20. Aku-Kamu

441 22 2
                                        

"Aldara sayang, kamu di mana?" teriak Jeraldo menggelegar dari lantai dua, membuat Aldara memutar bola matanya dengan malas. Pagi-pagi begini, ada apa lagi sih dengan suaminya itu.

"Apasih? Aku lagi di dapur!" balas Aldara setengah berteriak sambil mengaduk bumbu masak di wajan.

"AKU BERANGKAT PAKAI BAJU APA, YA?" tanya Jeraldo lagi dengan suara yang tidak kalah keras. Teriakan itu membuat telinga Aldara bergetar. Kenapa sih suaminya itu tidak bisa turun saja ke dapur dan bertanya baik-baik? Apa susahnya?

"Ya, terserah kamu!" jawab Aldara seadanya, mencoba menahan rasa kesalnya.

"NGGAK KEDENGERAN, SAYANG!" Jeraldo masih juga berteriak. Namun Aldara memilih untuk tidak menghiraukannya. Ia kembali fokus pada kegiatan paginya yakni berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Jika dulu pagi-pagi begini Aldara masih bergelung dengan selimut tebal, sekarang sebagai istri, ia harus bangun lebih pagi dan siap dengan segala kehebohan rumah tangga ini.

"Selamat pagi, sayang," tiba-tiba terdengar sapaan lembut dari arah belakang. Bukan lagi teriakan menggelegar, tapi suara Jeraldo yang sekarang terdengar lembut dan mesra di telinganya.

Aldara, yang baru saja memasukkan beberapa potong ayam ke dalam wajan, berbalik untuk menatap suaminya. "Pagi...." Ucapannya terpotong ketika ia melihat Jeraldo berdiri tak jauh darinya. "JERALDO ADIYAMA!" Aldara berteriak sambil cepat-cepat menutup kedua matanya.

"Apa, sayang?" Jeraldo tampak bingung melihat tingkah Aldara. "Kok kamu nutup mata gitu?"

"Pergi nggak kamu!" seru Aldara, masih dengan posisi membelakangi Jeraldo, tangannya melambai ke belakang, isyarat agar suaminya segera menjauh.

Jeraldo mengernyit, masih bingung. "Kok, aku diusir, sih?"

"Buruan balik ke kamar sana," perintah Aldara tegas.

"Nanti dulu, baru juga aku turun. Aku mau bantuin kamu nyiapin sarapan," kata Jeraldo mencoba mendekat.

"Aku bilang balik ke kamar sekarang! Jangan deket-deket!" Aldara semakin ketus. Ia tidak bisa fokus kalau Jeraldo berdiri di sana dengan penampilan seperti itu.

"Nodain apa, sih, Ra?" Jeraldo masih tidak paham. Dia menunduk, baru menyadari bahwa dia hanya memakai boxer. "Oh," katanya sambil terkekeh.

"Iya! Kamu tuh sadar nggak sih kalau kamu nggak pakai baju!" Aldara kesal. Bagaimana bisa pagi-pagi begini sudah disuguhi pemandangan tubuh Jeraldo yang shirtless, hanya mengenakan celana boxer selutut.

Jeraldo menatap dirinya sendiri dari atas hingga bawah, lalu kembali melihat Aldara yang tetap memunggunginya. "Dari tadi emang nggak pakai baju, Ra," jawab Jeraldo pokamus.

Aldara memutar bola matanya, jengah. "Jeraldo, please, balik ke kamar sekarang. Aku nggak mau lihat kamu kayak gitu!"

Alih-alih menuruti perintah Aldara, Jeraldo malah berjalan mendekatinya, berdiri di belakang Aldara yang sibuk membalik ayam goreng di wajan. "Aku masih pakai celana. Nggak telanjang, Ra."

"Tetap aja kamu nggak pakai baju!" Aldara mulai merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal kecil seperti ini. Jeraldo menyeringai, mendekatkan wajahnya ke telinga Aldara. "Ra, badan aku bagus, masa kamu nggak mau lihat?"

Aldara mendesah frustrasi. Jujur saja, Aldara sudah salting setengah mati. Tetapi dia berusaha menutupinya dengan bersikap ketus pada Jeraldo. "Jeraldo, plis, deh. Aku lagi masak. Pakai baju kamu sana," kata Aldara dengan suara yang mulai bergetar, berusaha keras menyembunyikan rasa gugupnya.

"Ya, tinggal masak aja. Kan aku turun ke sini mau bantuin kamu masak," Jeraldo mencoba membujuk, kini berpindah posisi, menyenderkan pinggangnya di pinggiran dapur, semakin mendekati Aldara. Aldara mendelik, cepat-cepat bergerak menuju meja makan untuk menaruh piring berisi ayam goreng. "Balik ke kamar, atau aku yang goreng kamu selanjutnya!" ancam Aldara serius, membuat Jeraldo langsung tersentak.

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang