32

184 15 0
                                        

Satu detik yang terkesan panjang itu terasa seperti menciptakan jurang tak terlihat di antara mereka bertiga. Atmosfer berubah menjadi semakin tegang, udara seakan dipenuhi oleh rasa tidak nyaman yang tak terucap. Ketegangan, amarah, dan kebingungan menyatu, membentuk dinding yang memisahkan mereka, walaupun berada dalam satu ruangan. Suasana yang semakin sesak, mendebarkan, dan penuh dengan prasangka.

"Kak Jeral?" suara Aldara memecah sunyi, namun nadanya tak lebih dari bisikan terkejut. Aldara tidak pernah menyangka akan bertemu dengan suaminya di sini, dalam kondisi seperti ini.

"Konsultasinya sekarang sama Juan, ya?" tanya Jeraldo datar dan dingin, tanpa mengalihkan pandangan dari Aldara. Tatapannya sulit diartikan, namun jelas menyiratkan kekecewaan dan kemarahan yang berusaha ditahannya.

Aldara terdiam, seperti ditikam oleh tatapan suaminya.

"Maksud lo apaan?" sergah Juan, nada bicaranya mulai tersulut emosi. Apa yang dikatakan Jeraldo terasa seperti tuduhan, dan jelas Juan tidak suka Aldara dipersalahkan dalam situasi ini. Juan berdiri dari kursinya, menghadapi Jeraldo dengan mata yang mulai memanas. Ketegangan di antara mereka semakin menjadi, suasana di café yang awalnya tenang berubah menjadi medan pertempuran tersembunyi.

Jeraldo beralih menatap Juan, pandangannya datar namun penuh tantangan, senyum miring menghiasi wajahnya, seolah-olah semua ini hanya lelucon baginya. "Terus?" tantang Jeraldo dengan nada yang seolah meminta Juan untuk berbicara lebih lanjut, meskipun dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Gue ketemu Aldara di jalan, dan gue cuma mau bantu," jawab Juan, nadanya tegas, tanpa melebih-lebihkan ataupun mengurangi. Mencoba menjelaskan situasi sejujur mungkin. Juan tidak ingin memperkeruh keadaan, tetapi respons Jeraldo membuat situasi ini semakin rumit.

Jeraldo tertawa kecil, namun tawanya lebih terdengar seperti ejekan. "Nomor gue masih sama. Nggak lupa kalau gue punya istri" tanya Jeraldo, menatap Juan dengan mata tajam, menantang dan penuh perhitungan.

Pertanyaan Jeraldo bagaikan pukulan telak bagi Juan. Juan terdiam sejenak, kata-kata Jeraldo menghantamnya dengan keras. Suasana di antara mereka semakin dingin dan penuh ketegangan. Jeraldo mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan amarah yang sudah berada di ujung batas. Banyak hal yang selama ini dia tahan, banyak emosi yang dia pendam, tapi dia tahu, ini bukan saat yang tepat untuk meledak.

"Ke mobil sekarang," ujar Jeraldo akhirnya, suaranya terdengar datar dan penuh otoritas. Namun, ia sama sekali tidak menatap ke arah Aldara, hanya fokus pada Juan seolah-olah Aldara tak lebih dari sebuah objek di tengah-tengah konflik mereka. Aldara, yang sejak tadi diam, segera bangkit dari tempat duduknya tanpa sepatah kata pun. Pandangannya kosong meninggalkan café tanpa melihat ke belakang.

Namun baru saja Jeraldo akan menyusul Aldara tiba-tiba suara Juan mengintrupsi membuat Jeraldo mengurungkan niatnya.

"Ral," panggil Juan. Nada suaranya berubah, lebih serius dan penuh peringatan. Ia menatap Jeraldo dengan tatapan yang jauh lebih tajam, lebih tegas. Ada sesuatu dalam pandangan Juan yang tidak bisa diabaikan.

Sebelah alisn Jeraldo terangkat, menandakan kebingungan atas perubahan sikap Juan. "Kesempatan terakhir buat lo," lanjut Juan, suaranya penuh dengan penegasan yang mendalam, menyiratkan ancaman terselubung di dalamnya.

Jeraldo menatap Juan dengan ekspresi yang penuh ejekan. Tidak ada rasa takut di matanya, justru aura mencekam yang terpancar dari Jeraldo semakin kuat, menciptakan kontras dengan suasana tegang di antara mereka. "Maksud lo?" tanya Jeraldo dengan nada dingin, sebelum tertawa hambar, seolah-olah ancaman itu tidak berarti apa-apa baginya.

Juan mendekat, berdiri sejajar dengan Jeraldo, pandangannya tajam dan tak teralihkan. "Sakiti sekali lag," ucap Juan dengan tegas, kalimat itu keluar seperti peringatan terakhir sebelum badai besar menerjang. "Atau dia jadi milik gue kembali."

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang