"Nyari gue?" tanya Aldara bingung, sambil menatap polos ke Jeraldo, membuat otot-otot pipi Jeraldo saling tarik menarik hingga mengembangkan sebuah senyum.
"Kenapa kalau gue nyari lo?" bukannya menjawab Jeraldo justru bertanya balik. Aldara mendengus kecil, pertanyaannya justru dibalas pertanyaan balik. Pandangan Aldara kini kembali menunduk, melihat kedua kakinya yang bergoyang-goyang kecil. Entah kenapa Aldara merasa sedikit canggung sekarang.
***
Mobil Jeraldo membelah jalanan kota yang mulai sepi, dengan telaten Jeraldo kembali menginjak pedal gasnya hingga kini jarum panahnya merujuk pada angka 120 rpm. Tanpa menunggu lama pun akhirnya mobil hitam bermerkkan porche itu terparkir rapi disalah satu rumah sakit di Jakarta. Dengan cepat, Jeraldo berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang tidak banyak orang lalu lalang, karena hari juga semakin larut. Kebanyakan pasti sudah istirahat selain petugas dan perawat di rumah sakit ini yang berjaga. Tidak lama pintu lift yang di naiki Jeraldo terbuka. Pertama kali pandangannya bertemu dengan seorang pria yang kini berdiri di depan meja administrasi rumah sakit. Tanpa menunggu lama langkah panjang Jeraldo berjalan ke arah pria itu.
"Bang," panggil Jeraldo.
"Lo?" kaget Aldo.
"Gimana kabar bokap lo?" tanya Jeraldo tanpa basa-basi. Matanya menelisik kesana kemari mencari keberadaan seseorang yang tidak ia lihat sedari tadi. Apa ia di rumah?.
Aldo terlihat menghembuskan nafasnya sejenak, melirik berbagai lembar kertas di depannya, kemudian berucap. "Gue udah nemu pendonornya," jawab Aldo memberitahu, kemudian tersenyum sekilas menatap Jeraldo. Jeraldo tidak terkejut akan informasi ini, ia sudah diberi tahu beberapa saat yang lalu oleh Aldo.
"Gue tau siapa pendonornya, tapi gue nggak tau siapa orang di balik ini." ungkap Aldo.
"Itu urusan belakang. Yang harus lo pikirin gimana kondisi bokap lo, sama gimana operasinya nanti," jawab Jeraldo sekenanya. Matanya tak henti menelisik area rumah sakit yang bisa ia jangkau dengan pandangannya. Tidak ada tanda-tanda kemunculan gadis itu.
"Thanks."
"Gue harusnya minta maaf, gue telat tau soal ini," ucap Jeraldo sedikit tertunduk. Jeraldo baru tahu soal kondisi Haris kemarin, itupun jika bukan Jeffry yang memberitahunya. Karena sudah hampir seminggu lebih ini, Jeraldo tidak berada di tanah air, melainkan berada di Jerman. Jeraldo harus mengurus beberapa hal bersama Jeffry ayahnya, mengenai perusahaanya yang sempat mengalami beberapa masalah yang membuat Jeraldo harus banyak bekerja dan menanganinya langsung. Bahkan Jeraldo baru mendarat dan sampai di Jakarta setengah jam yang lalu, dan buru-buru ia langsung ke rumah sakit untuk menemui Aldo dan tentu, gadis yang ia cari sedari tadi, tapi belum berhasil ia temukan.
"Lo baru tau, tapi tindakan lo udah sejauh ini," jawab Aldo memperlihatkan selembar kertas putih, bertuliskan kwitansi pembayaran rumah sakit. "Gue bakal ganti duit lo secepatnya," lanjut Aldo, kembali membaca kwitansi pembayaran itu. Dengan nominal yang besar, Jeraldo telah mengeluarkan uangnya dengan jumlah demikian untuk biaya rumah sakit Haris, dari ruang rawat inap, biaya operasi transpalantasi jantung, hingga pengobatan rutin pasca operasi. Aldo tahu kalau keluarga Jeraldo adalah orang kaya raya, tapi ia tidak pernah menyangka dengan tindakannya yang se-enteng ini mengeluarkan uang yang nominalnya tidak kira-kira, sampai ratusan juta begini.
"Gue nggak mengharapkan kalimat itu," jawab Jeraldo, menyenderkan punggungnya ke meja di sampingnya. "Aldara mana?" tanyanya langsung. Sedari tadi ia sudah ingin menanyakan hal ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomanceIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
