Ada yang pernah jadiin bos bahan ghibahan? Pasti pernah
***
Sepulang kantor, aku dan Rara janjian bertemu di sebuah gerai kopi sederhana yang letaknya tengah-tengah antara kantorku dan rumah Rara. Rara yang mengusulkan ide ini karena jika ke rumahnya terlalu jauh. Setelah memesan kopi dan camilan aku langsung menyodorkan file yang dikoreksi Pak Aryo tadi. Aku mendengarkan penjelasan Rara, sesekali mencatat di buku notes yang sudah disiapkan. Dengan dibantu Rara bisa menyelesaikannya. Rara menyarankan membeli buku excel dan stastistik, juga menonton tutorial yang kini banyak di youtube.
"Aku sudah nonton youtube beberapa kali tapi kurang paham Ra. Kepalaku malah nambah pusing."
Berhitung, mengotak-ngatik angka bukan pelajaran yang aku sukai, tak heran pertemuan dengan Rara kali ini membuat kepala terasa berat. Tapi bertekad, harus bisa, untuk membuktikan jika bekerja di sini karena memang mampu. Kalau Bapak masih ada, pasti dia malu jika anaknya bekerja di perusahaan Bu Hardjo hanya karena namanya bukan karena kemampuan.
"Tapi sekarang agak pahamkan setelah aku jelaskan?"
"Iya, ada bayangan nggak terlalu blank tapi kalau diberi data lagi belum tentu ingat."
"Yu, memangnya pas melamar kerja kamu ngaku bisa mengolah data?"
"Ya nggaklah."
"Memang pas wawancara tidak dijelaskan job desknya apa?"
Aku menggeleng. Aku tidak bercerita pada Rara jika kerja di sini karena jalur orang dalam, tanpa wawancara, tanpa penjelasan job desk, hanya menduga pekerjaanku jadi admin di gudang.
"Kayaknya kamu harus ngambil kursus statistik excel, Yu kalau pekerjaanmu berhubungan dengan mengolah data, menganalisa data seperti ini."
"Memang ada ya, di mana?"
"Biasanya anak statistik semester akhir suka buka jasa itu atau buka jasa pengerjakan data statistik. Karena sifatnya kursus jadi mereka bisa menjelaskan dengan runut dari awal. Banyak juga sih kursus online, tinggal search aja di google."
"Aku mau kursus offline aja Ra, biar enak nanya-nanya kalau nggak ngerti. Mau ya kalau ada kontaknya. Tapi nggak mahal kan Ra."
"Aku kurang tahu soal biayanya tapi kalau pekerjaan kamu berhubungan dengan data kan harus bisa, masa setiap hari main petak umpet sama Bos atau minta bantuan Andini."
Aku memang bercerita pada Rara soal pekerjaan beberapa hari ini yang selalu dibantu Andini dan sore ini kabur.
"Iya kayaknya aku harus ambil kursus. Besok aku tunggu ya Ra, kontak orang yang bisa ngasih kursus."
"Iya, nanti aku tanya teman-teman di grup kuliah."
"Mau pesan apa?" aku menyodorkan lembaran menu."Aku traktir."
"Nggak usah Yu." Rara mengibaskan tangan.
"Please Ra, kamu sudah banyak menolang. Kalau nggak ada kamu kayaknya aku nyerah, langsung resign."
Rara tertawa, mungkin dia mengira aku bercanda dan hanya melebih-lebihkan, kenyataannya itu yang terlintas di pikiran setelah beberapa kali melakukan kesalahan yang sama dan Pak Aryo mulai meninggikan suaranya. Dia tidak memaki atau berkata kasar, tapi dari tatapan, caranya mengerutkan kening, dan berdecak, sudah cukup membuat nyaliku ciut dan merasa bodoh. Aku pasti nampak bodoh di depan Pak Aryo.
"Kadang bos kecil lebih galak dari bos besar, kamu ingatkan Bu Desi di sekolah, sok galak sama guru junior macam kita, kepala sekolah malah baik dan ramah."
Aku mencondongkan badan ke arah Rara, dan berkata dengan setengah berbisik, "Dia bukan bos kecil, Pak Aryo owner perusahaan ini."
"Oh. Kalau begitu kamu harus hati-hati Yu, bos kamu bisa kena stroke karena kamu keseringan membuat dia kesal. Dia sudah tuakan," seloroh Rara sambil tertawa.
"Masih muda, mungkin usianya 30 lebih dikit." Aku berkata setelah melirik ke kanan dan ke kiri, khawatir ghibahan soal Pak Aryo didengar orang yang aku kenal dan satu kantor.
"Wow, bujangan?" Mata Rara terbuka lebar, wajahnya berubah ekspresif. Aku memberi kode pada Rara untuk menurunkan volume suaranya. Ya walaupun tidak ada orang yang kukenal di ruangan ini, kan malu ghibahin bos.
"Ya ampun Yu, aku jadi membayangkan bos-bos muda, CEO, yang jadi tokoh di novel-novel romantis yang aku baca. Muda, kaya, pintar, ganteng dan tajir melintir. Kukira tidak ada yang sedekat ini dalam dunia nyata." Tatapan Rara menerawang, seulas senyum terukir di bibirnya.
"Dia bukan CEO Ra, direktur," ralatku.
"CEO sama direktur kan sama, Yu."
"Beda."
"Dia ganteng Yu? Ada fotonya? Lihat donk."
Aku memutar bola mata ke atas, masa iya menyimpan foto Pak Aryo. Buat apa coba. "Dih ngapain nyimpan foto bos."
"Ya siapa tahu, bos muda dan gantengkan cocok buat bahan ghibah karyawan muda. Belum menikah kan?"
Aku menggeleng."Dia belum menikah."
"Ganteng?" Rara mengulang pertanyaan soal kegantengan Pak Aryo.
Aku mengangkat bahu,"Biasa aja sih, wajahnya nggak enak dilihat, ketus dan masam. Dia memakai kursi roda."
"Oh." Mulut Rara terbuka membentuk huruf O dengan bola mata membulat.
Jika percakapan ini diibaratkan novel, maka endingnya plot twist. "Katanya dia kecelakaan."
Lalu hening, entah bagaimana aku merasa bersalah sudah menceritakan kekurangan Pak Aryo walaupun tidak menyukainya.
"Hidup memang nggak ada yang sempurna ya, banyak uang tajir melintir tapi gerakan terbatas. Keuangan kita pas-pas tapi bisa kesana-kemari dengan bebas." Rara memecah keheningan.
"Iya."
"Mungkin sebenarnya bos kamu tidak galak Yu, tapi karena stres jadi melampiaskan ke karyawan. Nggak mungkin nggak stres, dari normal jadi disabilitas, pasti beban mentalnya besar. Ditambah lagi stres pekerjaan."
"Tapi Ra, aku nggak pernah melihat Bu Mita, Andini atau Pak Hendri dimarahin, bahkan pernah nggak sengaja lihat, karena pintunya terbuka sedikit, Andini dan Pak Aryo ngobrol kayak diskusi gitu. Nggak nunjuk-nunjuk kertas atau layar laptop kayak ke aku."
"Karena mereka tidak membuat kesalahan dalam melakukan pekerjaannya."
Aku merenggut, dalam hati mengakui kemungkinan itu. "Aku nggak bodohkan Ra?"
"Nggaklah Yu, tapi kalau soal mengolah data, angka-angka, kamu agak tulalit," kata Rara sambil tertawa, aku ikut tertawa. Komentar Rara tidak membuat tersinggung, mungkin ada benarnya yang dikatakan Rara. Sejak di bangku sekolah aku memang tidak suka pelajaran matematika, perlu waktu untuk paham, berkebalikan dengan Muti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Complicated Boss
Chick-LitCerita dengan genre chicklit, komedi romantis. Romantika working girls, bukan drama cinta ala CEO. Waktu selalu punya cara membuat kejutan tak terduga, terutama dalam hal melibatkan perasaan..... Saat jatuh cinta dalam diam dan diam-diam. Sayangnya...
