"Minimal kalau ngechat perkenalan dulu, biar gue tau lo, siapa?!" celutuk seorang gadis, kemudian meletakkan ponselnya dengan asal di samping laptop yang menyala di depannya. Ia baru saja mendapatkan pesan dari nomor asing. Entah siapakah orang itu, yang jelas kini ia tidak peduli.
Fokus dan pandangan Aldara kini kembali tertuju pada layar laptop yang menyala di depannya. Dengan suara jari yang menyentuh papan ketik yang tiada henti terus menimbulkan bunyi, bersamaan dengan berbagai kata telah tertulis banyak pada layar putih di depannya.
"Udah bener belum ya?" tanya Aldara entah pada siapa. Karena malam ini ia libur bekerja, maka ia menghabiskan waktunya di salah satu cafe untuk mengerjakan skripsinya.
"Ah, nggak perlu sempurna. Yang penting selesai," ujar Aldara tersenyum bangga. Kalau ia menuntut pengerjaannya begitu sempurna, kapan akan selesai nantinya. Setengah jalan begini saja sudah cukup memusingkan.
Aldara merentangkan tangannya kedepan, meregangkan otot-ototnya yang kaku selama duduk dengan hanya fokus mengetik sedari tadi. Tapi tidak lama kemudian.
Drrt Drrrrttt
Ponsel Aldara di atas meja bergetar menandakan ada pesan masuk. Aldara pun langsung mengambil ponselnya dan membuka, barangkali itu adalah pesan dari Aldo yang menyuruhnya pulang, karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Selama itu ternyata Aldara berkutat dengan skripsinya.
"Ni orang siapa sih?" heran Aldara, yang mengiriminya adalah nomor yang sama dengan yang mengiriminya pesan beberapa saat yang lalu.
"Aneh," celutuk Aldara tidak peduli.
Aldara meletakkan ponselnya asal, tidak ingin dijadikan bahan gabut lagi seperti yang sebelum-sebelumnya. Tiba-tiba dapat dm dan berakhir malah tidak mendapat balasan apa-apa. Seandainya Aldara tahu, mungkin ia tidak akan mau membalasnya waktu itu.
"Udah larut, mau sampai kapan di sini mulu?" suara bariton tiba-tiba masuk ke gendang telinga, yang membuat Aldara reflek memalingkan kepalanya ke belakang.
Alis Aldara mengerut bingung, apakah pria ini tengah berbicara padanya atau ditujukan untuk orang lain. Aldara pun kembali melihat ke depan, lebih tepatnya meja bagian depan. Tapi baru saja orang yang duduk di sana pergi.
"Gue?" tanya Aldara menunjuk dirinya. Pandangannya tak luput dari orang ini yang kini tengah berjalan santai dari belakang nya menuju depan, dan kini menarik kursi di depan Aldara.
"Siapa lagi," balasnya sambil mendudukkan bokongnya di kursi, di depan Aldara dan mereka berdua di meja yang sama sekarang.
"Hah?" bingung Aldara tidak mengerti. Ada perihal apa pria ini kemari dan tanpa permisi langsung duduk begitu saja di depannya. "Lo siapa?" tanya Aldara.
"Masa lo nggak kenal gue?" tanyanya balik, yang kini duduk santai di kursi dengan kedua tangan masuk ke dalam saku hoodie yang dikenakannya.
Sepertinya Aldara bertanya tanpa berpikir. Ia sebenarnya tahu siapa orang yang kini berada di depannya. Aldara tentu mengenalinya. Bagaimana Aldara tidak mengenali, jelas-jelas orang ini rajin berkunjung ke café tempat Aldara bekerja, dan beberapa hari yang lalu orang ini yang memprotesinya karena salah di beri minuman.
Yap, betul sekali, yang duduk di depan Aldara sekarang ini adalah Jeraldo.
"Maksud gue, lo ngapain ke sini?" tanya Aldara lagi.
"Mau jemput lo pulang."
"Hah? Ngapain jemput gue?" Aldara semakin bingung, datang tiba-tiba dan mengatakan ingin menjemputnya. Mereka bahkan tidak saling mengenal sejauh itu, apalagi tiba-tiba datang menjemput. Apakah sebenarnya pria ini driver gojek, tapi Aldara belum ada memesan gojek sedari tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomanceIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
