Bab 19

1.4K 161 11
                                        

Terima kasih yang sudah mengikuti cerita ini. Disarankan setiap bab dibaca, agar tidak bingung dengan jalan ceritanya.

                                                                                              ***

Yang aku harapkan selama ini akhirnya terjadi, mendapat panggilan interview ke Jakarta setelah melalui beberapa kali test secara online dan satu kali wawancara online. Menurut HRD yang menghubungi, aku satu dari 3 kandidat yang akan diinterview oleh user alias atasan langsung.

Aku akan mengabari Mas Angga begitu sudah sampai di Jakarta, agar menjadi kejutan. Melalui grup wa teman seangkatan saat kuliah, aku mencari informasi tempat menginap dan transportasi ke tempat interview di kawasan Sudirman Jakarta. Seorang teman menawarkan menginap di rumahnya. Temanku bernama Arini ini memang asli orang Bogor.

Ini jadi pengalaman pertama naik KRL yang super padat. Saking padatnya tidak perlu berdiri memegang hand strap agar seimbang saat kereta melaju. Cukup berdiri karena di kanan kiri depan belakang ada orang yang berdiri menghimpit. Ini yang akan aku alami setiap hari jika bekerja di Jakarta dan tinggal di pinggiran kota. Menurut Arini, jika aku keterima kerja di Jakarta bisa mencari kost an di daerah Jakarta tapi harganya mahal. Dan jika kelak aku menikah dan memutuskan menetap di Jakarta pilihan membeli rumah dengan harga terjangkau, ya di pinggir kota Jakarta seperti Bogor, Bekasi, Tangerang dan Tangerang Selatan.

"Kecuali jodoh kamu pemilik perusahaan, bisalah kamu membeli rumah di Jakarta," ucap Arini sambil tertawa.

"Kalau pun kamu jadi bos, misalnya senior manager dengan gaji kisaran 40-50 juta, masih berat untuk membeli rumah di kota Jakarta." Mungkin ini maksud Mas Angga saat berkata, hidup di Jakarta berat.

Aku melihat perempuan yang tengah hamil duduk di kursi prioritas, di depannya berdiri seorang lelaki sambil menggenggam tangannya. Usia mereka terlihat sebaya, masih muda, sepertinya mereka pasangan baru menikah. Keduanya mengalungi name tag perusahaan yang berbeda. Tak jauh dariku seorang perempuan berdiri, bahunya direngkuh seorang lelaki, mereka tengah mempercakapkan sebuah nama yang kuduga anak mereka. Mungkin kelak aku dan Mas Angga akan seperti mereka. Bayangan itu membuat hatiku menghangat. Hai kids ini Mama dan Papamu berjuang naik KRL agar kehidupanmu kelak jauh lebih baik.

"Yu, turun di sini, nanti lanjut gojek. Kalau ada apa-apa wa aja ya." Suara Arini membuyarkan lamunanku.

"Oh iya Rin, terima kasih ya." Aku berjalan menerobos himpitan orang menuju pintu kereta yang terbuka. Ratusan orang memadati stasiun, berjalan dengan bergegas. Orang-orang muda yang seusiaku terlihat gesit, sumringah dan ekspresif. Orang dengan usia setengah baya nampak berwajah lelah dan bosan. Beberapa orang nampak termangu atau sibuk dengan ponselnya.

Gojek yang kutumpangi melintasi deretan gedung-gedung tinggi pencakar langit yang membuat terpukau bersamaan dengan pertanyaan yang memenuhi benak. Gedung sebanyak ini apa semua terisi? Perusahaan apa saja yang berkantor di sana? Gajinya berapa?

Suara klakson saling bersahutan begitu lampu hijau menyala, kendaraan roda dua bergerak gesit, mencari celah agar tetap bergerak di tengah kepadatan kendaraan roda empat. Udara terasa panas dan pengap padahal hari masih pagi. Ini yang akan aku lalui setiap hari jika bekerja di Jakarta. Sanggupkah? Tapi bukankah ini salah satu cara agar aku dan Mas Angga bisa bersama. Tetap LDR setelah menikah bukan pilihanku.

Tak lama aku sampai di gedung tempat interview. Salah satu gedung pencakar langit, di interview di lantai 16. Aku melirik jam tangan, masih pukul 8.00 sementara interviewku jam 9.00. Aku memang sengaja datang lebih awal untuk berjaga-jaga jika bertemu situasi yang tidak terduga, macet misalnya.

Aku memutuskan duduk di tembok pembatas antara lobi gedung dan taman gedung, menyibukkan diri dengan ponsel, namun ujung mata memperhatikan orang yang berlalu lalang masuk ke dalam gedung. Perempuan berpakaian dengan beragam style, ada yang mengenakan blazer, baju terusan, blus yang dipadu rok atau celana, sementara lelaki rata-rata mengenakan kemeja lengan pendek atau panjang. Beberapa kulihat mengenakan jas lengkap dengan dasi. Ehm mungkin mereka ini para bos besar, pikirku. Aku membayangkan satu bulan ke depan, ada diantara mereka. Terbersit rasa excited sekaligus was-was. Begini rasanya akan menaklukan pusat ekonomi Indonesia. Aku berpengalaman menghadapi bos galak dan perfeksionis seperti Pak Aryo jadi sepertinya tidak akan kaget menghadapi bos atau rekan kerja model Pak Aryo. Aku membayangkan rasa puas jika nanti pengajukan resign pada Pak Aryo dan akan dengan bangga menyebutkan nama perusahaan yang menerimaku, sebuah perusahaan multinasional yang bonafid.

***

Sehabis magrib, aku janji bertemu dengan Mas Angga di sebuah coffee shop yang tidak jauh dari stasiun Tebet. Ini tidak seperti pertemuan yang aku bayangkan, tidak kutemukan tatapan kerinduan pada mata Mas Angga. Tidak kutemukan juga senyum yang biasanya membuat hati menghangat. Mas Angga terlihat salah tingkah. Apa aku terlihat asing? Seharusnya tidak. Seharusnya kami saling tertawa dan menggenggam tangan untuk melepas rasa rindu.

Aku mencoba mencairkan suasana dengan menceritakan perjalanan ke Jakarta, menginap di rumah Arini dan naik KRL.

"Ya seperti inilah Jakarta Yu. Dan kamu harus menjalaninya setiap hari jika bekerja di sini. Transportasi termurah dan terintegrasi memang KRL." Mas Angga mengaduk-ngaduk minuman yang dipesan sebelum meneguknya.

Aku mengecap kopi. Gestur tubuh Mas Angga yang nampak kurang bersemangat membuat aku mengurungkan niat menceritakan pengalaman interview tadi pagi.

"Kamu yakin mau meninggalkan Yogya jika keterima bekerja di sini? Sebaiknya pikirkan dengan matang jangan sampai nanti menyesal. Di Yogya kamu nyaman, tidak perlu tergesa-gesa seperti di sini. Di sini kamu sudah capek dan stres sebelum bekerja."

"Iya tapikan biar kita bersama Mas."

Mas Angga menatapku tapi entah bagaimana aku yakin dia tidak benar-benar tengah melihatku. Terdengar helaan nafasnya sebelum bicara,"Jakarta terlalu keras untukmu Yu."

Aku menatapnya dengan kening mengernyit, terlalu keras? Hidupku cukup keras, aku bukan berasal dari keluarga yang biasa dimanjakan dengan kenyamanan. Sekedar berdesak-desakan di KRL setiap hari tentu saja mampu. Aku terbiasa kemana-mana jalan kaki saat kuliah karena tidak memiliki motor. Aku anak daerah dengan ekonomi terbatas yang terbiasa dengan ketidakmudahan dan ketidaknyamanan. Mas Angga tahu semua itu karena kami sudah saling mengenal sejak masa kuliah.

Dan tujuh bulan ini Pak Aryo berhasil mendidikku menjadi pekerja yang tangguh, ya maksudnya bisa bekerja di bawah tekanan, sanggup belajar hal baru walaupun dengan cara penuh drama. Jadi aku merasa siap menghadapi kerasnya Jakarta.

"Hubungan jarak jauh ini tidak mudah Yu dan aku tidak tega kamu bekerja di Jakarta."

Apa hanya aku yang merasa perkataan Mas Angga berbelit-belit. Iya hubungan LDR tidak mudah jadi untuk memudahkan salah satu dari kami harus mengalah agar bisa bersama kan? Aku yang mengalah meninggalkan kenyamanan dengan pindah ke Jakarta. Begitukan logikanya?

"Iya karena LDR tidak mudah aku bersedia pindah ke Jakarta Mas."

"Ya tapi....."Mas Angga menggantungkan kalimatnya.

Aku menunggu kelanjutannya, satu detik, dua detik, tiga detik. Kulihat Angga melempar pandangannya ke luar jendela.

"Tapi apa Mas?"

"Maaf Yu, aku sudah mengkhianati hubungan kita. Kupikir Jakarta terlalu keras untukmu."

Ya Tuhan kenapa harus menyalahkan Jakart? Alih-alih merasa sedih aku malah merasa ingin marah.

"Tidak usah menyalahkan Jakarta, akui saja kalau Mas Angga jatuh hati pada perempuan lain."

Kami saling menatap tapi bukan dengan rasa penuh rindu seperti pertemuan sebelumnya. Aku menatap dengan penuh amarah dan kecewa.

Hening. Keheningan yang panjang. Aku menahan diri untuk tidak menitikkan air mata walaupun mata terasa panas. Aku tidak mau terlihat cengeng dan kalah. Tidak, cinta tidak akan membuatku meratap. Apalagi meratapi seorang pembohong. 

Complicated BossTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang