Hari begitu cepat berlalu bagi Aldara. Hingga sampai pada hari ini, hari yang benar-benar tidak pernah dinanti sekalipun dalam hidupnya. Kalau bisa pun, Aldara ingin hari ini tidak ada, atau mungkin seandainya bisa, ia ingin menggunakan mesin waktu untuk segera melompat ke hari esok.
"Gue duluan ya, sama ayah," ucap Aldo yang kini sudah berpakaian rapi bersama Haris. Aldara menatap dua pria yang beda umur di depannya dengan bergantian, dengan raut wajah memelasnya.
"Nanti lo dijemput sama dia," ujar Aldo lagi.
Aldara menghela nafasnya. Entah sudah berapa kali helaan nafas itu keluar tiap menitnya. Aldara benar-benar tidak habis pikir lagi pada keluarganya sendiri.
"Masa kudu dijemput sama dia. Emang lo nggak bisa jemput gue apa?" sungut Aldara. Inilah mengapa ia tidak mau hari ini ada. Karena hari ini adalah hari di mana keluarga Aldara akan bertemu dengan keluarga teman Haris. Untuk membicarakan perjodohan. Bukan hanya itu, yang lebih parahnya adalah, pertemuan keluarga ini dilakukan di sebuah tempat, yang Aldara belum tahu di mana, tapi yang pasti part yang cukup menjengkelkan adalah Aldara akan pergi dengan dijemput oleh pria itu. Pria yang bahkan Aldara tidak tahu siapa, seperti apa bentukannya, dan bagaimana jika bentukannya seperti om-om. Aldara pastikan saat itu juga ia akan kabur lewat jendela belakang rumah.
"Kan gue harus anter ayah check up dulu. Dari rumah sakit, gue langsung ke tempat, sama ayah," jawab Aldo.
"Tapi kan, bisa jemput gue dulu setelahnya. Baru ke sana bareng-bareng," ucap Aldara masih kekeuh dengan pendiriannya. Pokoknya ia ingin berangkat bersama keluarganya, tidak dengan pria yang ia bahkan tidak kenal itu.
"Biar sekalian kenalan dulu, Nak. Jadi nanti nggak canggung." Kini Haris yang bersuara. Karena sedari tadi ia hanya menyaksikan kedua anaknya terus adu mulut ini.
Aldara kini beralih pada Haris, duduk di samping ayahnya. "Tapi kan, nggak harus juga pake dijemput segala. Biar nanti di sana aja kenalannya," ujar Aldara. Kini bergelayut manja di lengan sang ayah, tidak lupa dengan puppy eyes andalannya, berharap sang ayah bisa luluh padanya. "Kita berangkatnya sama-sama aja ya, ya, ya. Ayah...," pinta Aldara dengan rengekannya manjanya pada sang ayah.
Haris yang melihat putri kecilnya yang kini merengek meminta hanya bisa tersenyum sambil mengusap sayang pucuk kepala Aldara. Haris sudah lebih dulu menyetujui bahwa Aldara akan dijemput, semua ia lakukan agar keduanya bisa saling mengenal lebih cepat. "Berangkatnya sama dia aja ya, nanti di sana tetap ketemu sama ayah kok," ucap Haris.
Sontak Aldara langsung mempoutkan bibirnya dengan lucu. Harapannya Haris akan setuju, tapi sepertinya sudah tidak bisa dinegosiasi lagi. Apa yang bisa Aldara lakukan selain menuruti lagi untuk kali ini.
"Percaya sama gue," ujar Aldo. Membuat Aldara melirik malas ke arahnya.
"Percaya sama lo sama dengan musyrik," dengus Aldara. Kemudian merebahkan dirinya dengan nyaman di atas sofa.
Aldo dan Haris terlihat sudah siap untuk berangkat, karena tujuan pertama mereka adalah rumah sakit. Sore ini Haris ada jadwal check up biopsi mengenai jantungnya.
"Ayah duluan ya," pamit Haris keluar menuju pintu, disusul oleh Aldo.
Aldara hanya menatap dengan malas kepergian ayah dan kakaknya. Ingin sekali ia ikut bersama, tapi ya mau bagaimana lagi. Jadwal Aldara berangkat itu beberapa jam lagi, dan akan pergi bersama pria yang akan dijodohkan dengannya.
"Lo jangan lupa siap-siap. Jam 5 nanti dia bakal datang," ucap Aldo dengan kepala menyembul dari balik pintu.
"Iye, tau," jawab Aldara dengan malas. Kemudian bangun, berjalan gontai menuju kamar. Ia hanya ingin hari ini cepat berlalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomanceIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
