9. Terungkap

431 43 9
                                        

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Kini Haris sudah menjalani operasinya dan berjalan dengan lancar. Hanya saja butuh waktu untuk pulih seperti sedia kala, atau bisa dibilang Haris harus menjalani pengobatan rutin. Aldara tidak henti-hentinya merapalkan rasa syukur, akhirnya Haris kini sudah membuka matanya, bahkan sudah berada di ruang rawat inapnya seperti biasa. Wajahnya pun perlahan-lahan sudah kembali berseri seperti biasa.

"Kak, yang sebenarnya nemuin pendonor jantung buat ayah itu, siapa?" tanya Aldara pada Aldo.

 "Apa om yang di dalem, yang lagi bareng ayah itu?" tanya Aldara lagi. Kini kakak beradik ini berada di depan ruangan rawat Haris, karena Haris kedatangan tamu. Akhirny Aldara dan Aldo kompak menunggu di luar. Tidak ingin ikut campur urusan orang dewasa, jadi mereka berdua memilih di luar. Seperti inilah sekarang, Aldara dengan pertanyaan yang sama selalu ia ajukan pada Aldo mengenai siapa sebenarnya dibalik pendonor jantung ayah mereka. Pihak rumah sakit telah berjanji untuk tidak memberitahu.

Aldara duduk sambil memegangi dagunya, otaknya ia putar paksa untuk berpikir dan menebak-nebak, siapa yang bisa melakukan demikian untuk keluarganya. Kenapa harus ditutupi. Apa ia orang terdekat Aldara, ataukah orang asing yang hanya ingin berbaik hati mendonorkan jantungnya karena ia terkena penyakit yang sebentar lagi akan merenggut nyawanya? Berbagai pertanyaan terus bersarang di kepala Aldara saat ini. Satu sisi ia lega akhirnya kondisi ayahnya berangsur-ansur membaik, tapi disatu sisi ia dihantui pertanyaan akan hal ini.

"Ahhh, gue nggak tau. Nggak bisa menerka-nerka." frustasi Aldara mengacak-acak pelan rambutnya. Otaknya sudah terlalu lelah dipakai untuk mengerjakan skripsinya, ditambah harus memikirkan ini. Sungguh Aldara ingin tidur saja sekarang.

"Gue nggak tau, om jeffry atau bukan," jawab Aldo hampir sama frustasinya dengan Aldara. Akan tetapi menurut keterangan yang ia dapat dari Jeraldo, Jeffry belum sempat menemukan pendonor jantungnya sewaktu tiba di Indonesia. Sedangkan Aldo dikabari oleh dokter, di waktu yang sama ketika Jeraldo dan papahnya ini sampai di Indonesia.

Aldara dan Aldo juga sudah memperbaiki hubungan mereka, kesalahpahaman di malam itu akhirnya menemukan titik terang. Keduanya hanya sama-sama berada dititik rapuh masing-masing, dengan pengekspresian berbeda. Akhirnya, semuanya meluapkannya sendiri-sendiri, dan kembali bertemu dengan pikrian yang jauh lebih dingin.

"Lo mulai malam ini bisa nginap lagi di rumah. Dua hari lagi kan ayah pulang," ujar Aldo merebahkan punggungnya di senderan kursi. Bebannya beberapa hari ini terasa luluh lantah, kondisi Haris akhirnya mulai berangsur membaik. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah bagaimana agar bisa membayar sejumlah uang yang telah Jeraldo keluarkan untuk biaya Haris. Bahkan pria yang lebih muda darinya itu tidak tanggung-tanggung mengeluarkan biaya hingga pengobatan biopsi tiap pekan, disetiap bulannya untuk Haris.

"Gue disogok apa gimana dah?" celutuk Aldo membuat Aldara yang semula asik bermain ponsel, langsung menengok ke Aldo dengan alis mengeryit, meminta jawaban atas kalimat yang baru saja keluar dari bibir itu.

"Apa?"

"Lo ngomong apa barusan? Sogok? Lo disogok siapa?" tanya Aldara dengan rasa penasarannya yang tinggi. Setinggi harapan Haris untuknya agar segera lulus dan mendapat tittle, bekerja dan menjadi ceo muda.

"Gue ngelantur," jawab Aldo asal. Netranya kini tertutup rapat, untuk sekedar mengelabui Aldara alias pura-pura tidur. Karena tidak mungkin ia memberitahukan ke Aldara perihal biaya rumah sakit yang sudah dibayar lunas oleh pria bernama Jeraldo Adiyama. Sesuai permintaaan pria itu pula, Aldara tidak boleh sampai tahu.

***

"Halo, Ayah," sapa Aldara kini berjalan riang menuju hospital bed milik Haris. Dengan senyum merekah di bibirnya, yang juga disambut senyuman hangat dari Haris sang ayah.

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang