Bab 27

1.5K 168 6
                                        

Untuk pembaca baru Rinoshin, yuk baca juga cerita Selaksa Rasa, sudah tamat.

Yang masih nungguin ending Aryo dan Ayu, berikut lanjutannya. Boleh tinggalkan jejak ya....


Aku dan Rara menginap di sebuah hotel di jalan Dago Bandung. Hotel dengan lobi berdinding kaca tembus pandang dan menghadap tepat jalan Dago yang dinaungi pohon besar di kanan kirinya. Pohon-pohon tua yang memberi kesan sebuah lanskap kota yang datang dari masa lalu. Jalan yang nampak indah jika lenggang dan biasanya terjadi di jam malam atau sebelum jam 6 pagi. Itu yang aku baca dari beberapa ulasan mengenai jalan ikonik di kota ini. Diulasan itu juga disarankan untuk tidak berlibur ke Bandung saat weekend. Liburan ke Bandung ini idenya Rara. Rara memilih Bandung, katanya karena dia belum pernah liburan ke daerah Jawa Barat dan dia ingin melihat gedung-gedung tua bersejarah peninggalan Belanda di Bandung. Rara ini memang agak aneh menurutku, hobinya mengunjungi dan memotret bangunan lama bersejarah dan tertarik dengan tema sejarah. Aku langsung mengiyakan karena yang kubutuhkan pergi ke mana saja agar tidak memikirkan rasa patah hati.

Aku dan Rara mengambil cuti hari Senin dan Selasa dan ternyata memang senyaman itu berlibur di saat weekday. Menyusuri tempat-tempat ikonik di Bandung dengan leluasa. Dari hotel kami berjalan kaki ke Braga. Rara memotret bangunan-bangunan tua yang ada di sana. Rehat di sebuah coffee shop sederhana lanjut menyusuri jalan Asia Afrika, tentunya sasaran Rara bangunan tua. Lanjut menyusuri kota Bandung dengan bus bandros. Bus yang dilengkapi guide yang akan menceritakan gedung-gedung dan jalan bersejarah yang kami lewati. Rara sibuk memotret gedung-gedung tua dan bersejarah yang dilewati. Aku tidak terlalu fokus dengan perjalanan ini karena hatiku masih di Yogya, masih teringat Pak Aryo. Kami kulineran di daerah pecinan kota Bandung dan tidak lupa membeli oleh-oleh. Yang membuat itineary liburan ini Rara, aku mengikuti saja. Kami kembali ke hotel hampir magrib. Setelah makan malam dan istirahat, jam 8 kami duduk di kursi trotoar depan hotel, menikmati malam dalam dinginnya udara kota Bandung. Lampu jalan sepanjang separator, bayangan pohon yang menangungi jalan, jalan yang lenggang, menciptakan suasana melankolis atau karena suasana hatiku yang melankolis. 

Salah satu foto gedung yang di foto Rara, hobi yang kurang aku pahami.

"Jadi mau curhat apa Yu?" tanya Rara sambil tertawa setelah meletakkan cup kopinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Jadi mau curhat apa Yu?" tanya Rara sambil tertawa setelah meletakkan cup kopinya.

Sebenarnya malu mengaku pada Rara kalau aku suka sama Pak Aryo karena pernah mengelak waktu dia bilang, jangan-jangan aku suka Pak Aryo karena sering membicarakannya jika kami bertemu. Tapi sekarang, harus mengakui agar perasaanku plong. Mulailah aku bercerita jika Pak Aryo tidak lagi bersikap ketus, mengoreksi pekerjaan tanpa terlihat kesal, tidak mengabaikan kehadiranku saat di meeting dan beberapa kali ngobrol di luar urusan kantor, bahkan diminta mengantarnya terapi. Aku tidak tahu sejak kapan jatuh hati pada Pak Aryo tapi sepertinya bertepuk sebelah tangan.

"Nah kan, sesuai dugaanku, kamu jatuh cinta sama Pak Aryo." Rara tertawa. "Mungkin kamu harus menunjukkan kalau kamu suka sama Pak Aryo, Yu. Memberi perhatian lebih gitu atau ngasih kode."

Aku menggeleng. "Selera Pak Aryo itu perempuan-perempuan seperti di drakor Ra. Aku pernah ke undangan dan ketemu mantannya Pak Aryo. Cantik banget Ra, kayak artis korea siapa gitu ya. Serasi deh kalau sama Pak Aryo."

"Ke undangan siapa? Kok bisa ketemu mantannya Pak Aryo?"

"Ke undangan Bosnya perusahaan rekanan Pak Aryo."

"Kamu ke undangan berdua Pak Aryo? Jangan - jangan Pak Aryo juga suka sama kamu Yu." Rara tertawa.

"Nggak berdua Ra, ada karyawan lain juga." Aku tidak mau dugaan Rara membuatku ge-er. "Bu Hardjo mau menjodohkan Pak Aryo dengan anak teman baik Pak Hardjo. Sepertinya aku harus pindah kerja Ra. Aku sudah nggak bisa fokus dan rasanya..." aku tidak melanjutkan kalimat karena jika kukatakan sedih, malu.

"Aku paham."

"Bayangkan Ra, dua atau tiga tahun mendatang, Pak Aryo sudah beristri dan memiliki anak, lalu sesekali, dengan seenaknya, Bu Hardjo atau Pak Aryo memintaku menyetiri anak istrinya. Apa nggak makan hati."

Rara tertawa, respon yang sangat tidak terduga, aku menatapnya keheranan.

"Yu, dua atau tiga tahun lagi mungkin kamu juga sudah move on atau mungkin sudah menikah. Dan kalau sudah nikah mana berani Bu Hardjo atau Pak Aryo minta disetirin kamu kesana-kemari. Sakitnya patah hati bakal hilang kok kalau kamu jatuh cinta lagi. Buktinya kamu udah bisa move on dari Angga," Rara tertawa.

"Itu beda Ra," aku membela diri. "Sebenarnya Mas Angga sudah putus sama aku sejak dia punya pacar baru tapi akunya aja baru sadar."

"Tetap terlalu kejauhan kalau membayangkan dua atau tiga tahun lagi. Aku mengerti kalau kamu sedih karena patah hati, tapi aku yakin kamu bisa mengatasinya Yu."

Lalu hening, aku sibuk dengan pikiranku. Sementara Rara terlihat menikmati malam ini, dia duduk santai menatap jalan di depannya, sesekali mendongkakkan wajah menatap langit. Cuaca malam ini memang cerah. Langit kelabu dengan titik-titik kerlip bintang jauh di sana.

Aku jadi berpikir, mungkin rencana Bu Hardjo sebenarnya mengangkatku jadi karyawan dengan gaji lumayan – di atas karyawan lain yang satu level, diharapkan tidak hanya bekerja tapi mengabdi. Aku bisa dimintai tolong apapun di luar pekerjaan kantor, ya seperti saat Bu Hardjo meminta mengantar Pak Aryo ke rumah sakit – karena Pak Aryo tidak bisa menyetir – kuduga kakinya belum kuat menginjak rem atau ngegas, menyetiri Bu Hardjo pulang ke Klaten. Tiba-tiba kata mengabdi jadi terasa mengerikan, karena asosiasiku langsung pada sikap manut apapun bantuan yang diminta Bu Hardjo dan keluarganya. Aku teringat dua kalimat yang diucapkan Bu Hardjo waktu itu,

Ibu percaya kamu bisa menggantikan Mita dan Pak Hendri mendampingi Aryo menjalankan perusahaan ini. Ibu percaya, kamu bisa seperti Bapakmu.

"Sepertinya aku akan mencari kerja di Jakarta Ra?" kataku memecah keheningan diantara kami. Aku sudah mulai mencari lowongan pekerjaan di Jakarta setelah Bu Hardjo menceritakan rencana perjodohan Pak Aryo.

"Aku mendukung aja Yu. Apapun keputusan kamu semoga yang terbaik. Memang tidak nyaman sekantor sama orang yang membuat kita patah hati walaupun aku yakin akhirnya kamu bisa move on." Rara menatapku dengan ekspresi prihatin."Tapi kenapa Jakarta? Dulu kan karena ada Angga, sekarang?"

"Ya mencoba aja berkarir di Jakarta, cari pengalaman baru," jawabku dengan tatapan menerawang, kembali membayangkan suasana pagi Jakarta seperti saat interview dulu. Kesibukan yang membuat excited dan rasanya aku bisa menaklukan kerasnya Jakarta.

"Tapi Yu, kalau dipikir-pikir, keputusan keluarga Pak Aryo menjodohkan Pak Aryo tepat, karena kondisi Pak Aryo membutuhkan pasangan yang saling kenal keluarganya jadi penyesuaiannya sama-sama mudah. Yang dibutuhkan Pak Aryo pasti bukan hanya seorang istri tapi support system termasuk dari keluarga besar."

Aku merenungi ucapan Rara. Ya pendapat Rara ada benarnya.

"Apa kamu pernah membayangkan juga, seandainya Pak Aryo punya perasaan yang sama dengan kamu, apa kamu siap dengan kondisi Pak Aryo seperti itu? Seusia kita kan kalau menjalin hubungan pasti nggak main-main tapi ada rencana serius - menikah."

Ya, aku pernah memikirkan dan rasanya siap. Tapi mungkin saja itu hanya kesiapan yang emosional karena saat orang jatuh cinta, merasa bisa melakukan apa saja demi cinta, seiring waktu, tidak semudah itu...

Sepertinya perjodohan Pak Aryo memang jalan yang terbaik. Aku menghela nafas, walaupun berat harus diterima bukan? Ternyata bertepuk sebelah tangan sama menyakitkannya dengan putus cinta. 

Complicated BossTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang