Malam itu, malam yang sunyi, seolah dunia berhenti berputar. Di dalam kamar mereka, Aldara terbungkus dalam selimut kegelapan dan kesedihan. Tangisnya yang tertahan meledak menjadi isak yang mencekik, membuatnya merasa seolah dia sedang tenggelam dalam lautan kesedihan yang tak berujung. Sementara itu, Jeraldo berada di ruang kerjanya, duduk di balik meja yang dipenuhi kertas-kertas yang belum tersentuh. Suasana di sekelilingnya terasa hampa, hanya diterangi oleh lampu meja yang redup. Jeraldo terdiam membisu, seolah berusaha mencari jawaban dalam kesunyian yang mencekam.
"Bunda..." lirih Jeraldo, suaranya bergetar seperti daun kering yang tertiup angin. Tiba-tiba, rasa rindu yang mendalam akan sosok ibunya menyelimuti hatinya.
"Jeral harus gimana sekarang?" tanyanya, mata penuh kebingungan menatap dua bingkai foto di meja. Satu foto menampilkan Aldara, dengan senyum cerah yang pernah menjadi sumber kebahagiaan dalam hidupnya. Foto lainnya adalah Rasti, ibunya yang telah tiada sejak Jeraldo masih kecil. Dua sosok wanita ini adalah inti dari kehidupan Jeraldo—yang pertama adalah sumber kebahagiaan, dan yang kedua adalah lambang kasih sayang yang telah tiada.
Perasaan Jeraldo berkecamuk, seolah seluruh beban hidupnya semakin menumpuk dari detik ke detik. Dia tahu dia sudah terlalu lama bungkam, namun ada alasan yang mendalam di balik setiap keputusannya. Jeraldo adalah manusia yang juga membutuhkan waktu untuk mencerna dan mempertimbangkan sesuatu. Hari-hari yang Jeraldo jalani seolah membawanya semakin jauh dari jawaban yang dicari. Rasa lelah yang menyiksa bukan hanya datang dari Aldara, tetapi juga dari tanggung jawab besar yang harus ia pikul.
"Bunda, Jeral nggak mau kehilangan wanita yang Jeral cintai untuk kedua kalinya," bisik Jeraldo, tanpa sadar air mata mulai mengalir di pipinya dengan lembut, seolah tak bisa lagi ditahan. Bayangan Aldara yang mengatakan ingin pulang menggema dalam pikirannya, membawa arti yang mendalam tentang hubungan mereka. Suara Aldara seolah menjadi kaset rusak yang terus-menerus diputar, menambah beban dalam pikirannya.
Kehadiran Aldara dalam hidupnya adalah segalanya—wanita yang kini menjadi satu-satunya orang yang sangat berarti baginya. Tangan Jeraldo menggenggam keras, urat-uratnya menonjol dan buku-buku tangannya memutih. Tubuhnya bergetar hebat, Jeraldo merasakan ketidakmampuan untuk menahan semua perasaan ini sendiri. Meski sekuat apapun laki-laki, ada titik rapuh yang tidak bisa dihindari.
Kepalan tangan itu semakin kuat, hingga rasa sakitnya mulai menyebar ke seluruh tubuh. Jeraldo ingin sekali rasanya berteriak, menumpahkan segala perasaan yang selama ini terpendam. Jeraldo memejamkan matanya sejenak, isi kepalanya terlalu berisik.
"Tolong kuatin aku, bunda, sayang," Jeraldo meminta dalam lirihan putus asa, seolah berbicara pada bayangan ibunya dan Aldara yang terjebak dalam pikirannya.
Jeraldo menghembuskan napas kasar, merasakan beban yang kian berat menekan punggungnya. Segala sesuatu terasa begitu rumit, seolah seluruh dunia melawan keinginannya untuk menemukan jalan keluar. Duduk di kursi dengan punggung bersandar, Jeraldo merasa terjebak dalam labirin emosional yang tidak bisa ia pecahkan.
***
Beberapa saat kemudian, Jeraldo bangkit dengan tekad yang mendalam. Ia meraih kunci mobilnya, tanpa sepatah kata pun, dan pergi meninggalkan rumah. Jeraldo tahu Aldara pasti sudah tertidur, dan ia sengaja tidak pamit. Malam ini, Jeraldo merasa perlu untuk egois, untuk mengikuti kata hatinya tanpa peduli berapa larutnya waktu. Jika kebimbangan membuatnya frustasi, maka kali ini, dia akan mengutamakan dirinya sendiri.
Jeraldo melajukan mobilnya dengan kecepatan yang semakin meningkat, lampu jalanan melintas dengan cepat di sampingnya, seolah memburunya untuk segera sampai. Jeraldo tahu tujuannya malam ini—untuk menghadapinya. Semua yang selama ini terpendam akan diungkapkan malam ini juga. Kebenaran harus terpecahkan, meski berarti menghadapi risiko yang sangat besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomanceIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
