Pagi hari di kediaman Adiyama seperti biasa yang sudah terasa sepi dan dingin. Meja makan yang biasanya dipenuhi canda tawa dan kehangatan kini hanya diisi oleh dentuman sendok dan piring yang berbenturan, melodi yang mengisi kekosongan di udara. Aldara duduk dengan tatapan kosong, pikirannya jauh dari suasana di sekelilingnya. Di hadapannya, Jeraldo juga tampak membungkam, mengunyah sarapan tanpa semangat. Suasana yang penuh ketegangan ini membayangi setiap langkah mereka, entah sampai kapan mereka bisa bertahan dalam suasana seperti ini.
"Aku ada jadwal konsul hari ini," kata Aldara dengan suara yang hampir tak terdengar, seolah-olah ia takut menyentuh topik apa pun yang dapat memicu ketegangan lebih lanjut. Aldara berusaha menjaga norma kesopanan yang sudah terbiasa, meskipun di dalam hatinya, rasa kecewa dan kebingungan begitu menyakitkan.
"Iya, aku usahakan nggak lembur malam ini," jawab Jeraldo dengan nada datar, mencoba untuk memberi sinyal bahwa ia masih peduli, bahwa ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Aldara setelah hari panjang yang melelahkan. Sudah hampir dua minggu mereka menjalani hari-hari yang dingin, dan Jeraldo berusaha, sekuat tenaga, untuk mengembalikan kehangatan yang dulu mereka miliki.
Sarapan pagi berlalu dengan cepat, seperti rutinitas yang monoton. Setelah selesai, Jeraldo pergi ke kantor, dan Aldara melanjutkan hari-harinya dengan membereskan rumah, menunggu Karin yang akan menjemputnya.
Karin tiba tidak lama kemudian, dan Aldara segera masuk ke dalam mobil, berusaha memfokuskan diri pada tugas-tugas di kampus. Selama perjalanan, Karin yang penuh perhatian tidak bisa tidak memperhatikan aura yang melingkupi Aldara. Sesama perempuan, Karin bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres, meskipun Aldara mencoba untuk bersikap normal. Karin tidak ingin mencampuri masalah pribadi Aldara, terutama karena ia tahu betapa sensitifnya urusan rumah tangga. Namun, keprihatinannya tetap ada.
"Lo nggak papa?" tanya Karin dengan nada khawatir, mengarahkan tatapannya ke Aldara yang duduk di sampingnya.
Aldara menoleh ke arah Karin, dan dengan nada singkat, ia menjawab, "Nggak papa." Jawaban itu, meskipun singkat, semakin memperkuat persepsi Karin bahwa sahabatnya sedang berjuang dengan sesuatu yang berat. Karin memilih untuk diam, tidak mau mengajukan pertanyaan lebih lanjut yang mungkin membuat Aldara merasa lebih tertekan. Aldara juga merasa rindu untuk berbicara, tetapi ia tahu bahwa ini adalah masalah keluarga, masalah antara dia dan Jeraldo. Ia tidak ingin melibatkan orang luar, apalagi sahabat yang sudah begitu peduli.
Sesampainya di kampus, situasi malah memburuk. Pembimbing mereka mendadak ada dinas luar kota, meninggalkan Aldara dan Karin tanpa bimbingan yang seharusnya mereka butuhkan. Ini adalah pukulan tambahan bagi Aldara, yang sudah berada dalam keadaan emosional yang rapuh. Setelah menyadari ketidakberuntungan hari itu, Karin memutuskan untuk pulang lebih awal, meninggalkan Aldara dengan ruang untuk merenung.
"Kalau mau cerita atau sekadar buang unek-unek, kapan pun itu lo bisa hubungi gue, ya," ujar Karin dengan tulus, menatap Aldara dengan manik cokelat tua yang penuh kepedulian.
Aldara mencoba tersenyum tulus, meskipun rasa sakit di dalam hatinya begitu dalam. "Iya, Karin. Gue nggak papa," jawab Aldara, berusaha meyakinkan sahabatnya bahwa ia baik-baik saja, meskipun di dalam dirinya, semuanya terasa hancur. Ia tidak ingin merepotkan Karin, apalagi membuat sahabatnya khawatir.
***
Setelah Karin pergi, Aldara merasa kesepian yang mendalam. Ia duduk di depan kafe kucing yang sering ia kunjungi saat hati sedang sedih. Tempat ini, dengan suasana yang lembut dan tenang, seolah mengundangnya untuk menemukan ketenangan. Namun, kali ini, bahkan kafe yang penuh dengan kehangatan dan kucing-kucing lucu ini tidak mampu menghilangkan rasa kesepian yang mendalam. Aldara memikirkan kembali bagaimana keadaannya saat ini—bagaimana ia merindukan sosok ibunya, Hani. Sosok ibu yang selalu ada untuknya, sahabat sekaligus pelindung, kini sudah tiada. Aldara merasa hatinya begitu kosong, dan ia merindukan momen-momen sederhana bersama Hani—memeluknya dengan erat, memasak bersama, atau sekadar berbincang tentang hari-hari mereka. Semuanya terasa begitu jauh, seperti mimpi yang tak pernah bisa terulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomansaIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
