26

292 28 1
                                        

Pagi itu terasa begitu tenang, meskipun di hati Aldara ada sedikit kegelisahan yang tak dapat disangkal. Matahari memancarkan sinarnya dengan lembut melalui jendela kamar, dan Aldara mendapati dirinya merenung sejenak, memandangi wajah Jeraldo yang masih tertidur pulas di sampingnya. Wajah itu tampak damai, seolah segala lelah dan stres pekerjaan yang akhir-akhir ini menyita banyak waktunya tidak berbekas sama sekali. Padahal, Aldara tahu betul bahwa Jeraldo tengah berusaha keras menyelesaikan banyak hal, terutama terkait pekerjaan yang tiada hentinya. Namun, rasa sebal itu tetap ada, meski Aldara berusaha mengabaikannya. Sudah beberapa malam ini Jeraldo pulang larut, dan setiap kali, Aldara selalu mendapati dirinya sendirian, menunggu tanpa kepastian kapan suaminya akan tiba. Lebih parahnya lagi, kadang Jeraldo lupa memberitahu kalau ia harus lembur, membuat Aldara merasa semakin tak diperhatikan. Mata Aldara kembali terpejam, mencoba mengusir rasa sebal itu, namun tetap saja sulit. Mungkin dia memang sedang manja, pikirnya dalam hati.

"Dulu peraasan nggak gini, deh." Aldara membatin. Perasaan itu muncul tanpa alasan yang jelas. Mungkin karena dirinya sudah terbiasa dengan kehadiran Jeraldo, atau mungkin karena akhir-akhir ini dia merasa Jeraldo terlalu sering pergi dan jarang ada di rumah. Mungkin sebagian juga karena Jeraldo harus mencaritahu dan menyelidiki kasus kecelakaan Hani. Pikiran Aldara terus berputar, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan memulai harinya.

Aldara turun ke dapur, mengisi ketel dengan air untuk membuat secangkir teh. Sambil menunggu air mendidih, ia mulai menyiapkan sarapan untuk Jeraldo. Tangan Aldara sibuk menggoreng telur, tapi pikirannya melayang jauh. "Pak Direktur itu sibuk, Aldara. Kerja keras buat istrinya." Aldara bergumam pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya bahwa semuanya baik-baik saja. Biasalah perempuan, suka overthinking. Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Jeraldo, dengan rambut acak-acakan dan mata yang masih sedikit mengantuk, muncul di dapur. Senyum khasnya, meskipun lelah, tetap tergambar di wajahnya. Dia menghampiri Aldara dengan langkah pelan dan mencium puncak kepalanya.

"Pagi, Sayang," ucapnya lembut.

Aldara hanya tersenyum tipis. "Pagi," jawabnya singkat sambil terus membalik telur di wajan. Biasanya, Aldara akan merespons dengan lebih ceria, tapi pagi ini dia memilih diam. Bukan karena marah, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Rasa kesepian yang selama ini dia coba abaikan mulai semakin kuat. Denial dan gengsi, apakah dua kata ini bisa menggambarkan Aldara yang sekarang?

Jeraldo bisa merasakan ada yang berbeda dari Aldara pagi ini. Biasanya, istrinya itu akan berbicara dengan ceria, namun kali ini ada jarak yang terasa. Dia memandang Aldara, mencoba mencari tahu apa yang salah. "Semalam kamu tidur nyenyak?" tanya Jeraldo berusaha mencairkan suasana.

Aldara mengangguk tanpa menoleh. "Iya, lumayan." Jawaban singkat itu membuat Jeraldo semakin yakin ada sesuatu yang mengganggu Aldara. Karena Jeraldo merasa bahwa Aldara lebih pendiam dari biasanya.

Jeraldo duduk di meja makan, memperhatikan setiap gerakan istrinya. Dia tahu Aldara terlalu baik untuk langsung mengungkapkan jika dia merasa kecewa. Wanita itu terlalu pintar menyembunyikan perasaannya, terutama ketika merasa tidak enak. Tapi Jeraldo sudah mengenal Aldara cukup lama untuk bisa membaca tanda-tanda kecil. "Kamu masak banyak hari ini?" tanyanya, mencoba mencairkan suasana dengan topik yang ringan.

Aldara hanya mengangguk lagi, kali ini sedikit lebih pelan. "Yah, aku pikir, kan Kak Jeral bakal sarapan di rumah hari ini." Suaranya terdengar ringan, tapi Jeraldo bisa menangkap nada kekecewaan yang tersirat. Ada hal yang tidak diucapkan, tapi sangat jelas terasa. Jeraldo berdiri, menghampiri Aldara, dan memegang tangannya yang sibuk di dapur.

"Sayang, kamu nggak marah, kan?" tanyanya lembut, penuh perhatian. Dia tahu, Aldara jarang marah dengan kata-kata, tapi ekspresinya yang dingin pagi ini sudah cukup berbicara banyak.

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang