27

302 31 1
                                        

Jeraldo tiba di sebuah kafe kecil di pinggir kota, sebuah tempat yang hampir terlupakan oleh waktu. Udara sore itu terasa berat, dan langit yang berwarna jingga tampak suram, seolah-olah turut menyimpan rahasia yang hendak mereka ungkap. Kafe itu hanya dihuni beberapa pelanggan tua, sibuk dengan obrolan rendah dan suara cangkir yang beradu pelan. Jeraldo memilih sudut yang lebih terpencil, tempat Anton sudah menunggunya. Pria itu duduk dengan sikap tenang, namun ada sesuatu dalam matanya yang membuat suasana terasa semakin tegang.

"Sudah dapat informasinya?" Jeraldo membuka pembicaraan tanpa basa-basi, suaranya lebih dingin dari biasanya. Anton mengangguk sambil menyesap kopi hitamnya yang tampak hampir habis.

"Iya, dan lebih banyak dari yang kita duga. Gue udah ngontak beberapa orang lama, mereka memberikan petunjuk yang menarik. Ada celah besar di laporan polisi lama itu—bukti yang seharusnya ada, tiba-tiba menghilang." Jeraldo meneguk napas berat, rahangnya mengencang.

"Maksud lo? Bukti yang hilang?"

Anton menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, suaranya semakin rendah, seolah takut ada yang mendengar. "Laporan forensik awal, rekaman CCTV dari sekitar tempat kejadian... lenyap gitu saja. Lo ingat gue bilang soal penghilangan ini dulu, tapi sekarang gue punya konfirmasi bahwa itu bukan hanya kecerobohan. Itu sengaja dilakukan dan bokap lo lebih dulu punya itu semua."

Wajah Jeraldo semakin mengeras. Pikirannya berputar cepat, mencoba merangkai semua petunjuk yang baru saja diberikan. "Siapa yang terlibat? Siapa yang punya kuasa cukup besar untuk menutupi semua ini?"

Anton melirik sekitar sebelum mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam jaketnya dan meletakkannya di atas meja. "Gue belum bisa memastikan semuanya, tapi beberapa nama mulai muncul. Ada transaksi mencurigakan yang mengalir ke pihak tertentu. Orang-orang berpengaruh terlibat, Ral. Ini bukan kasus yang begitu berat, tapi proses di dalamnya menjadikan hukum itu terbeli. Lo ngerti maskud gue, kan?"

Jeraldo meraih amplop itu dengan tangan gemetar, menyadari bahwa apa yang akan ia baca bisa menjadi kunci untuk mengungkap semuanya—atau sebaliknya, menghancurkan hidupnya dan keluarganya. Membukanya dengan hati-hati, Jeraldo memeriksa deretan nama, angka, dan catatan transaksi yang tertera di sana. Nama-nama yang ia kenal, beberapa bahkan dari lingkaran sosial terdekat keluarganya. Tangannya bergetar ketika matanya bertemu dengan salah satu nama yang membuat darahnya mendidih.

"Cukup sampai di sini, sisanya biar gue yang urus," ucap Jeraldo dengan nada dingin serius.

Jeraldo membuang pandangan ke luar jendela, memandang langit yang mulai gelap. Di benaknya, berbagai skenario mulai terbayang—kekacauan yang mungkin terjadi jika kebenaran ini terungkap. Hubungannya dengan Aldara, kepercayaan keluarga, serta kemungkinan-kemungkinan lainnya.

"Lo tau, Ton," suara Jeraldo terdengar lebih pelan namun penuh tekad, "Gue nggak peduli seberapa besar risikonya. Aku nggak bisa diam aja. Aldara pantas tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, meskipun itu berarti gue harus melawan orang yang terlibat."

Anton menatapnya lama sebelum mengangguk. "Sesuai yang lo mau. Sisanya lo yang urus. Senang bisa kerja sama bareng pak direktur Adyma," ucap Anton berusaha mencairkan suasana.

Jeraldo menegakkan tubuhnya, meletakkan amplop itu kembali ke atas meja. "Gue mungkin bakal butuh waktu buat benar-benar sudah siap. Tapi gue jamin ini bakalan selesai sebagaimana mestinya. Apa pun itu."

Suasana di kafe yang tadinya tenang kini terasa mencekam bagi Jeraldo. Bayangan tentang masa depan mulai merayapi pikirannya. Siapa sebenarnya yang ada di balik kecelakaan itu? Seberapa dalam konspirasi ini? Dan apakah ia dan Aldara siap menghadapi kebenaran yang bisa mengubah hidup mereka selamanya?

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang