Malam itu, Aldara duduk di tepi ranjang, kembali memegang iPad hitam di tangannya sembari menunggu Jeraldo selesai dengan acara mandinya. Tapi pikirannya tidak ada di film-film yang semula ingin ia tonton. Pandangannya menerawang kosong ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Di meja kerja Jeraldo, kemarin ia menemukan map berisi foto dan rekaman CCTV yang tak asing lagi baginya. Mobil itu, dan lokasi yang kejadian. Perasaan tidak nyaman mulai menguasai dirinya. Jantungnya berdetak lebih cepat, namun kepalanya seolah berusaha menenangkan diri, mencoba mencari alasan lain.
Apa benar Jeraldo menyembunyikan sesuatu? Apa benar suaminya itu ada kaitannya dengan kecelakaan ibunya? Aldara menggigit bibir bawahnya, matanya mulai memanas. Ia menunduk, meremas ujung selimut yang melapisi ranjang mereka. Pikiran buruk terus mengusiknya, meski ia ingin percaya bahwa Jeraldo adalah pria baik yang tulus mencintainya. Namun, bukti yang ia lihat tadi tak bisa diabaikan begitu saja.
Jeraldo masih berada di kamar mandi, suara air yang mengalir terdengar samar. Aldara merasa waktu melambat. Setiap detik terasa berat. Pikiran itu, seperti ombak yang semakin besar, tak henti-hentinya menghantam kesadarannya. Suaminya, pria yang selalu bersikap lembut dan penuh perhatian, tiba-tiba terasa asing di matanya. Ini semua terlalu kebetulan. Bagaimana mungkin mobil yang sama dengan pelaku kecelakaan Hani adalah mobil yang sering Aldara tumpangi.
Aldara menghela napas berat, berusaha keras untuk tidak terbawa emosi. Ia mencoba menenangkan dirinya, memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Mungkin itu hanya bukti dari kasus lain yang sedang Jeraldo selidiki, mungkin itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan kecelakaan ibunya. Namun, pikirannya tetap berontak. Semua perasaan itu berkecamuk dalam dirinya, membuatnya semakin sulit untuk tetap tenang. Ia menoleh sekilas ke arah pintu kamar mandi. Suara air masih mengalir, dan itu memberinya sedikit waktu untuk merenung lebih dalam.
Aldara lagi-lagi dibuat tenggelam dalam pikirannya sendiri, mengingat bagaimana semuanya dimulai. Pertemuan pertama mereka terasa seperti mimpi. Sebagai anak dari dua keluarga besar, perjodohan antara Aldara dan Jeraldo memang diatur. Ia tidak punya banyak pilihan saat itu, meskipun hatinya sempat memberontak. Tapi Jeraldo—Jeraldo datang dengan pesona yang berbeda. Senyumnya, perhatiannya, cara dia selalu mendengarkan dengan seksama—semuanya membuat Aldara perlahan-lahan luluh. Perjodohan yang awalnya terkesan paksaan, tiba-tiba berubah menjadi hubungan yang nyaman dan penuh cinta. Atau setidaknya, begitulah yang Aldara pikirkan.
Malam-malam pertama setelah mereka menikah, Jeraldo selalu menunjukkan rasa cinta yang mendalam. Pria penuh kasih, selalu mendahulukan Aldara, dan tak pernah membiarkan Aldara merasa sendirian. Di sisi lain, Aldara merasa ada yang aneh. Perjodohan ini terlalu sempurna. Semuanya berjalan lancar, seakan tanpa masalah. Bahkan Jeraldo, dengan segala kesempurnaannya, tidak pernah mempertanyakan masa lalu Aldara, atau hubungan keluarganya dengan orang lain.
Saat itu, Aldara menganggap Jeraldo hanya ingin membuatnya nyaman. Namun, sekarang... Sekarang semua kenangan itu mulai terasa berbeda. Apakah Jeraldo sejak awal menyembunyikan sesuatu? Apakah perhatian dan kebaikannya hanyalah topeng untuk menyembunyikan hal yang lebih besar?
Aldara mencoba mengingat lagi, saat-saat ketika topik kecelakaan ibunya terangkat dalam percakapan. Ada kalanya Jeraldo tampak enggan berbicara lebih jauh tentang hal itu. Akan tetapi raut wajahnya terkadang penuh antusias seolah ingin membantu dan menuntaskannya demi Aldara.
Aldara merasakan dadanya semakin sesak. Setiap pikiran, setiap kenangan, setiap interaksi mereka kini terasa seperti teka-teki yang harus ia pecahkan. Tangannya meremas ujung selimut dengan lebih erat, sementara pikirannya terus berputar. Mungkinkah Jeraldo benar-benar terlibat?
Perasaan cinta dan curiga berkecamuk dalam dirinya. Di satu sisi, Aldara ingin percaya bahwa Jeraldo mencintainya dengan tulus, bahwa pernikahan mereka didasarkan pada cinta, bukan kepentingan atau rahasia kelam. Namun, di sisi lain, Aldara tidak bisa mengabaikan bukti yang ada di hadapannya. Bukti yang mengarah pada satu kesimpulan yang menakutkan. Tangan Aldara bergetar. Ia menunduk, menatap lantai dengan pandangan kosong. Pikiran buruk terus menyerangnya. Mungkinkah Jeraldo berperan dalam kecelakaan itu? Mungkinkah perjodohan mereka hanyalah cara untuk menutupi kenyataan pahit tersebut?
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomansaIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
