Bab 24

1.4K 157 7
                                        

Jadi  bagaimanakah kelanjutannya....


Pernah dengar istilah jalan langit? Istilah untuk sesuatu yang mustahil atau sulit menjadi mungkin dan mudah. Keberhasilan yang datang tidak semata dari usaha tapi doa. Aku jadi inget nasehat Bapak dulu, mengharapkan keberhasilan jangan hanya mengandalkan usaha tapi juga doa, jangan abaikan kekuatan doa. Dan doa itu tengah aku lantunkan dalam hati ketika Pak Aryo mengumumkan rencana pengobatannya ke Singapore selama kurang lebih dua bulan saat meeting mingguan pagi ini.

Pak Hendri dan Bu Mita ditunjuk sebagai Project Leader selama Pak Aryo di Singapore. Meeting menjadi memakan waktu lebih lama karena Pak Aryo membuat rencana kerja setiap departemen hingga satu bulan ke depan, memastikan semua projek berjalan dan selesai sesuai rencana.

Tak heran Pak Aryo selalu datang lebih pagi dan pulang lebih sore daripada kami, karyawannya, karena dia memikirkan semuanya secara detail. Ehm mungkin yang ada di pikiran Pak Aryo kerja, kerja, kerja.....

Walaupun aku sudah tahu rencana Pak Aryo dari jauh hari tetap saja saat mendengar dia mengumumkan ada perasaan sedih dan khawatir. Aku tidak tahu detail kondisi Pak Aryo tapi pasti opsi terakhir untuk kesembuhannya ini – mungkin bisa berdiri dan berjalan – bukan tindakan ringan. Seberapa besar efek sampingnya pada kesehatan fisik dan mental Pak Aryo? Ingatan itu membuat rasa khawatirku bertambah.

Aku melihat ke depan, di mana Pak Aryo tengah bicara, tapi tidak benar-benar memperhatikan apa yang dia bicarakan, lebih fokus pada sosoknya yang tidak akan dilihat selama dua bulan secara langsung. Tidak akan melihat senyumnya selama satu bulan, tidak akan mendengar suaranya di intercom yang menyuruhku ke ruangannya. Pak Aryo benar-benar off dari kantor selama sebulan, bulan selanjutnya akan memantau semua pekerjaan secara online dan hadir di meeting online.

"Ayu."

"Iya Pak." Panggilan Pak Aryo membuat tergagap dan panik, balpoint yang tengah aku pegang meluncur jatuh ke bawah meja, semua orang menoleh, membuat mukaku terasa panas.

"Ada yang mau ditanyakan atau saran?"

"Tidak Pak," ujarku sambil meringis.

"Yang lain ada? Kalau tidak ada selesai meeting hari ini."

Meeting selesai. Aku membereskan berkas di meja sebelum beranjak dan keluar dari ruang meeting seperti yang lain. Sampai di meja kerja, mengecek email pekerjaan yang dikirim Pak Aryo dan mulai mengerjakan, tapi pikiranku tidak benar-benar fokus, masih memikirkan rencana pengobatan Pak Aryo ke Singapore, berharap ada jalan langit yang memudahkan dan memperlancar operasinya. Tak lama telepon interkom di meja berdering.

"Ayu, bisa ke ruangan saya sebentar?" suara Pak Aryo di sebrang sana, perintah yang tidak lagi membuat nyaliku mengkeret karena ketakutan, malah ditunggu-tunggu. Ya Tuhan pikiran macam apa ini?! Aku buru-buru mengenyahkan pikiran tak karuan itu.

Pak Aryo tersenyum begitu aku masuk ruangan, sangat tidak biasanya.

"Pagi Pak." Aku menyapa dan duduk di kursi di hadapannya.

"Pagi. Ini berkas untuk Pak Indra, tolong sampaikan kalau kamu ke Klaten." Pak Aryo menyerahkan sebuah map.

"Iya Pak, mungkin lusa saya ke Klaten," ucapku begitu menerima berkas itu.

"Tentang pengobatan saya ke Singapore, di rumah sakitnya kurang lebih dua minggu selebihnya recovery. Selama di rumah sakit mungkin saya tidak bisa dihubungi, jika ada hal urgent bisa diskusi dengan Bu Mita atau Pak Hendri. Sesekali Ibu akan inspeksi ke sini. Ya, sebenarnya Ibu belum benar-benar pensiun." Pak Arto tertawa pelan, seolah itu hal lucu. "Diam-diam Ibu selalu memantau." Ini mengingatkan pada perselisihan yang aku dengar tak sengaja tentang pengrekrutan secara sepihak yang dilakukan Bu Hardjo. Kalau dipikir-pikir tidak berlebihan Pak Aryo tidak setuju dengan keputusan Ibu Hardjo mengangkatku jadi karyawannya, terlebih kemampuanku saat itu tidak sesuai kebutuhan perusahaan.

Complicated BossTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang