Bagaimana dengan cinta? Apakah semudah itu? Tidak mungkin!
Pemuda tampan yang bersembunyi di balik sikap polosnya, Aga namanya. Beberapa menganggap ia adalah anak yang baik, tapi apakah benar begitu? Masih ingat dengan pribahasa bahwa "air tenang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hei anak kecil, awas kamu ya."
"Jangan lari, aku akan mengejarmu."
Gelak tawa riang yang begitu bersemangat terdengar membahagiakan dari mulut si kecil itu. Ia sedang bermain kejar-kejaran dengan ayahnya, sungguh menyenangkan.
"Ayo kejar aku ayah."
"Diam di situ, ayah akan menangkapmu."
Pria yang dipanggil ayah itu berlari ke arah anaknya, mendekap tubuh kecil itu dan memelukny erat.
"Ayah curang, tadi Aga tidak diperbolehkan bergerak." Ucap sang anak dengan wajah masam dan bibir yang dimajukan.
Sungguh menggemaskan ekspresi itu tercetak pada wajah anak usia empat tahun ini. Ayahnya kemudian menggelitiki anaknya ini, dan si anak pun tertawa terbahak-bahak akan itu.
"Sudah ayah, ini geli." Ucapnya di sela tertawa.
Ayahnya itu menghentikan aksinya, dan menciumi putranya itu. Mereka bermain tidak jauh, hanya di pekarangan rumahnya yang begitu luas.
"Aga ayo mandi." Ucap seorang wanita dengan berteriak dari ambang pintu rumahnya.
Ayah dan anak yang mendengar itu segera mengalihkan atensinya kepada perempuan cantik disana. Dan yang lebih tua itu meraih tubuh anaknya dan menggendongnya di atas pundaknya. Berjelana memdekat ke arah wanita yang memanggilnya.
"Mama marah-marah terus ya ayah." Ucap si anak yang berada di atas pundaknya itu.
"Awas ya kamu, nanti ayah bilang ke mama mu supaya kamu dimarahi." Ucap ayahnya menanggapi.
"Iiih.. ayah juga sama jahatnya." Ayahnya sontak tertawa mendengar ucapan putra kecilnya ini.
Anak kecil yang tadinya berada di atas pundak ayahnya kini beralih ke dalam gendongan sang ibu. Ini sudah sore, saatnya untuk si kecil ini mandi. Selepas mandi anak itu menghampiri ayahnya lagi yang berada di ruang televisi, semerbak harum khas balita menguar dalam ruangan itu.
"Ayah lihat, Aga sudah mandi, Aga sudah harum."
"Anak ayah tampan sekali." Ucap laki-laki itu yang meraih anaknya dan memangku si kecil itu.
Mereka kembali tertawa bersama, bercanda bersama, seakan semua kebahagiaan ini tidak akan pernah berlalu. Namun tak disangka semua itu hanyalah kenangan, semua hanya ingatan yang kerap berputar pada laki-laki yang sudah tidak berusia muda ini. Ia merindukan putra kecilnya.
Pria paruh baya itu keluar dari kamarnya, berjalan menuruni tangga, dan melangkah menuju ruang keluarga. Ini adalah hari Sabtu, hari yang menjadi kesukaannya saat ini, karena di hari ini, putra kecilnya yang selalu ia rindukan itu berada di rumahnya.
Ia berjalan mendekat, menghampiri sosok pemuda yang tengah memandangi acara televisi. Ia berhenti sejenak, memandang anaknya yang kini sudah tidak kanak-kanak lagi, anaknya sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang sangat teguh dengan pendiriannya. Jika ditelisik lebih dalam pria itu menyadari kalau anaknya ini memiliki sifat sama persis dengannya, keras kepala, gigih, tidak pantang menyerah, dan tangguh. Namun satu hal yang tidak ia miliki tapi dimiliki oleh anaknya, keberanian, anaknya ini sungguh berani, ia berani dalam segala hal, termasuk menentang semesta.