15. Cowok Setress

253 23 0
                                        


Aldara melenguh sambil mengerjapkan matanya berkali-kali. Pandangan pertama yang ia lihat adalah dirinya berada di sebuah ruangan dengan bernuansakan warna putih dan coklat.

"Gue ketiduran?!" Aldara kaget, ketika kesadaran dan nyawanya sepenuhnya terkumpul. "Gue di mana?" tanyanya entah pada siapa. Ia langsung bangun dari posisi merebahkan pungggung nya di sofa. Ada jas hitam yang kini menutupi paha dan kedua lututnya.

"Udah bangun?" suara bariton itu menggema di gendang telinga Aldara. Ia pun langsung menengok ke samping, mendapati seorang pria dengan kemeja putih tangan tergulung, dan celana hitam kainnya. Aldara sempat terkesima beberapa saat, aura Jeraldo memang luar biasa ternyata, padahal Aldara baru bangun tidur, loh, ini.

"Lo abis ngapain gue?" tuduh Aldara, mulai berpikir macam-macam, apalagi melihat seringai halus yang tercipta di sudut bibir Jeraldo. Terakhir ia memang berada di kantor ini bersama Jeraldo. Karena Jeraldo mengatakan ada hal penting yang harus ia kerjakan.

Jeraldo menyunggingkan senyum di bibirnya. Kemudian berjongkok, tepat di depan Aldara. "Tadi malam tidur jam berapa, hmm?" tanya Jeraldo. Aldara hanya mengeryitkan dahinya bingung. Apa tadi ia ketiduran di sini.

"Gue ketiduran?" tanya Aldara, ingin menuntaskan rasa penasarannya. Kenapa ia bisa berakhir tertidur begini. Yang ia ingat, beberapa jam yang lalu ia berada di resto, kemudian datang ke kantor ini dan...

"LO NGGAK NARUH OBAT TIDUR DI MAKANAN GUE TADI, KAN?"

Jeraldo terkesiap beberapa detik, karena nada suara Aldara yang tiba-tiba naik beberapa oktaf itu. Kemudian setelahnya Jeraldo langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban. Berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju Aldara hingga bokongnya jatuh sempurna tepat di samping gadisnya ini.

"Kalau lo capek harusnya bilang ke gue," ujar Jeraldo menyenderkan punggungnya ke sofa. Merasa lelah setelah berjam-jam memeriksa tumpukan kertas di atas meja, apalagi kalau bukan laporan. Sedangkan Aldara, sesampainya di kantor, gadis itu hanya asik duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, dan Jeraldo mulai sibuk dengan laptopnya sambil sesekali memerhatikan Aldara. Takut jika gadis itu merasa tidak nyaman.

Namun tidak berselang lama, Aldara yang semula asik berkutat dengan ponselnya, sesekali tertawa tiba-tiba menjadi diam, tetapi tidak dengan ponselnya. Alias hanya ponsel Aldara yang menyala sedangkan pemiliknya sudah terlelap. Jeraldo bangkit dari kursinya dan langsung menghampiri Aldara, dan benar saja ternyata Aldara tertidur.

"Lo capek ya?" gumam Jeraldo dengan pelan.

Jeraldo mengembangkan senyumnya, bahkan tertidur sekalipun Aldara tetap cantik dan menggemaskan. Jeraldo mengambil remot AC dan menaikkan suhunya, kemudian membuka jas nya dan menutupi paha hingga lutut Aldara. Karena Aldara hanya menggunakan dress selutut. Akan tetapi tidak lama kemudian, pintu ruang kerja Jeraldo di ketuk dari luar, berkali-kali. Membuat Aldara yang tertidur merasa sedikit terganggu, terbukti dengan sedikit geliatannya.

"Ganggu, anjir. Nggak tau kalau istri gue lagi tidur apa?" gerutu Jeraldo dengan suara pelan, takut justru karena suaranya yang membangunkan Aldara. Dengan gerakan perlahan, Jeraldo bangkis lalu bergegas membuka pintu ruangannya.

"Apa?" tanya Jeraldo tanpa basa-basi lagi, tidak peduli jika sekarang ini adalah di kantornya sendiri. Jeraldo berdiri tepat di depan pintu, bahkan tidak mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu masuk ke dalam. Yang tidak lain orang itu adalah sekretarisnya sendiri, Budi.

"Yang di dalam siapa, Pak?" Tanya Budi menyengir, dengan map tebal di sebelah tangannya. Sesekali berusaha mengintip di balik bahu lebar milik Jeraldo.

Jeraldo-AldaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang