21. Morning Kiss

713 35 0
                                        


Hari-hari Aldara belakangan ini terasa berbeda. Aktivitasnya lebih banyak dihabiskan di rumah untuk mengerjakan skripsi, tanpa rutinitas shift pagi yang berganti malam. Ia tinggal di rumah besar ini bersama Jeraldo, suaminya. Ketika Jeraldo pergi ke kantor, hanya tinggal Aldara yang sendirian di rumah, menunggu Jeraldo pulang, ditemani oleh Shiro, kucing berbulu putih lebat kesayangannya. Namun, hari ini Shiro tidak ada di rumah karena sedang dijadwalkan untuk grooming rutin. Aldara baru tahu bahwa Jeraldo begitu teliti dan rajin merawat peliharaannya.

Sejak pagi, Aldara merasa bosan. Siang tadi, Jeraldo sempat mengabari bahwa ia akan lembur karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor. Mereka sempat bertukar pesan beberapa saat lalu.

Jeraldo

Jangan lupa kunci pintu rumah ya, Sayang.

Martabaknya red velvet, kan?

Aldara: Iyaa

Setelah membalas pesan dari Jeraldo, Aldara segera bangkit dari kasur, bersiap turun ke lantai bawah untuk mengunci pintu sesuai pesan suaminya. Namun, baru saja kedua kakinya berpijak di lantai, tiba-tiba seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari layar ponselnya.

"Mati lampu?" gumam Aldara, bingung. "Baru juga mau turun ke bawah," lanjutnya dengan nada lesu. Ia melihat sekeliling, mencoba menyesuaikan matanya dengan kegelapan yang pekat. Satu-satunya sumber cahaya adalah ponselnya yang kini menjadi penerang sementara. Keinginan untuk menelpon Jeraldo muncul, tapi ia tahu suaminya sedang dalam rapat penting, pesan terakhirnya saja belum dibalas. Dengan cepat, Aldara mencari nama Karin di kontak ponselnya dan mencoba menghubunginya. Sayangnya, setelah tiga kali mencoba, panggilannya tetap tidak tersambung. "Sial," gumamnya, merasa frustrasi. Kegelapan yang menyelimuti rumah membuatnya merasa semakin kecil dan sendirian. Ia teringat bahwa ia harus mengunci pintu seperti yang diminta Jeraldo, meski rasa takut mulai merayapi pikirannya.

Sebagai penghuni baru di rumah ini, Aldara mencoba memberanikan diri. Meskipun hatinya berdebar-debar dan bayangan buruk mulai melintas di pikirannya, ia tahu bahwa ia harus menghadapi ketakutannya. Dengan langkah yang pelan namun tegas, ia berjalan keluar dari kamar, menggunakan blitz ponsel sebagai penerangan. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat, seolah-olah ada yang menahan. Suara sendal rumah yang bepijak pada keramik membuat suasana semakin mencekam. Aldara berusaha menenangkan diri, menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. "Nggakpapa, cuman mati lampu," bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang bergetar.

Ketika sampai di lantai bawah, Aldara melihat bayangan pintu yang setengah terbuka. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat, namun segera diingatkan kembali pada pesan Jeraldo. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengunci pintu, memastikan semuanya aman. Ketika bunyi klik terdengar, rasa lega sedikit demi sedikit mengisi hatinya. Kegelapan memang masih mengelilinginya, namun Aldara merasa sedikit lebih kuat.

Pelan-pelan, Aldara berjalan kembali, sebelum menuju ke kamar ia berbelok menuju dapur. Meskipun kegelapan tetap ada, hatinya terasa lebih terang. Sesampainya di dapur, sejenak Aldara menarik napas dalam-dalam dan menghela napas panjang, merasa bangga dengan keberaniannya sendiri. Kegelapan kini bukan lagi musuh yang menakutkan, melainkan sahabat yang mengajarkan keberanian. Sekarang ia haus dan butuh menyegarkan tenggorokannya.

"Yahh kok mati!?" Aldara kaget ketika blitz ponselnya tiba-tiba padam. "Aaaaaa," rengeknya pelan saat menyadari ponselnya benar-benar mati. Baterainya habis. Timing yang benar-benar tidak tepat. Aldara kini terjebak di dapur dalam gelap gulita, tanpa penerangan sama sekali. Sambil meraba-raba sekitar, tangannya menyentuh benda keras yang ia yakini adalah meja. Ia melangkah lebih maju, berharap menemukan kulkas. "Rumah gede ternyata kalau gelap malah menyeramkan, anjir," gerutu Aldara, merasa cemas. Di kegelapan yang pekat ini, bayangannya sendiri tampak mencekam. Perlahan tapi pasti, Aldara mendengar suara langkah kaki di kejauhan. Suara itu semakin lama semakin mendekat.

Jeraldo-AldaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang