Keesokan harinya Aldara terbangun, dan buru-buru menuju ruang ICU untuk melihat kondisi ayahnya. Menurut keterangan dari dokter, Haris sudah sadar tapi belum bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa, dan tetap harus berada di ruang ICU untuk beberapa waktu ke depan. Masih harus dalam pantauan yang ketat. Setelah mendapat kabar dari dokter, dan menjenguk sebentar Haris di dalam sana.
Aldara duduk termenung di kursi tunggu, mendengar semua penjelasan dari dokter mengenai kondisi ayahnya tadi. Ia yakin Aldo juga pasti sudah tahu ini. Aldara memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, pikirannya tiba-tiba begitu terasa buntu. Apa yang ia harus lakukan sekarang. "Dimana dara bisa nemuin pendonor jantung buat ayah," lirih Aldara.
Aldara menatap kosong ke depan, otaknya terus berpikir tentang bagaimana ia bisa mendapatkan atau menemukan pendonor jantung untuk Haris. Mengenai kondisi Haris yang semakin ke sini menurut keterangan medis dokter semakin menurun, beberapa kali obat-obatan sudah tidak terlalu berpengaruh banyak untuk kesehatan Haris dan diperlukan segera pendonor jantung agar Haris bisa sembuh dengan cara transplantasi jantung.
Aldara tertunduk dalam, entah bagaimana ia bisa menemukannya, yang pasti Aldara akan berusaha mencari pendonor jantung untuk ayahnya. "Lo harus kuat dara. Ayah pasti sembuh nanti," ucap Aldara menyemangati dirinya sendiri.
Aldara ingin beranjak menuju meja kecil yang tak jauh darinya untuk mengambil ponselnya yang ter-charger, namun tiba-tiba pandangannya teralihkan dengan sesuatu yang kini berada tepat di samping ponselnya. Sebuah paper bag kecil berwarna pink.
"Punya Aldo?" gumam Aldara. Tanganya perlahan bergerak membuka sedikit paper bag itu untuk melihat isinya. Alis Aldara mengerut dalam, mendapati isinya sebuah makanan dan note kecil. Alih-alih mengambil makanannya, Aldara justru mengambil note kecil itu.
Jangan lupa makan, Aldara.
"Buat gue dong?" gumam Aldara lagi, membolak-balik note kecil itu. Akan tetapi kok rasanya ada yang aneh. Dari siapa makanan ini. Jika dari Aldo, kenapa harus repot-repot dengan memberikannya note segala. Lagian juga, tulisan Aldo tidak sebagus ini.
Tanpa pikir panjang, Aldara mengambil isi dari paper bag itu. Ada makanan, buah dan sebotol susu. Perut Aldara yang juga sudah lapar, ia pun langsung memakannya. Meskipun masih ada tanda tanya dari siapa pengirim makanan ini, tapi yang Aldara lebih pentingkan sekarang adalah mengisi perutnya, karena ia sangat lapar.
***
"Lo kenapa?" tanya Karin pada Aldara yang terlihat tidak bersemangat hari ini.
Aldara hanya menggeleng kecil, tersenyum menatap Karin di sebelahnya. "Gue nggak papa."
Sedari awal datang bekerja hari ini, Aldara terlihat begitu lesu, tidak bersemangat, bahkan Karin seringkali mendapati Aldara dengan tatapan kosongnya. Entah apa yang terjadi, tapi Karin yakin ini ada sangkut pautnya dengan Haris yang kemarin tiba-tiba penyakitnya kambuh.
"Gue harus nyari di mana?" tanya Aldara dengan nada lemah. Bahkan untuk sekedar berbicara rasanya Aldara seperti tak berdaya. Padahal hari ini, Aldara sudah mencoba memulai hari dengan semangat baru. Mencoba yakin bahwa Aldo akan mendapatkan pendonor untuk Haris. Haris akan sembuh dan melewati masa sulit-sulit ini. Akan tetapi ternyata semuanya tidak semudah itu untuk Aldara. Pagi tadi Aldara pergi untuk konsultasi mengenai skripsinya, dan begitu banyak teguran dan revisi yang ia dapatkan. Membuat pikiran Aldara kembali rancu dan tidak fokus. Satu sisi bagaimana ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik, tapi disatu sisi ia juga tidak bisa fokus jika kondisi ayahnya semakin hari semakin memburuk.
"Maksud lo?" tanya Karin bingung.
Aldara kembali menatap Karin di sampingnya. "Pendonor jantung buat ayah gue," jawab Aldara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomanceIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
