"Pokoknya lo harus nolak!" peringat Aldara pada Jeraldo di sampingnya yang menyetir mobil, membelah jalanan kota. Mereka berdua berangkat menuju tempat janji pertemuan antara keluarga Aldara dan keluarga Jeraldo untuk membahas soal perjodohan mereka. Sebelum sampai, inilah yang Aldara bicarakan sepanjang jalan, mencoba bernegosiasi dan mengajak Jeraldo bekerja sama agar mereka berdua kompak untuk menolak perjodohan ini.
"Kalau gue nggak mau?" tanya Jeraldo. Melirik sekilas ke Aldara kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.
Aldara mendecak sebal. Sedari tadi sulit sekali membujuk Jeraldo agar mau bekerja sama. Akan tetapi Aldara tidak akan menyerah secepat itu. "Ya, lo harus mau! Intinya lo harus nolak. Gue nolak, lo juga nolak!"
Jeraldo memelankan laju mobilnya, hingga kini berhenti, karena perpindahan lampu besar yang menjulang di depan sana. "Ra," panggil Jeraldo yang kini sudah memusatkan seluruh perhatiannya pada Aldara.
"Hmm?"
"Kalau gue turutin mau lo. Gue dapat apa?" tanya Jeraldo terdengar serius.
Aldara nampak berpikir sejenak, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas dagu. Imbalan apa yang sebanding ia berikan untuk Jeraldo kalau pria ini mau bekerja sama dengan dirinya dan menolak perjodohan. "Gua bakal jadi teman yang baik buat lo. Gue nggak bakalan galak lagi dan...," Aldara sengaja menggantungkan kalimatnya.
Jeraldo sedari tadi terus menatap Aldara, menunggu gadis ini kembali bersuara.
"Gue bakal kabulin satu permintaan lo, apa pun itu. Asal lo beneran nolak perjodohan kita," ucap Aldara, memberikan tawaran terbaiknya. Ia yakin, Jeraldo akan mempertimbangkan atau bahkan menyetujuinya. "Gimana?"
Jeraldo melirik sekilas lampu di depan, masih berwarna merah dan masih ada beberapa detik sebelum berganti menjadi hijau. "Menarik," balas Jeraldo.
Aldara girang dalam hati, sepertinya ia berhasil sedikit demi sedikit mengajak Jeraldo bekerja sama. "Kita sepakat buat nolak sama-sama, ya," ujar Aldara dengan senyum merekah di bibirnya.
"Gue bakal tolak perjodohan ini, dan permintaan gue bakal lo kabulin. Apa pun itu kan?" tanya Jeraldo memastikan, dengan senyum miring di wajahnya. Aldara pun mengangguk-angguk antusias. Ia akan mengusahakannya.
"Gue bakal nolak perjodohan ini," ucap Jeraldo lagi, terus menatap Aldara yang kini mengembangkan senyum manis di wajahnya. "Dan permintaan gue adalah, lo jadi istri gue."
Aldara seketika terdiam seribu bahasa. Kalau permintaan Jeraldo seperti itu, sama saja hasil negosiasi ini adalah bomeerang bagi Aldara, alias tidak ada bedanya.
Jeraldo tersenyum, sepertinya Aldara sudah kehabisan kata-kata. Lampu juga sudah kembali berwarna hijau, Jeraldo pun menginjakkan gasnya, bergegas menuju ke tujuan. Ia yakin Jeffry dan keluarga Aldara sudah sampai di sana lebih dulu.
"Nggak bisa permintaannya yang lain aja?" tanya Aldara. Kembali mencoba, siapa tahu yang tadi itu hanya candaan dari Jeraldo. Masih ada kemungkinan kecil lainnya.
"Permintaan gue cuman itu," jawab Jeraldo telak.
Aldara langsung mendengus sebal, memalingkan wajahnya ke kaca jendela mobil. Sepertinya sedari awal ia salah kalau mengajak Jeraldo bekerja sama. Aldara harap keajaiban datang menghampirinya. Keajaiban yang membuat perjodohan ini tidak terjadi.
***
Mobil porsche putih terlihat sudah terparkir rapi di depan salah satu restoran bintang lima di ibu kota. Dua insan di dalamnya keluar secara bersamaan, nampak begitu serasi bak pasangan muda yang baru saja menikah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomanceIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
