Bab 14

1.5K 171 9
                                        

Terima kasih votenya.....


Interkom di mejaku berbunyi. Belum sempat mengucapkan selamat pagi, suara Pak Aryo sudah terdengar dari ujung sana, selalu seperti itu, seolah Pak Aryo takut kehabisan waktu jika mengucapkan salam,"Ayu bisa ke ruangan saya?"

Setelah mengetuk pintu aku masuk ke ruangannya tanpa tersenyum. Aku sudah bertekad untuk menghilangkan senyum basa-basi setiap menghadap atau bertemu Pak Aryo, dan menggantinya dengan mode serius dan datar. Bisa jadi senyumku di mata Pak Aryo nampak seperti cengengesan jadi membuatnya kesal. Aku inget komentar Muti, katanya aku terlalu murah senyum dan ramah.

Pak Aryo melihat kedatanganku sekilas lalu kembali ke laptop di hadapannya. Kulihat telapak tangannya masih memakai perban. Ekspresinya menampakkan kekesalan, bibir merengut, kening berkerut. Aku tidak mengharapkan ucapan terima kasih berlebihan karena telah menolongnya, tapi sedikit ramah apa salahnya? Atau dia takut keramahan menurunkan wibawanya sebagai bos?

"Tolong buatkan presentasi dari proposal yang barusan saya kirim lewat email. Untuk data budgetingnya ada di Pak Hendri. Bisa ya selesai sebelum jam makan siang. Kirim ke email saya dan cc ke email Pak Hendri."

"Baik Pak." Sebenarnya aku tidak baik-baik saja. Membuat presentasi dari bahan yang belum tentu aku pahami dan harus selesai dalam empat jam. Tapi tidak mungkin kan aku berkata,'tidak bisa Pak'.

"Silahkan dikerjakan."

"Baik." Aku beranjak dari kursi. Kalau sudah dikirimkan melalui email kan harusnya tidak perlu dipanggil ke sini, cukup ditelepon kalau dia kirim email proposal untuk bahan presentasi.

Setelah berdiskusi dengan Pak Hendri aku mulai membuat bahan presentasi. Membuat presentasi yang informatif, menarik dan meyakinkan klien tidak sekedar memindahkan data. Menyusun prolog yang menarik sebelum masuk pada penawaran. Dari Pak Hendri aku tahu bahan presentasi ini untuk dipresentasi besok pagi di depan seorang crazy rich sebagai proposal penawaran pembangunan apartemen mereka.

"Kok buat presentasinya mendadak Pak?"

"Sebenarnya sudah Bapak bikin tapi Pak Aryo ingin kamu juga buat, biar ada perbandingan sekalian kamu belajar."

Bagiku membuat presentasi lebih mudah daripada harus mengolah data. Saat kuliah dan mengajar aku terbiasa membuat bahan ajar dengan bentuk presentasi. Bedanya hanya di materi dan cara penyajian. Kalau bisa memilih, aku lebih suka membuat presentasi dibanding mengolah data.

Semenjak kursus aku mulai paham mengolah data statistik termasuk membuat grafik, mendapat nilai deviasi, tapi tetap suka merasa pusing setiap kali melihat data yang Pak Aryo kirimkan, kadang mendadak mulas. Aku pernah bilang ke Rara soal ini. "Kamu pasti nggak percaya Ra, aku tuh suka tiba-tiba mulas kalau mau mengolah data. Bahkan pernah aku mau muntah begitu selesai ngerjainnya."

Rara tertawa,"Aku percaya Yu. Ada kok memang orang yang trauma sama angka-hitungan. Makanya anak-anak kalau lagi belajar matematika jangan dibentak-bentak kalau udah trauma ya bisa seperti itu." Aku tidak ingat apa waktu kecil aku pernah dibentak-bentak saat belajar matematika yang pasti memang tidak suka pelajaran matematika dan berhitung. "Oh gitu ya? Aku pikir reaksiku yang lebay."

"Yu nggak istirahat makan siang." Bu Mita sudah berdiri di depan mejaku, mengepit dompet, Andini berdiri di sampingnya fokus dengan ponsel.

"Oh sudah jam makan siang ya." Aku melirik jam tangan. Ya ampun sudah jam 12. Tidak terasa sudah 3 jam aku menyusun bahan presentasi. "Belum selesai, Bu, ditunggu Pak Aryo." Aku menunjuk laptop.

"Mau nitip dibungkusin?"

"Boleh Bu, samain aja."

"Ibu mau makan nasi padang, kamu lauknya mau apa?"

Complicated BossTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang