Oh ya untuk yang suka cerita thriller romance, bisa ikuti cerita Run to You dan Hidden Evidence ya . Yang suka genre chicklit, metropop, bisa baca Selaksa Rasa, sudah tamat.
Aku tahu rasanya jatuh cinta karena pernah merasakannya. Mas Angga cinta pertamaku, jatuh cinta pada semester ke empat masa kuliah. Masa sekolah menengah atas berjalan datar, karena fokus pada bagaimana agar nilai sekolah bagus sehingga bisa kuliah ke PTN dengan jalur rapot sayangnya usahaku gagal, harus belajar lagi untuk ikut seleksi nasional. Tapi aku tidak menyesal melalui masa sekolah menengah atas dengan serius. Aku selalu ingat nasehat Bapak, masa depan adalah buah dari yang kita lakukan hari ini. Jadi kalau ingin masa depanku baik, memiliki pendidikan yang lebih baik dari kedua orang tua – yang hanya lulusan sekolah menengah atas , ya harus belajar. Ibu dan Bapakku percaya pendidikan bisa merubah nasib. Ibu dan Bapakku orang kampung, dengan bisa sekolah sampai SMA saja sudah pencapaian luar biasa pada masa itu.
Kalau kata Tan Malaka, pendidikan tinggi memang tidak menjamin sukses, tapi mampu menjadikan kita pribadi yang lebih merdeka dan berbahagia. Lebih mudah menjalani hidup dan menyederhanakan berbagai permasalahan di dalamnya.
Aku kenal Tan Malaka melalui buku-bukunya karena Mas Angga sering mengajak menghadiri diskusi buku. Tentu saja aku hanya jadi pendengar, menatap dengan takjub setiap Mas Angga mengemukakan pendapatnya pada diskusi itu.
Jadi aku termasuk perempuan yang tidak percaya, menikah dini - usia 18 tahun - menjamin masa depan cerah. Mungkin ada yang nasibnya baik dengan menikah di usia 18 tahun tapi kejadian itu lebih sedikit dibanding ketika perempuan memiliki pendidikan, keterampilan atau kecakapan tertentu. Ya kecuali perempuan itu menikah dengan generasi pewaris atau sama-sama generasi pewaris yang secara ekonomi cukup tapi seiring waktu ekonomi saja tidak cukup, menjalani pernikahan perlu kedewasaan berpikir, karena masalah hidup tidak selalu terkait dengan ekonomi.
Kalau kata Bu Hardjo, jodoh itu akan memantaskan dirinya,"Jodoh itu akan memantaskan dirinya, Yu. Ingin mendapatkan lelaki baik, harus memantaskan diri menjadi perempuan baik. Ingin jodohnya orang pintar, harus memantaskan diri menjadi perempuan pintar, itu berlaku juga untuk laki-laki." Aku tidak tahu Bu Hardjo menyindirku atau murni memberi nasenat. Yang pasti kata-kata itu membuat jantungku berdetak kencang, tenguk terasa panas, takut Bu Harjo tahu, jika diam-diam aku menyukai Pak Aryo dan itu tidak pantas. Sayangnya menyingkirkan perasaan itu tidak mudah. Obrolan itu terjadi ketika aku mengantarnya pulang ke Klaten.
Bu Hardjo melanjutkan nasehatnya, katanya, perempuan itu harus memiliki bargaining power yang setara dengan lelaki, dengan begitu hak dan pilihan hidupnya lebih baik dan tidak tergantung laki-laki.
Lalu aku teringat Ibu, pendidikannya hanya sekolah menengah atas, tapi memiliki kecakapan menjahit dan dilakoninya sejak menikah dengan Bapak, sehingga saat Bapak harus pergi menghadapNya Ibu tidak terlalu terpuruk, dia bisa survive, meneruskan cita-cita Bapak terhadap kami anak-anaknya.
Jadi yang kurasakan sekarang ini, persis dengan yang aku rasakan pada Mas Angga dulu. Rasanya jatuh cinta itu, kamu ingin selalu bertemu dengan orang yang membuat jatuh hati atau istilahnya rindu, ingin nampak pantas dan menarik di depannya, ingin diperhatikan. Rasa yang harusnya menyenangkan tapi menjadi merasa bodoh ketika orang yang kita sukai, tidak memiliki perasaan sama, bahkan tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Dan itu yang terjadi padaku.
Saat ini, aku duduk tak jauh dari Pak Aryo, sama – sama di meja yang biasa digunakan untuk meeting, hanya kami berdua di ruangan ini, harusnya berempat dengan Pak Hendri dan Andini, tapi Pak Hendri mendadak cuti karena ada keperluan keluarga, Andini baru saja ijin pulang karena katanya ada bimbingan di kampus. Kami sedang menyusun budget untuk proyek pembangunan sebuah hotel. Keadaan yang membuatku tidak nyaman dan tidak fokus. Bagaimana bisa fokus kalau samar-samar mencium wangi parfum Pak Aryo, ujung mataku – tanpa perlu repot menoleh - bisa menangkap garis wajah serius Pak Aryo yang entah bagaimana membuat aku terpesona. Sadar Yu, sadar...aku meruntuki diri sendiri dalam hati. Aku memijit-mijit pelipis, berharap pikiranku kembali fokus pada tabel angka-angka di laptop, bukan malah memikirkan Pak Aryo.
"Pusing ya Yu?"
"Eh, nggak Pak, cuma..."Aku meringis, mendadak kehilangan kata-kata.
"Lapar ya?" Pak Aryo tertawa, dia melirik jam tangannya.
Spontan aku juga melihat ke arah jam dinding di ruang meeting ini. Jam 12 kurang 15 menit.
"Yu, makan siang di sini saja ya, sekalian saya pesankan. Mau makan apa?"
Aku menoleh, kulihat Pak Aryo tengah memegang ponselnya.
"Nasi ayam bosan ya. Tengkleng mau?" Pak Aryo mengangkat kepala dari ponsel dan melihat ke arahku. Seketika wajahku terasa menghangat, jantungku berdetak lebih cepat. Jangan ge-er Yu, jangan ge-er....
"Apa saja Pak." Lalu aku kembali memfokuskan diri pada template budgeting di laptop.
Tak lama terdengar dering ponsel, bukan dering ponselku jadi pasti punya Pak Aryo. Aku menahan diri tidak menoleh, tidak kepo, tapi telinga tidak bisa tidak mengabaikan percakapan Pak Aryo.
"Iya Bu. Lagi sibuk Bu, ini juga masih di ruang meeting. Kok mendadak. Ya sudah."
Terdengar desahan Pak Ayo setelah percakapan usai dan dia meletakkan ponselnya dengan agak keras, dengan ujung mata kulihat kerut kekesalan di wajahnya. Kerut yang sudah aku hapal, karena dulu Pak Aryo sering menunjukkan ekspresi itu jika aku melakukan kesalahan.
"Yu?"
"Iya Pak." Aku menoleh.
"Saya makan siang bareng Ibu. Dia mendadak ke sini. Makanan pesanan saya, kasih ke Pak satpam saja. Maaf ya, Yu."
"Oh ya nggak apa-apa, Pak. Kalau begitu saya lanjutkan di meja saya ya Pak," kataku lalu mengklik tombol save dan menutup laptop. Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, balpoint, kertas post it dan berkas-berkas, beranjak dari kursi dan berjalan ke arah pintu keluar dengan mendekap laptop. Tentu saja aku berbohong saat tadi mengatakan 'nggak apa-apa, Pak' , karena kenyataannya ada rasa kecewa dan kesal.
Baru saja aku akan menarik pegangan pintu, pintu terbuka, nampak Bu Hardjo dan seorang perempuan di belakangnya, Ratih. Saat bersamaan bisa kucium wangi makanan yang menggugah selera. Aku melihat Ratih membawa sebuah tas belanja yang sepertinya berisi makan siang.
"Siang Bu." Aku menangkupkan tangan di dada, memberi salam pada Bu Hardjo lalu mengangguk ke arah Ratih.
"Eh Yu, sibuk ya?"
"Sudah selesai Bu, mari." Aku membuka pintu lebih lebar, lalu berjalan ke luar setelah mengangguk pada Ratih dan Bu Hardjo sambil tersenyum.
Aku merasa memerlukan seember air untuk mengguyur tubuhku yang tiba-tiba kepanasan. Ruangan kosong, Bu Mita sepertinya sudah keluar untuk makan siang. Aku duduk di meja, memijat-mijat pelipis yang mendadak merasa perlu dipijat. Dering interkom di meja membuat tersentak kaget, setelah mengangkatnya terdengar suara Pak Suryono, sekuriti,"Mba Ayu, pesanan makanannya sudah datang."
"Oh ya, nanti saya ambil ke depan." Ya nanti jika suasana hatiku yang tak karuan ini mereda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Complicated Boss
ChickLitCerita dengan genre chicklit, komedi romantis. Romantika working girls, bukan drama cinta ala CEO. Waktu selalu punya cara membuat kejutan tak terduga, terutama dalam hal melibatkan perasaan..... Saat jatuh cinta dalam diam dan diam-diam. Sayangnya...
