Mau donk vote dan komennya.....
Aku memantau LinkedIn setiap saat, sama halnya dengan pesan wa, berharap ada respon dari perusahaan yang aku lamar. Rasanya seperti berburu dengan waktu. Ingin pindah secepatnya, sebelum kabar perjodohan atau pertunangan Pak Aryo diumumkan Bu Hardjo di kantor. Atau gosipnya disebar Pak Rahman. Sayangnya respon yang kutunggu belum ada. Lalu aku ingat nasehat dari guru agama waktu SMA, tentang meminta doa pada Ibu, karena doa ibu mustajab, cepat dikabulkan Gusti Allah.
Mencari waktu berbicara berdua dengan Ibu, tanpa khawatir Muti menguping itu agak sulit. Dari Senin hingga Jumat menghabiskan waktu di kantor, sampai rumah menjelang magrib, waktu berbincang dengan Ibu hanya malam hari dan saat itu Muti ada juga di rumah. Sabtu Minggu, Muti juga ada di rumah karena dia libur sekolah. Muti bukan saudara yang asik diajak curhat, karena komentar atau responnya lebih sering menyebalkan daripada menenangkan. Mulut Muti usil.
"Muti mana Bu?" tanyaku ketika sadar rumah terasa lenggang, tanpa musik yang disetel Muti atau obrolannya dengan Ibu. Ibu tengah memasang payet pada sebuah kebaya.
"Ke tempat les, katanya ada latihan apa ya itu, tbk atau ubk," jawab Ibu, menatapku sekilas lalu kembali fokus pada payet-payet di tangannya.
"UTBK Bu."
"Iya itulah."
Aku duduk di samping Ibu."Bu, Ayu mau cari kerja di Jakarta lagi ya."
Seketika aktivitas tangan Ibu yang tengah menjahitkan payet berhenti, dia menoleh ke arahku,"Angga yang minta?"
"Nggak, Ayu sudah nggak ada hubungan apa-apa sama Mas Angga. Hanya ingin cari punya pengalaman kerja di Jakarta."
"Memangnya di sini kenapa?" Ibu membetulkan letak kacamatanya yang merosot."Di sini kan sudah enak, deket, gaji juga lumayan. Ada masalah sama Bu Hardjo?"
"Nggak ada. Bu Hardjo baik, sikapnya sudah nggak seperti dulu."
"Ada masalah sama Mas Aryo?" pertanyaan yang membuat aku kaget.
"Kok Ibu tahu?" Aku menatap ibu heran. "Maksud aku, Ibu tahu sekarang Pak Aryo yang pegang perusahaan bukan Bu Hardjo?" ralatku. Dadaku berdebar aneh, khawatir Ibu bisa menduga, apa yang terjadi antara aku dan Pak Aryo, walaupun kemungkinan itu kecil.
"Tahu."
"Tahu dari mana?" Ini mengejutkan karena Ibu tidak pernah sekalipun membicarakan Pak Aryo. Sesekali Ibu pernah membicarakan Mba Ratna atau Mba Anti, misalnya waktu Mba Ratna melahirkan anak keduanya, Ibu cerita walaupun aku tidak bertanya.
"Bu Hardjo yang cerita waktu dia ke sini jahit baju." Bu Hardjo memang salah satu pelanggan Ibu yang paling loyal. Dia suka sengaja ke sini hanya untuk menjahit baju, katanya jahitan Ibu enak dipake, pas.
"Ibu tahu, kalau Pak Aryo, kecelakaan jadi..."aku menggantungkan kalimatku, rasanya tidak enak saja mengatakan Pak Aryo jadi memakai kursi roda.
"Iya Ibu tahu." Ibu rupanya bisa menebak pikiranku.
"Tahu dari mana?" Aku masih terheran-heran. Ibu terbiasa membicarakan keluarga Bu Hardjo tapi soal Pak Aryo, ya hampir tidak pernah.
"Mbok Anah pernah cerita." Harusnya aku sudah bisa menduga, mana tahan Mbok Anah menahan rahasia walaupun sebenarnya mungkin Bu Hardjo tidak ingin kecelakaan Pak Aryo jadi bahan pembicaraan.
"Kapan?"
"Udah lama, waktu Mas Aryo masih pengobatan di Singapore. Kamu ada masalah sama Mas Aryo di kantor?"
"Nggak." Cepat aku menggeleng. "Hanya mulai bosan aja kerja di sini, monoton, sudah nggak ada tantangan. Ingin mencoba jadi wanita karir." Aku senang dan menikmati bekerja tapi ide menjadi wanita karir muncul baru-baru ini, saat memutuskan mencari kerja di Jakarta karena Pak Aryo akan dijodohkan.
"Kapan Ibu terakhir ketemu Mbok Anah?" Jangan-jangan selama ini Ibu tahu jika aku pernah mengantar Pak Aryo terapi, diminta Bu Hardjo jadi supir ke acara keluarganya dan tahu aku ke undangan sama Pak Aryo, karena bisa jadi Pak Rahman yang setiap hari mengantar jemput Pak Aryo bertemu Mbok Anah dan menceritakannya. Mereka bisa mengira aku dan Pak Aryo ada hubungan apa-apa.
"Udah lama, Ibu lupa."
Aku berharap Ibu benar-benar tidak tahu jika selama ini aku sering dimintai tolong Pak Aryo dan Bu Hardjo.
"Ibu ridho kan kalau Ayu kerja di Jakarta?"
Setelah jeda cukup lama, Ibu menjawab,"Iya. Tapi Yu, jangan maksain kalau di sana nggak betah. Penghasilan itu yang penting berkah. Kerja itu harus senang hati biar badan sehat, hati senang dan tenang."
"Iya Bu."
"Ya kalau di sana nggak betah, di sini kamu bisa jadi guru lagi."
"Iya Bu, tapi jangan doain Ayu nggak betah."
"Iya yang terbaik aja. Kalau Ibu maunya kamu di sini saja, deket-deket, tapi Ibu nggak bisa maksa, kamu sudah dewasa, pilihan hidup kamu yang menentukan, cuma satu pesan Ibu, Yu, di manapun inget Gusti Allah."
Aku merengguh bahu Ibu, membisikkan kata terima kasih dengan mata berkaca-kaca. Hati kecilku pun ingin di sini, tak jauh dari Ibu, tapi mungkin ini saatnya aku belajar lebih mandiri, belajar bagaimana bisa berdiri tegak tanpa menyandar pada Ibu, belajar bisa menenangkan diri tanpa Ibu, belajar tidak tergantung pada Ibu, belajar agar bisa setegar Ibu dan tentu saja belajar bangun pagi tanpa dibangunkan Ibu.
***
"Ibu bilang, Mba mau lagi cari kerja di Jakarta ya?" tanya Muti saat kami sarapan. "Aku ikut ya kalau Mba pindahan ke Jakarta," lanjutnya dengan mata berbinar.
"Ehm." Aku mengiakan tanpa menoleh dan tanpa menghentikan aktivitas mengunyah.
"Mba, balikan lagi ya sama Mas Angga?" tanya Muti penuh rasa ingin tahu dan membuat aku sebal. Iya aku memang sebal dengan sikap Muti yang kepo.
"Nggak."
"Terus kenapa cari kerja di Jakarta?"
"Ya pengen aja." Sejujurnya, ada rasa cemas jika waktu itu akhirnya datang, waktu ketika lamaran kerja yang aku apply, diterima. Cemas karena khawatir ini itu. Jakarta yang begitu asing dan rasanya berjarak. Aku juga khawatir meninggalkan Ibu.
Tapi kemudian aku membayangkan, jika tetap di sini, berarti menyaksikan Pak Aryo menikah. Bukan tidak mungkin, saat Pak Aryo menikah, aku akan diminta Bu Hardjo membantu menyiapkan pernikahan Pak Aryo karena selama ini kan, dirinya yang kerap dimintai tolong Bu Hardjo. Membayangkannya saja menyakitkan apalagi melakoninya. Aku tergidik.
Jadi pilihan ke Jakarta adalah tepat, dan siapa tahu aku bertemu jodoh di sana.
"Aku juga kalau sudah lulus kuliah mau kerja di Jakarta." Muka Muti berseri-seri. Sepertinya antusiasme Muti untuk bekerja di Jakarta lebih besar dari aku sendiri.
"Kamu kerja di sini saja, kasian Ibu kalau kita berdua merantau."
Muti mendelik dengan bibir cemberut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Complicated Boss
ChickLitCerita dengan genre chicklit, komedi romantis. Romantika working girls, bukan drama cinta ala CEO. Waktu selalu punya cara membuat kejutan tak terduga, terutama dalam hal melibatkan perasaan..... Saat jatuh cinta dalam diam dan diam-diam. Sayangnya...
