Aldara bergegas keluar dari rumah untuk menemui Jeraldo selepas sambungan telepon tadi. Aldara keluar rumah dengan penuh tanda tanya, ada apa gerangan pri itu tiba-tiba datang ke rumah Aldara malam-malam begini.
"Ngapain lo?" tanya Aldara pada Jeraldo yang kini sudah berdiri menyender di samping pintu mobilnya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku hoodie bagian depan. Pria ini dengan setelan santai, celana pendek selutut dan hoodie hitam dengan kupluk yang dibiarkan tak terpasang. Aldara jarang mendapati Jeraldo dengan penampilan seperti ini. Biasanya ia akan melihat pria ini dengan setelan jas lengkap.
Jeraldo tersenyum kala melihat Aldara kini sudah datang menghampirinya. "Gue kangen," jawab Jeraldo.
Aldara yang mendengar itu membulatkan kelopak matanya, bahkan bibirnya kini tidak mengatup dengan rapat alias terbuka. "H-hah?" Aldara bingung.
"Hah, mulu," ucap Jeraldo. Kemudian berbalik membuka pintu mobilnya, mengambil sesuatu.
"Nih," Jeraldo menyerahkan bungkusan plastik putih berukuran sedang pada Aldara.
"Ini apaan?" bingung Aldara lagi. Kedatangan Jeraldo yang tiba-tiba begini saja sudah membuat tanda tanya besar di kepalanya, sekarang malah memberikan plastik yang entah apa isinya. Membuat Aldara mengeryitkan alisnya, menatap lawan bicara menuntut agar diberi jawaban.
"Buat, lo," jawab Jeraldo kembali menjulurkan plastik putih itu.
"Buat gue?"
"Iya, Aldara,"
Dengan penuh keraguan, akhirnya Aldara menerima plastik putih itu. "Boleh gue buka?" tanya Aldara sambil menatap polos ke Jeraldo di depannya.
Jeraldo mengangguk-angguk. "Buka aja."
Aldara pun mengintip isi plastik itu. Iris netra Aldara berbinar kala menangkap benda apa yang ada di dalam plastik ini. "Es krim," ucap Aldara. Detik berikutnya ketiak tersadar, Aldara segera merubah raut wajanya kembali seperti semula, dan menatap Jeraldo.
"Vanilla, kan?" tanya Jeraldo. Bukan mengarah pada pertanyaan, kalimat Jeraldo terdengar seperti sebuah pernyataan. Aldara langsung mengerti, karena di dalam plastik ini berisikan es krim rasa vanilla, Aldara tidak mungkin salah.
Ah, sepertinya Aldara sadar akan sesuatu. Beberapa minggu yang lalu, saat Jeraldo mengantarkannya pulang. Bukankah pria ini meminta Aldara untuk memilih salah satu dari tiga pilihan yang ada, dan berakhir Aldara memilih vanilla. Tunggu, apakah maksud Jeraldo mengarah ke sini. Apakah dulu itu untuk menanyakan rasa favorit Aldara, hingga sekarang tiba-tiba membawakan es krim rasa vanilla.
"Dalam rangka apa ngasi gue es krim, malam-malam begini?" tanya Aldara penuh selidik, bahkan kini memicingkan kedua matanya. Tidak ingin ge-er, siapa tau Jeraldo punya niat melenceng dari es krim ini.
Jeraldo menarik lengan hoodie-nya hingga naik ke seperempat lengannya. Kemudian menyilangkan tangannya di depan dada. "Kan gue tadi udah bilang. Gue kangen," jawab Jeraldo.
Aldara lagi-lagi mengerutkan keningnya, bingung dengan Jeraldo yang sangat suka tiba-tiba dan tidak tertebak ini. Apalagi jawabannya, Aldara sama sekali tidak pernah mendapatkan jawaban normal pada umumnya dari pria ini. Ahh, sepertinya Aldara melewatkan sesuatu. Jeraldo kan sedari awal ia cap sebagai pria aneh. Jadi Aldara berharap apa soal Jeraldo. "Lo, tuh, aneh," ujar Aldara. Menyerahkan kembali plastik berisi es krim itu pada Jeraldo. "Nih, gue tolak."
Jeraldo langsung terkesiap, meskipun sudah memprediksi seperti ini. Akan tetapi tetap saja cukup mengejutkan kalau ditolak. "Lo nggak suka vanilla, ya?" tanya Jeraldo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
Storie d'AmoreIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
