28

280 26 2
                                        

Sore yang cerah, dan Aldara memutuskan untuk menemani Karin yang sedang pusing mengerjakan skripsinya. Mereka memutuskan bertemu di sebuah kafe kecil yang nyaman di sudut kota, dengan sofa empuk dan aroma kopi yang menenangkan. Aldara menyukai suasana di sana—tenang dan pas untuk bersantai. Aldara juga sudah mengabari Jeraldo kalau ia akan keluar bersama Karin.

"Nggak ngerti lagi, Dar. Kayaknya otak gue mau meledak," keluh Karin sambil mengetik cepat di laptopnya, kemudian mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Kenapa ya, skripsi ini kayak musuh bebuyutan?"

Aldara tertawa kecil sambil mengaduk cappuccino-nya. "Karena kamu terlalu perfeksionis kali. Santai aja, Rin. Kalau dipaksa malah nggak kelar-kelar, lho." Padahal di satu sisi pun Aldara merasakan demikian, tapi ia memutuskan untuk tiga hari kedepan Aldara tidak ingin menyentuh skripsinya dulu, ia ingin bersantai sejenak. Kalau kata anak muda sekarang itu adalah healing. Karena healing tiap orang berbeda-beda.

Karin menatap Aldara dengan mata lelah. "Emang bisa santai kalau dosen pembimbing lo galaknya kayak singa lapar?"

"Kalau gue sih udah kabur dari awal," Aldara bercanda, membuat Karin tertawa. "Nggak ada jalan lain, Rin. Mau nggak mau harus diselesaikan. Nanti lo juga lega kalau udah lulus," balas Aldara. Jelas-jelas dosen pembimbing mereka sama.

Tiba-tiba, suara khas terdengar dari belakang mereka. "Eh, ada yang lagi stress ngerjain skripsi nih? Tenang, bantuan telah tiba!" Juan muncul, lengkap dengan senyum kocaknya yang selalu bisa mencairkan suasana.

Aldara menoleh dan langsung tersenyum geli. "Hah, bantuan? Maksud lo nambah stress kali ya, Ju"

Juan langsung duduk tanpa diundang, mengambil posisi di samping Karin. "Gue ini sumber inspirasi, tau nggak? Dengan humor gue yang tinggi, lo pasti bisa ngerjain skripsi dengan penuh keceriaan!"

Mendengar itu Karin langsung mendesah. "Kalo lo yang bantu, bukannya selesai, yang ada malah skripsi gue jadi buku komedi." Mereka semua tertawa, dan suasana jadi lebih rileks.

"Lagian, kenapa lo nongol di sini?" Aldara bertanya, setengah bercanda. "Bukan urusan lo bikin hidup kita lebih ribet kan?"

Juan mengangkat bahu dengan senyum lebarnya. "Gue tahu aja insting wanita-wanita cantik ini butuh hiburan. Lagian, kafe ini kan tempat nongkrong favorit gue juga. Eh, ngomong-ngomong, skripsi lo tentang apa, Rin?" tanya Juan si manusia kepo.

Karin mendesah lagi, kali ini lebih panjang. "Tentang pemetaan wilayah hutan di Kalimantan. Super seru, ya?"

Juan langsung terdiam dengan tatapan serius, membuat Aldara dan Karin menunggu reaksinya. "Wow. Itu pasti tentang... daun-daun dan pohon-pohon, ya? Gimana kalau judul skripsi lo diubah jadi 'Pengaruh Drama Korea Terhadap Hutan Tropis'?"

Aldara tertawa keras, sementara Karin menepuk bahunya. "Lo serius banget, Juan. Beneran nggak membantu sama sekali," ucapnya. Padahal mereka bertiga saling tahu, Karin berada di jurusan ilmu komunikasi yang tidak terkait pada hal-hal pemetaan hutan. Akan tetapi untuk membangun suasana yang lebih ramai, Juan sengaja mengikuti alur yang dibuat perempuan-perempuan ini.

Mereka bertiga terus bercanda, saling melempar lelucon dan cerita-cerita konyol. Juan dengan gaya humornya yang spontan membuat suasana jadi jauh lebih ringan, sementara Karin sedikit demi sedikit melanjutkan skripsinya, walau sering kali terganggu karena tertawa.

***

Waktu berlalu cepat, dan Karin akhirnya membereskan barang-barangnya. "Aduh, kayaknya gue harus balik duluan, Dar. Masih banyak yang harus diselesaikan di rumah. Juan, jangan bikin Aldara gila ya."

Juan tersenyum lebar, memberikan hormat palsu. "Siap, Bos. Tenang aja, gue orangnya baik hati dan penuh canda tawa."

Karin menepuk punggung Juan, kemudian berpamitan. Setelah Karin pergi, Aldara dan Juan masih duduk di meja yang sama, suasana sedikit berubah lebih tenang dan sedikit canggung.

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang