Jangan ragu kalau mau vote atau komen ya hehehe
Sejak makan siang dalam perjalanan ke Klaten, sikap Pak Aryo berubah jadi ramah. Dia akan membalas senyumku walaupun terlihat tidak ikhlas, sekedar basa-basi. Sikapnya tidak seketus sebelumnya. Kalau pekerjaanku ada yang salah dia mengoreksi tanpa menampakkan wajah merenggut atau decakan kesal. Dugaanku, Pak Aryo takut aku pindah kerja ke Jakarta sedangkan posisiku di sini walaupun staf administrasi lumayan penting. Aku sudah pandai mengolah dan menganalisa data, sudah bisa membuat format excel untuk sistem stok di gudang dan penjualan dengan bantuan Pak Radit, orang IT di kantor ini. Paham beberapa software statistik, keterampilan yang aku dapat dari kursus. Pak Aryo mengandalkan aku untuk membuat presentasi dan mempresentasikannya. Kemampuan bahasa Inggrisku yang bagus juga jadi nilai tambah walaupun ya logat bahasa Inggrisku tidak fasih, masih ada jejak logat jawanya.
Hubunganku dan Pak Aryo yang membaik ternyata berpengaruh pada kecepatan bangun pagi. Aku jadi bisa bangun pagi sesuai alarm, tidak perlu dibangunkan Ibu. Berangkat kerja lebih semangat. Mengikuti meeting mingguan dengan antusias, tidak lagi duduk paling ujung untuk menghindari tatapan Pak Aryo. Dan pagi ini, tidak biasanya aku bertemu Pak Aryo di parkiran, sepertinya karena aku datang kepagian. Jam masuk kantor delapan dan pulang lima dan Pak Aryo tidak pernah datang lebih dari jam 7 dan selalu pulang di atas jam 17.00.
"Selamat pagi, Pak," aku menyapa lebih dulu.
"Pagi Yu." Pak Aryo tersenyum tipis.
Kami berjalan bersisian. Dipangkuannya kulihat ada tas laptop dan tas bekal makan. Tangannya memijit-mijit tombol di lengan kursi roda agar kursi bergerak sesuai arah. Pak Aryo mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang yang digulung hingga siku. Rambut kelimisnya menguarkan wangi shampoo. Samar-samar aku bisa mencium wangi parfumnya. Dengan kondisi duduk di kursi roda pasti Pak Aryo perlu effort lebih agar tampil rapih dan datang lebih pagi ke kantor, butuh disiplin tinggi, tidak heran menjelang sore wajah Pak Aryo selalu nampak letih. Ya ampun kenapa aku sedetail itu memikirkannya? Aku buru-buru menghentikan lamunan.
"Berapa jam perjalanan dari rumah ke kantor?"
"Sekitar 25 menit."
"Jauh juga ya."
"Kalau sudah biasa nggak terasa sih Pak." Aku terbiasa kemana-mana naik motor jadi perjalanan 25 menit tidak terasa lama dan jauh.
"Nggak ngebut kan Yu?"
"Nggak Pak, malah saya takut kalau ngebut." Aku teringat cerita Pak Rahman tentang kegemaran Pak Aryo naik motor dulu.
"Iya nggak usah ngebut, lebih baik datang telat ke kantor daripada ngebut."
"Iya Pak." Kalau diingat-ingat selama 7 bulan bekerja di sini, ini kedua kalinya aku ngobrol basa-basi dengan Pak Aryo, yang pertama tentu saja saat kami makan siang bersama, rasanya lega dan menyenangkan melihat Pak Aryo tersenyum lepas dengan mata berbinar.
***
Aku menatap dengan takjub kain batik dengan motif bunga dan daun yang jalin menjalin berwarna krem dengan dasar berwarna putih dan kelir merah bata.
"Bagus banget, Yu. Beli di mana?" tanya Ibu, tangannya terjulur meraba kain batik yang masih terlipat rapih di tanganku.
"Dikasih teman Bu." Lebih tepatnya bosku, Pak Aryo. Kain batik yang diberikan untuk dipakai besok ke undangan bosnya Pak Andre yang menikahkan anaknya, katanya sekalian untuk mempromosikan batik buatan perusahaan kami.
"Pasti teman spesial kalau ngasih sebagus ini. Batik mahal ini Mba." Tangan Muti ikut terulur meraba kain batik.
"Besok mau dipake ke undangan, atasan yang cocok apa ya selain kebaya?" Aku meminta saran dan mengabaikan komentar Muti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Complicated Boss
ChickLitCerita dengan genre chicklit, komedi romantis. Romantika working girls, bukan drama cinta ala CEO. Waktu selalu punya cara membuat kejutan tak terduga, terutama dalam hal melibatkan perasaan..... Saat jatuh cinta dalam diam dan diam-diam. Sayangnya...
