34 - Berat

15 2 0
                                        

Suasana hangat begitu terasa menyelimuti kebersamaan keluarga kecil di rumah besar ini, Seno dengan kekasihnya dan Tuan Alexander bersama istrinya, tengah menikmati makan malam bersama, tidak banyak obrolan yang tercipta, semuanya memakan itu deng...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana hangat begitu terasa menyelimuti kebersamaan keluarga kecil di rumah besar ini, Seno dengan kekasihnya dan Tuan Alexander bersama istrinya, tengah menikmati makan malam bersama, tidak banyak obrolan yang tercipta, semuanya memakan itu dengan tenang.

"Telur balado ini sungguh lezat, hebat sekali mama membuatnya." Ucap sang pemilik rumah memuji istrinya.

"Itu Aga yang memasak yah." Balas istrinya.

"Benarkah, kamu pandai memasak ya nak, Seno tidak akan kelaparan kalau kamu pandai begini." Ucap pria itu sembari menatap Aga dan Seno bergantian dengan senyum jahilnya.

"Aga baru belajar, tidak sepandai itu." Ucap Aga sembari menunduk, menyembunyikan pipinya yang merona, sedangkan Seno tidak memedulikan ucapan ayahnya itu, pandai memasak atau tidak Seno tidak akan pernah menuntut kekasihnya. Jika memang tidak bisa, mereka bisa membeli makanan di luar dan kalaupun itu juga tidak bisa Seno bisa belajar memasak untuk kekasihnya ini.

Kebersamaan keluarga kecil itu di ruang makan berlalu begitu saja, semuanya telah berpindah tempat di ruang keluarga, menikmati acara film yang mereka tonton sembari mempererat hubungan antar pribadi, terlebih untuk Aga, laki-laki itu harus terbiasa dengan ini. Mereka tahu kondisi pemuda itu sedang tidak baik-baik saja entah itu di fisik atau dalamnya.

Mereka tertawa begantian menonton drama komedi yang sedang tayang, tidak ada canggung di antara mereka, bahkan si pemilik rumah ini juga tidak malu memerlihatkan kemesraannya di depan anak dan kekasih anaknya ini, semuanya dianggap berhak tahu karena mereka semua bukanlah orang asing lagi di rumah ini.

Menit dan jam berlalu degan cepat jika momen hangat seperti ini terjadi, entah mengapa rasanya seakan belum puas, namun ini sudah malam waktunya untuk mereka istirahat, dan lagi besok pagi-pagi sekali Seno harus bangun pagi untuk mengantar Aga pulang, itu memerlukan waktu yang lama. Sebelum Seno memasuki kamarnya, laki-laki itu di tahan oleh ayahnya, sepertinya pria itu ingin memberitahu sesuatu.

"Tadi ayahnya Aga mengirim pesan kepada ayah."

Seno masih diam menunggu kelanjutan kalimat itu.

"Dia bilang ingin bertemu dan berbicara denganmu." Begitu sambung ayahnya.

"Baiklah, besok sepulang Seno mengantar Aga, Seno akan menemuinya."

"Ada tempat dimana Tuan Askara ingin bertemu?." Tanya Seno.

"Tidak ada, temui saja di rumahnya."

Seno mengiyakan itu dan pamit menghampiri kekasihnya untuk diajaknya beristirahat.

♧♧♧

Dering bunyi alarm membangunkan pemuda manis yang tertidur lelap dalam pelukan kekasihnya, dengan susah payah laki-laki itu membuka matanya, sungguh rasa kantuknya masih melekat disana, namun ia harus segera bangun, ia melepas pelukan kekasihnya itu dan meyempatkan untuk mencium sekilas bibir kekasihnya. Morning kiss begitulah kata batinnya. Ia beranjak untuk membersihkan diri, ia tidak membangunkan kekasihnya, biarlah laki-laki itu mengistirahatkan tubuhnya lebih lama, lagipula ini masih terlalu pagi, mentari saja belum terbangun dari tempat tidurnya.

AGA ASKARA - Aku, Dia, dan KamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang