dengan putus asa, rasanya mau menangis. Reaksiku mungkin berlebihan tapi itulah yang dirasakan saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Complicated Boss
ChickLitCerita dengan genre chicklit, komedi romantis. Romantika working girls, bukan drama cinta ala CEO. Waktu selalu punya cara membuat kejutan tak terduga, terutama dalam hal melibatkan perasaan..... Saat jatuh cinta dalam diam dan diam-diam. Sayangnya...
