Tepat jam delapan kurang, Aldara sudah berada di kampus dengan diantar oleh Jeraldo. Sesuai perkataan pria itu, Jeraldo berada di rumah Aldara pagi-pagi sekali, untuk menghindari kemacetan. Sekarang sudah hampir dua jam lamanya Aldara melakukan kegiatan konsulnya dengan dosen tercinta agar skiripsinya ini bisa selesai secepatnya. Akan tetapi, hingga saat ini pun tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Berkali-kali Aldara menahan rasa kantuk, terbukti dengan matanya yang sedikit berair dan menahan agar tidak menguap. "Kak Jeral masih di parkiran nggak, ya?" batin Aldara bertanya entah pada siapa. Karena sebelum dirinya masuk ke area kampus, Jeraldo kekeuh untuk menunggu Aldara di parkiran. Ini sudah dua jam lamanya, Aldara tidak yakin Jeraldo masih berada di sana. Aldara menyambar ponsel di atas meja tepat di depannya yang ia pergunakan untuk merekam konsultasi dari dosennya. Jari lentiknya bergerak dengan lincah di atas layar, mengirimkan pesan pada seseorang.
Tidak sampai satu menit lamanya, balasan sudah langsung tertera di notifikasi Aldara bersamaan dengan dosen di depan pamit undur diri menyudahi acara konsultasi hari ini. Aldara menghembuskan nafas leganya, akhirnya sesi konsul hari ini berakhir juga. Tanpa berlama-lama, Aldara bergegas keluar dari ruangan setelah dosen pastinya, berjalan menuju parkiran fakultas hukum di mana mobil Jeraldo terparkir rapi di sana.
***
"Gue lama, ya?" tanya Aldara yang baru saja masuk ke dalam mobil. Mendapati Jeraldo yang asik bermain dengan ponselnya.
Jeraldo seketika menghentikan aktivitasnya, dan menaruh ponselnya ke dalam saku. Memfokuskan semua atensinya pada Aldara. "Nggak," jawab Jeraldo.
"Sorry, ya. Lo pasti bosen nungguin. Padahal kalau lo mau keluar juga nggakpapa, kan tadi gue udah bilang juga bisa naik gojek aja pulangnya," jelas Aldara. Mengingat perdebatan kecil antara dirinya dengan Jeraldo perihal kegigihan Jeraldo yang mau menunggu Aldara di dalam mobil hingga Aldara selesai kolsul.
"Aman, Ra," balas Jeraldo.
Aldara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan. Acara konsultasi ke dosen pembimbing skripsinya juga sudah selesai, saatnya pulang menuju rumah. Aldara beralih menatap Jeraldo di sampingnya, beberapa saat memunculkan kerutan di dahi Aldara, merasa ada sesuatu yang aneh pada Jeraldo.
"Kak Jeral," panggil Aldara, yang dinalas deheman singkat dari Jeraldo. "Muka lo pucet. Lo sakit, ya?"
"Gue lupa pake lipstick," jawab Jeraldo begitu santai. Membuat desahan kecil keluar dari bibir Aldara. Aldara masih terus memperhatikan Jeraldo, tatapannya tidak salah, Jeraldo memang terlihat pucat sekarang ini.
"Lo kenapa?" tanya Aldara.
"Gue bilang belum pake lip...."
"Bisa serius dulu nggak, sih?" potong Aldara, dengan nada tak suka. Dirinya tengah serius sedangkan Jeraldo masih terus bercanda. Perlahan Jeraldo mengembangkan senyumnya sambil balik menatap Aldara di samping dan berkata.
"Gue nggakpapa. Asal lambung gue naik dikit," jawab Jeraldo dengan jujur, tidak ingin membuat Aldara khawatir.
"Lo nggak sarapan tadi?"
"Lupa," jawab Jeraldo dengan cengirannya.
Aldara lagi-lagi menghembuskan nafas pelannya. "Gue beneran nggakpapa," ucap Jeraldo. Hal ini tidak seberapa baginya, tinggal meminum obat dan sarapan biasanya akan kembali normal lagi.
"Bisa-bisanya lo nggak sarapan. Kenapa nggak bilang dari awal, tau gitu lo bisa sarapan dulu baru nganter gue ke kampus," cercah Aldara seperti sedang mengomeli anak kecil. "Kita pulang, cari sarapan sekarang," lanjutnya sambil melihat ke arah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit. Ini bukan waktunya sarapan lagi, tapi jam istirahat anak-anak sekolah. "Lain kali, tuh, jangan nggak sarapan. Sarapan itu wajib! Asam lambung lo jadi naik begini, kan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomanceIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
