34

190 13 0
                                        

Pagi itu, Aldara terbangun dengan perasaan yang berat. Matanya terasa perih dan bengkak, sisa-sisa tangisan malam sebelumnya masih meninggalkan jejak di wajahnya. Kepalanya berdenyut ringan, seolah memberi tahu bahwa ia telah menangis terlalu lama hingga akhirnya terlelap. Tangannya meraba sisi kasur, mencari sosok Jeraldo yang biasanya masih berada di sebelahnya. Namun, yang Aldara temukan hanyalah kesunyian dan dinginnya kasur yang kosong.

"Dia udah bangun?" pikir Aldara, sedikit bingung. Tidak biasanya Jeraldo bangun sepagi ini, terlebih setelah kejadian semalam yang begitu menyakitkan bagi mereka berdua. Aldara melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi.

Helaan nafas keluar begitu berat dari mulut Aldara, rsanya dadanya semakin sesak. Setiap kali mengingat perbincangan mereka malam itu—tentang kebohongan, pengkhianatan, dan rahasia yang hancur di antara mereka—rasa sakit di hatinya kembali menusuk. Aldara ingin marah, namun ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar marah, sesuatu yang ia sendiri tak mampu mengartikannya. Sebuah perasaan campur aduk yang mengoyak hatinya tanpa ampun.

Dengan langkah gontai, Aldara menyeret dirinya menuju kamar mandi. Menatap cermin besar di depannya, melihat bayangan wajahnya yang kusut, matanya bengkak dan merah akibat menangis. Untuk beberapa saat, Aldara hanya diam di sana, membiarkan pikirannya berkecamuk. Sesaat setelahnya Aldara menyentuh wajahnya, air dingin dari keran mulai mengalir di tangannya. Mencoba mencuci wajahnya dengan harapan bisa setidaknya menyegarkan pikiran, menenangkan sedikit gejolak di dalam dirinya. Namun, tak peduli berapa banyak air yang ia percikkan, rasa sesak itu tetap bertahan. Bagaimana ia akan menghadapi Jeraldo setelah ini? Apakah ia mampu berbicara lagi dengan suaminya, pria yang selama ini ia pikir bisa melindunginya dari segala rasa sakit?

Namun, tiba-tiba, suara dering ponsel terdengar samar dari luar kamar mandi. Panggilan yang datang terus-menerus, membuat Aldara sedikit tergesa-gesa membersihkan wajah dan menyikat gigi. Suara itu semakin nyaring, seperti menuntut perhatiannya. Dengan setengah berlari, Aldara keluar dari kamar mandi, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.

Layar ponselnya menampilkan nama Aldo, kakaknya. Aldara mengerutkan alis, melihat bahwa ini adalah panggilan yang kesebelas dari Aldo. Ia juga melihat deretan pesan yang masuk, tapi belum sempat membacanya. Rasa was-was tiba-tiba menyeruak dada Aldara. Pikirannya melayang ke Haris, ayah mereka. Apa ada sesuatu yang terjadi pada beliau? Tanpa menunggu lebih lama, Aldara segera menggeser tombol hijau dan mengangkat telepon.

"Halo, Kak?" Namun, suara yang datang dari seberang membuat tubuh Aldara membeku seketika. Kata-kata Aldo seolah menghantamnya tanpa ampun.

"Apa? Kakak, jangan bercanda... terlalu pagi untuk bercanda seperti ini," suaranya gemetar, hampir tak terdengar.

Aldara menjauhkan ponsel dari telinganya, membiarkan ponsel itu tergelincir perlahan dari genggamannya. Kakinya seolah tak mampu menahan tubuhnya lagi. Jantungnya berdetak kencang, dadanya terasa sesak. Pikirannya berputar, mencari penjelasan yang masuk akal.

Tidak, ini tidak mungkin benar. Jeraldo pasti ada di rumah. Ia pasti baik-baik saja.

Dengan napas yang terengah-engah, Aldara berlari keluar kamar, mencari sosok suaminya. "Kak Jeral?" panggilnya dengan suara bergetar, namun tidak ada sahutan. Ia membuka pintu ruang kerja Jeraldo, namun ruangan itu kosong.

"Kak Jeral!" suara Aldara kini lebih keras, panik mulai menguasainya. Ia berlari ke ruang tamu, ke dapur, bahkan ke ruang tempat kucing mereka, Shiro, biasanya berada. Tidak ada tanda-tanda Jeraldo. Tidak ada. Jantung Aldara berdetak semakin cepat, nyaris tak terkendali. Ia berlari ke halaman belakang, berharap Jeraldo mungkin ada di sana, namun halaman kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hatinya semakin terjepit, rasa takut mulai merasuki pikirannya.

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang