18. Malam Pertama

487 24 0
                                        

Dua insan yang baru saja mengucapkan janji suci sakral kini menginjakkan kaki di sebuah kamar yang terdekor dengan indah. Gaun putih Aldara masih terbalut sempurna di tubuhnya, sementara Jeraldo sudah melepas jasnya, hanya menyisakan kaos dalam pendek yang memperlihatkan lengan kokohnya. Mawar merah tertata rapi di atas kasur putih bersih, dengan dua angsa berhadap-hadapan membentuk hati, simbol cinta yang abadi.

Aldara merasa gugup saat melangkah masuk ke kamar, diikuti oleh Jeraldo di belakangnya. Jantungnya berdetak kencang, menyadari bahwa ini adalah awal dari babak baru dalam hidup mereka—babak yang akan mereka jalani bersama sebagai suami istri. Segala sesuatu akan dimulai berdua, berbagi suka dan duka.

Dengan langkah perlahan, Aldara mendudukkan dirinya di atas sofa, berusaha menghilangkan rasa penat setelah berjam-jam berdiri. "Sumpah..." gumamnya pelan sambil menjatuhkan diri ke sofa. Sejenak, ia memejamkan mata, menikmati sedikit kenyamanan yang dirasakannya, meski hanya mengurangi rasa lelah sebesar 0,001%.

"Capek banget, ya," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Jeraldo mengikuti, menjatuhkan dirinya di samping Aldara. Tanpa bisa ditahan, Aldara memejamkan matanya sejenak, berusaha menikmati momen tenang ini. Rasa lelahnya berkurang meski hanya sedikit—sekitar 0,001%. Yang ia butuhkan sekarang adalah tidur nyenyak di kasur empuk itu. Ah, kasur itu seakan-akan sudah memanggil namanya, menggoda untuk segera terbaring dan terlelap.

"Sayang," panggilan tiba-tiba dari Jeraldo membuyarkan lamunannya. Aldara membuka matanya, melirik dengan tajam ke arah Jeraldo yang kini memandanginya dengan senyum lembut. Berbeda dengan Aldara yang masih lengkap dengan riasan dan gaunnya, Jeraldo sudah melepas jasnya, menyisakan kaos dalam pendek yang memperlihatkan lengan kokohnya.

"Apa?" Aldara menjawab dengan nada sedikit ketus, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Ia tidak suka dipanggil 'sayang' begitu saja, apalagi dengan cara yang tiba-tiba seperti itu. Meskipun Jeraldo sering memanggilnya demikian, hanya saja untuk sekarang ini hati Aldara mendadak terasa berdebar-debar lebih kencang.

Jeraldo tersenyum kecil, tahu betul bagaimana sifat Aldara yang gengsi dan sedikit galak. "Mau istirahat sekarang atau... kita ngobrol dulu sebentar?" tanyanya, mencoba membuka pembicaraan.

Aldara menghela nafas pelan, menutupi rasa gugupnya dengan cara menatap lurus ke arah Jeraldo. "Lo aja yang tidur duluan. Gue belum ngantuk," jawab Aldara, meski dalam hati ia sebenarnya sudah sangat ingin merasakan empuknya kasur di depannya.

Jeraldo tertawa kecil mendengar jawaban Aldara. Ia tahu, ini hanyalah cara Aldara untuk menyembunyikan perasaannya. "Okey. Kalau gitu silahkan pakai kamar mandinya duluan." ucap Jeraldo sambil bangkit dari sofa, berjalan menuju balkon. Ia tahu, Aldara hanya butuh sedikit waktu untuk merasa nyaman dan yang pasti Aldara butuh melepas segala pernak-pernik di tubuhnya.

Aldara mendengus pelan, menahan senyum di balik wajah cantiknya. Dalam hati, ia merasa lega karena Jeraldo tidak memaksanya. Ia hanya butuh waktu untuk menerima semua ini. Perlahan, Aldara bangkit menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri dan berganti baju.

***

"Sayang," panggil Jeraldo dari luar kamar mandi. Sedari ia keluar ke balkon dan Aldara masuk ke dalam kamar mandi, hingga detik ini Aldara sama sekali belum menampakkan dirinya. Jeraldo tahu Aldara tengah membersihkan diri di dalam, tapi menurutnya ini sudah sangat lama. Jadi, Jeraldo perlu memastikan sesuatu. Ia tidak ingin Aldara justru ketiduran di kamar mandi.

"Sayang," panggil Jeraldo lagi kini dengan mengetuk-ngetuk pintu luar kamar mandi. Sedangkan Aldara yang sedari tadi memang sibuk di dalam, mendengar teriakan Jeraldo hanya bisa menghela nafas panjangnya.

"Nggak usah sayang-sayang mulu," sahut Aldara setengah berteriak. Jeraldo merasa sedikit lega, ternyata Aldara menjawabnya. Menandakan istrinya baik-baik saja di dalam, setidaknya tidak ketiduran karena terlalu lelah.

Jeraldo-AldaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang