29

214 18 0
                                        

Aldara berdiri terpaku di dekat jendela, matanya menatap kosong ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan terasa terlalu terang, menyilaukan matanya yang sembab akibat kurang tidur. Pikirannya penuh dengan pertanyaan, seolah-olah badai sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Hatinya terasa hancur, tercabik-cabik oleh kenyataan yang ia temui semalam.

"Mah... Dara harus gimana sekarang?" lirih Aldara, suaranya nyaris tak terdengar. Tatapannya menerawang jauh, seolah berharap ibunya yang telah tiada bisa memberinya jawaban, memberinya kekuatan untuk melewati rasa sakit ini. Ada keheningan yang menyakitkan, menghantui setiap detik yang berlalu. Aldara tak bisa berpikir jernih. Setiap upaya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi malah semakin membuat pikirannya buntu. Fakta yang ia temukan semalam—foto, dokumen—semuanya begitu nyata, tapi tak mungkin... bukan? Ia tak ingin percaya, namun tak ada cara untuk menyangkalnya. Kepalanya terus berdenyut, perasaan ketidakpercayaan menelusup hingga ke dalam relung terdalam hatinya.

Dengan langkah berat, Aldara bolak-balik di dalam rumah. Ia masuk ke kamar, keluar lagi ke ruang tamu, kembali lagi ke dapur, seolah berharap menemukan sesuatu yang berbeda—sesuatu yang bisa menjawab semua tanda tanya yang menyiksa pikirannya. Tapi setiap sudut ruangan yang ia lihat tetap sama. Rumah ini tetap sama. Kehangatan yang pernah ia rasakan di sini terasa memudar, digantikan oleh dinginnya keraguan yang tak bisa dihilangkan begitu saja. Namun ada satu hal yang mencolok. Aldara berhenti di depan cermin, mengamati dirinya sendiri. Warna... warna di dalam foto itu berbeda. Tidak. Itu bukan alasan yang cukup kuat. Warna... kan bisa diganti, gumam Aldara pelan, mencoba membenarkan pikirannya. Tapi alasan itu terasa kosong. Tidak cukup untuk mengusir bayangan buruk yang terus menerornya. Aldara menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak. Apa benar? pikirnya, berusaha keras menahan air mata yang sudah mengancam akan jatuh. Apa benar Jeraldo menyembunyikan ini darinya?

Aldara ingin percaya pada Jeraldo, ingin percaya bahwa semua ini hanya salah paham, bahwa semuanya akan dijelaskan saat Jeraldo pulang nanti. Tapi rasa sakit yang menusuk-nusuk dadanya tak bisa diabaikan. Ia merasa seakan-akan dihantam oleh kenyataan yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri. Jantungnya berdegup kencang, perasaannya campur aduk antara marah, sedih, bingung, dan takut. Ia mencoba memfokuskan pikirannya, tapi setiap kali ia memikirkan Jeraldo, hatinya kembali sakit.

"Tapi Kak Jeral nyuruh gue buat percaya...." Aldara mencoba mengingat kata-kata Jeraldo. Setiap kali Jeraldo memintanya untuk percaya, ia selalu melakukannya tanpa ragu. Jeraldo selalu ada untuknya, selalu bisa diandalkan. Namun, kali ini... semuanya terasa berbeda. Bagaimana bisa Aldara mempercayai suaminya ketika fakta yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri begitu menyakitkan?

Langit di luar mulai berubah warna, seiring dengan pergantian hari yang tak terasa. Aldara berdiri di ambang jendela, merasakan udara dingin yang perlahan-lahan meresap melalui celah-celah rumah. Hatinya semakin tenggelam dalam kebingungan. Bagaimana ini bisa terjadi? pikirnya, sekali lagi berusaha menenangkan hatinya yang kacau.

Aldara menarik napas dalam-dalam, mencoba memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia tahu, sebentar lagi Jeraldo akan pulang. Waktu yang semula terasa lambat kini berjalan begitu cepat, dan Aldara harus memutuskan bagaimana ia akan menghadapi suaminya. Mungkin... mungkin Jeraldo punya penjelasan. Mungkin ada alasan di balik semua ini.

Aldara harus menyambut Jeraldo seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah perasaannya yang kini berkeping-keping tidak pernah ada. Tapi Aldara tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu begitu saja. Setiap kali ia mencoba tersenyum, setiap kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja, hatinya menjerit dalam diam.

"Apa gue tanya lagi?" Aldara ragu. Dia tahu, Jeraldo akan memberi tahu jika waktunya sudah tepat. Setidaknya, itulah yang selalu ia yakini. Tapi bagaimana jika Jeraldo tidak pernah bermaksud menceritakannya? Bagaimana jika Jeraldo sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari yang Aldara duga?

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang