24. Pangkuan Jeraldo

376 27 0
                                        

Pagi itu, Aldara melangkah menuju rumah Haris dengan semangat yang menggebu. Harapannya tinggi, terlebih setelah Jeraldo, suaminya, memberi izin dan dukungan penuh untuk menyelidiki kembali kasus kematian Hani, ibunya. Meskipun sadar bahwa ini bisa membuka luka lama, Aldara yakin bahwa ayahnya akan senang mendengar kabar ini. Ia percaya, dengan kekuasaan dan pengaruh Jeraldo, menemukan bukti baru bukanlah hal yang mustahil.

Setibanya di rumah, Aldara disambut hangat oleh Haris. Rumah yang kini terasa asing karena jarang ia kunjungi sejak menikah, masih menyimpan keakraban dan kenangan masa kecilnya. Dinding-dindingnya seakan menyapa, mengingatkan Aldara pada masa-masa ketika hidup terasa lebih sederhana.

Tanpa membuang waktu, Aldara menyampaikan rencananya dengan antusias. "Kak Jeral bakal bantu cari tau soal ini, Yah. Mungkin susah karena udah lama, tapi kita harus tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian Mama."

Haris tersenyum, namun senyum itu bukanlah respon yang Aldara harapkan. Jawaban yang keluar dari mulut Haris membuat Aldara terhenyak, seolah-olah semua harapannya runtuh dalam sekejap. "Segala sesuatu itu ada sebab akibatnya, Nak. Kadang, yang terbaik adalah menerima dan ikhlas tanpa mengungkit lagi," ucapnya dengan nada yang terasa begitu final. Wajah Aldara yang semula penuh harap perlahan pudar. Hatinya mulai dirundung keraguan, pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di benaknya. Apakah Haris tidak ingin mencari keadilan untuk istrinya sendiri? Apakah luka yang pernah dirasakan ayahnya begitu dalam hingga ia lebih memilih untuk melupakan daripada mengungkit kembali? Aldara tak bisa menyingkirkan keinginannya untuk mengetahui kebenaran. Baginya, keadilan untuk sang ibu adalah sesuatu yang lebih dari sekadar penerimaan.

"Dara ikhlas, Ayah. Tapi Dara juga pengen tau siapa yang bertanggung jawab. Makanya Dara minta Kak Jeral buat bantu," ucap Aldara, suaranya terdengar lirih, namun ada nada ketegasan yang tidak bisa disembunyikan.

Haris menatap Aldara dengan lembut, senyumnya tak memudar, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. "Dara, hati yang ikhlas seharusnya tetap ikhlas. Ayah senang kalau Jeraldo mau membantu, tapi jangan lupakan itu," jawabnya, namun senyum itu kini terasa hampa, seolah-olah ketulusan yang dulu ada telah menghilang bersama waktu. Aldara terdiam, hatinya semakin terpuruk. Apakah tindakannya ini salah? Apakah ia telah membuka luka lama yang seharusnya dibiarkan sembuh?

Perjalanan pulang menuju rumah Jeraldo terasa begitu berat. Kegembiraan yang mengiringi langkahnya pagi tadi kini tergantikan oleh keraguan yang menyesakkan. "Apa gue harus bilang ke Kak Jeral buat nggak usah nyari tau? Apa gue salah? Gue nggak mau ngebuka luka lama Ayah," gumamnya, tenggelam dalam kebingungan yang tak berujung. Pikirannya terus berputar, membenturkan logika dengan perasaan, menambah beban di hatinya yang sudah berat.

Sesampainya di rumah, Aldara merasa tak lagi yakin dengan keputusannya. Semua pertanyaan itu terus menghantui, seakan-akan tidak ada jalan keluar dari kebimbangan ini. Jika Haris saja tidak antusias mengenai hal ini, bagaimana dengan Aldo, kakaknya? Aldara tahu bahwa untuk saat ini, menemui Aldo bukanlah pilihan yang tepat. Ia merasa perlu waktu untuk merenungkan semuanya dengan matang. Di tengah kekacauan pikirannya, Aldara memutuskan untuk menunggu. Ia mungkin bisa mendiskusikannya dengan Jeraldo nanti, berharap bahwa suaminya bisa memberikan pencerahan di tengah kebingungan yang melanda.

"Pak, lokasi tujuannya bisa diganti, kan?" tanya Aldara pada driver yang kini membawanya.

"Bisa, Neng. Langsung ganti di aplikasi aja," jawabnya. Tangan Aldara pun bergerak lihai di atas layar ponselnya. Aldara mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah saat ini.

***

"Oke. Kabarin gue kalau bisa diakses. Secepatnya, ya," suara pria di ujung telepon terdengar tegas namun tetap hangat. Sosoknya terpancar dari balik jendela kaca ruang kerja, dibalut kemeja putih bersih yang melingkupi tubuh atletisnya. Sebuah jam tangan Rolex menghiasi pergelangan tangan kirinya, sementara rambut hitamnya yang dipotong rapi dengan gaya comma hair mempertegas aura maskulin yang dimilikinya. Jeraldo, sosok sempurna yang diciptakan Tuhan dalam wujud manusia, sedang berbicara dengan seseorang yang tak terlihat, namun kehadirannya terasa begitu nyata bagi Aldara yang baru saja memasuki ruangan itu.

Jeraldo-AldaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang