19. Shiro atau Jeraldo

448 28 0
                                        

"Wake up, Baby," panggil Jeraldo dengan nada suara yang begitu pelan, sambil memandangi Aldara yang masih terlelap di sampingnya. Sebenarnya, ini hanyalah keisengan Jeraldo yang ingin membangunkan Aldara, meskipun dia tidak yakin istrinya akan terbangun dengan mudah. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, tapi Jeraldo tidak ingin membangunkannya dengan kasar. Dia hanya ingin menikmati momen ini, ketika dia bisa memandang wajah tenang istrinya tanpa harus terburu-buru oleh waktu.

Perlahan, kedua pipi Jeraldo tertarik membentuk sebuah senyum saat menyadari bahwa sebelah tangannya tepat berada di atas perut Aldara, yang kini tergenggam hangat oleh tangan yang lebih kecil itu. Kehangatan itu membuat hatinya berdesir, mengingatkannya pada betapa beruntungnya dia memiliki Aldara sebagai pendamping hidupnya.

"Nih, cewek gengsi kalau bangun dan tahu kelakuannya sendiri begini, bisa jadi singa betina yang ngamuk tiba-tiba, pasti," gumam Jeraldo pelan, mempertahankan senyumnya. Dia tahu betul karakter Aldara—sedikit keras, sedikit gengsi, tapi begitu manis dan penuh cinta. Tapi siapa sangka, gumamannya justru membuat Aldara menggeliat, tanda terganggu dari tidurnya. Perlahan, Aldara membuka matanya, mengerjapkannya berkali-kali, hingga pandangan pertama yang ia tuju adalah Jeraldo di sampingnya, menatapnya dengan lembut, dengan senyuman yang setia terukir di bibirnya. Ada sesuatu di mata Jeraldo yang selalu membuat Aldara merasa aman dan dicintai, meski dia jarang sekali mengakuinya.

"Morning," sapa Jeraldo lembut, penuh kehangatan.

Aldara yang mendengar itu hanya bisa mengangguk-angguk lemah sebagai jawaban. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, dan kini perlahan mata itu kembali ingin tertutup rapat. Butuh adaptasi lama hingga pada akhirnya kedua manik indah itu terbuka dengan sempurna.

"Udah jam berapa?" tanya Aldara, sambil mengucek matanya, suaranya masih serak mengantuk.

"Jam sembilan lewat," jawab Jeraldo, masih dengan senyumnya yang hangat. Dia bisa melihat kelelahan di wajah Aldara, mungkin sisa dari acara kemarin yang begitu melelahkan. Jeraldo sendiri bangun lebih awal, memilih untuk tidak membangunkan Aldara cepat-cepat karena dia tahu istrinya masih butuh istirahat yang panjang. Namun, ada sesuatu yang memaksanya untuk tetap terjaga di samping Aldara, memandangi wajah damai itu dalam tidurnya. Mungkin itulah yang dinamakan cinta, perasaan yang membuatnya ingin terus berada di dekat Aldara, bahkan dalam ketenangan tidur.

"Tidurnya nyenyak, hmm?" tanya Jeraldo sambil mengusap-usap rambut Aldara dengan lembut. Aldara menggeliat sambil meregangkan otot-otot tubuhnya. "Nyenyak," jawabnya, suaranya masih malas.

Jeraldo mengangguk-angguk setuju. Tangannya bergerak mengambil remot AC lalu menaikkan sedikit suhunya. "Iya, dong nyenyak. Soalnya tidurnya sambil melukin suaminya," celutuk Jeraldo dengan nada menggoda.

Aldara yang mendengar itu segera memberikan lirikan tajam pada Jeraldo, dengan kedua alis mengkerut heran sekaligus tidak terima dengan pernyataan tersebut. "Jangan ngawur. Mana ada gue peluk lo," balas Aldara cepat.

"Ya, kan lo tidur. Mana sadar lagi," balas Jeraldo sambil tertawa kecil.

Aldara segera berbalik memunggungi Jeraldo, kedua alisnya tetap mengerut, bingung apakah yang dikatakan oleh Jeraldo ini suatu kebenaran atau hanya kebohongan untuk menggodanya pagi-pagi begini. **Masa gue tidur sambil meluk dia? GUE MELUK DIA? batinnya. Rasanya malu sekaligus tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar.

Sementara itu, Jeraldo tetap bersikap biasa, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, dengan senyum lebar yang tak kunjung hilang dari wajahnya. Dia sangat menikmati momen ini, melihat istrinya yang gengsinya setengah mati tapi tetap manis dan menggemaskan.

"Nggak usah malu, Sayang. Kan, yang dipeluk suami sendiri, bukan cowok lain," ujar Jeraldo, suaranya terdengar lembut namun menggoda.

"Ngga! Gue nggak ada meluk-meluk lo," ketus Aldara. Dia berbalik menatap Jeraldo dengan tajam, kemudian mengambil guling yang berada di antara mereka, dan kembali ke posisi memunggungi Jeraldo. "Lo ngigau karena kecapean," lanjutnya dengan nada merajuk.

Jeraldo-AldaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang