5. Love you

491 44 7
                                        

Jeraldo tidak berhenti tersenyum sambil terus menyetir mobilnya melaju membelah jalanan kota. Meskipun hari sudah semakin gelap, tapi suasana hati Jeraldo sekarang seterang mentari pagi.

"Ni mau kemana?" tanya Aldara, yang kini duduk di kursi penumpang samping Jeraldo.

Inilah yang menjadi penyebab Jeraldo terus tersenyum tanpa henti sedari tadi, karena selepas perdebatan di depan café tadi, akhirnya ia bisa membawa Aldara bersamanya.

Jeraldo menatap sekilas Aldara di sampingnya. "Temenin gue cari makan dulu,"

"Lo kan tadi dari café, lo nggak kenyang apa?" tanya Aldara lagi.

Alasan ia sekarang berada di dalam mobil ini sebagai bentuk terimakasihnya, karena kemarin malam itu Jeraldo mengantarkannya pulang, dan untuk menjaga image baik Aldo juga. Jadi Aldara menuruti maunya Jeraldo untuk mengantarkannya lagi pulang hari ini sesuai permintaan Jeraldo. Aneh memang, tapi Aldara tidak memusingkannya untuk sekarang. Sedari awal menurut Aldara, Jeraldo itu sudah aneh.

"Belum," jawab Jeraldo.

Mobil Jeraldo berbelok masuk ke salah satu restoran seafood favoritnya. Ia ingin makan di sini, dan tentu bersama dengan Aldara.

Jeraldo melepas seat bealt­-nya. "Ayo, kita turun dulu," ajak Jeraldo, kemudian menatap Aldara di sampingnya.

Aldara menggelengkan kepalanya. "Kak Jeral aja, gue tunggu di sini." Aldara hanya ingin cepat sampai rumah sekarang, bukan malah mampir seperti ini.

"Kita makan dulu, baru gue anter pulang," ucap Jeraldo sambil terus menatap Aldara. "Setelah kita makan, gue beneran bakal langsung anter lo pulang."

Niat sebenarnya Jeraldo tadi memang ingin langsung mengantar Aldara pulang kerumah. Tapi mengingat mood Aldara yang jelek. Ia mengurungkan niatnya, setidaknya ia harus merubah mood gadis ini dulu menjadi lebih baik. Menurut informasi yang ia search dadakan tadi, mood perempuan pms akan bisa membaik jika memakan makanan yang enak dan manis.

Restoran seafood ini jadi pilihan Jeraldo, karena selain main course-nya yang terkenal enak, dessert di restoran ini pun tak kalah enaknya juga. Bisa terlihat jelas dengan keadaan restoran yang begitu ramai saat ini.

"Ikat rambut gue mana sih?" gerutu Aldara. Mengubek-ubek isi tas nya mencari sesuatu. "Mana topi gue tinggal juga lagi di loker tadi."

"Ikat rambutnya nggak ada?" tanya Jeraldo. Sedari tadi Aldara sibuk dengan isi tasnya mencari karet kecil untuk mengikat rambutnya yang kini tergerai. Karena menurutnya sekarang rambutnya itu tengah berantakan, jadi ia ingin mengikatnya, atau tidak biasa Aldara menutupinya dengan topi. Tapi dua benda itu malah tidak ada sekarang.

"Nggak tau, jatoh kayanya di café tadi," jawab Aldara.

"Mau pake topi?" tanya Jeraldo lagi, tapi Aldara tidak menjawab, masih terus berusaha mencari ikat rambutnya di dalam tas, siapa tau tersembunyi dari balik benda-benda lainnya yang juga berada di dalam tas Aldra.

Melihat Aldara yang masih sibuk dan mengabaikannya, Jeraldo memutar sedikit tubuhnya ke arah belakang, mencari sesuatu, kemudian tangannya terulur ke kursi belakang untuk mengambil sesuatu. Benda yang selalu ada di setiap mobil Jeraldo. "Nah dapat."

"Nih pakai" usul Jeraldo, memberikan sebuah topi berwarna hitam ke Aldara.

"Eh, ngga-

"Pakai aja," Jeraldo memotong ucapan Aldara, dan kini tanpa permisi memasangkan topi hitam itu ke kepala Aldara.

Aldara terdiam dengan yang dilakukan Jeraldo barusan. Kini topi itu sudah melekat sempurna di kepalanya.

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang