35

236 15 0
                                        

"Kak Jeral?" panggil Aldara tidak percaya akan semua ini. "Ini beneran kamu? Kak Jeral?" Aldara terus bertanya dengan pandangan tidak percaya. Dadanya terus naik turun akibat nafasnya yang juga terus memburu sedari tadi.

"Ini aku sayang. Suami kamu" jawab Jeraldo.

Aldara kemudian langsung bangun dan memeluk Jeraldo dengan erat. Jeraldo yang dipeluk tiba-tiba terperanjat kaget sesaat, mengingat kondisi diantara mereka. Akan tetapi di satu sisi Jeraldo bersyukur setelah sekian lama akhirnya ia bisa merasakan kembali pelukan hangat ini, pelukan yang begitu ia rindukan.

"Kak Jeral jangan pergi lagi" ucapnya pelan, mengeratkan pelukannya pada suaminya ini.

"Aku enggak pergi kemana-mana, sayang. Aku disini sama kamu" Jawab Jeraldo lembut. Tangannya terulur balas memeluk Aldara.

"Gaboleh kemana-mana" Aldara bergumam menggelengkan kepalanya.

"Enggak, sayang. Aku di sini dari tadi nungguin kamu bangun" ucap Jeraldo mengelus-elus punggung istrinya. Semenjak kejadian tadi malam, selepas pulang dari rumah Jeffry. Jeraldo tertidur di ruang kerjanya, tapi sebelum Aldara terbangun beberapa saat yang lalu Jeraldo masuk ke kamar ingin menghampiri Aldara. Meksipun suasana diantara mereka seperti ada peperangan, tapi Jeraldo berusaha untuk mencairkan semua itu kembali.

"Pokoknya jangan pernah ninggalin aku lagi" ucap Aldara mempererat pelukannya.

"Aku enggak kemana-mana, Sayang" jawab Jeraldo lagi kemudian mengecup pucuk kepala Aldara. "Kenapa? Mimpi buruk, hmm?" Tanyanya seraya tangannya setia mengusap-usap lembut punggung Aldara, menangkan istrinya ini.

Aldara melonggarkan pelukannya, mendongak menatap mata Jeraldo. Memastikan bahwa benar, suaminya kini berada bersamanya. Jeraldo tidak meninggalkannya.

"Jangan pergi. Gaboleh, gamau ditinggal" Aldara meracau melengkungkan bibirnya kebawah. Jeraldo dapat melihat dengan jelas bagaimana air mata itu jatuh bergantian di sebelah pipi kanan dan kiri Aldara.

"Aku disini. Enggak kemana-mana. Aku enggak bakalan ninggalin kamu, Sayang" Jeraldo berujar dengan lembut. Tangannya bergerak mengusap kedua pipi Aldara.

"Mimpi buruk?" Tanya Jeraldo lagi. Karena saat Jeraldo menaiki kasur, sangat kentara dari wajah gusar Aldara yang sedang tertidur.

"Iya" jawab Aldara kemudian memecahkan tangisnya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Rasa sakitnya lebih sakit dari yang pernah Aldara rasakan. Tidak mau, Aldara tidak mau merasakan itu dalam kehidupan nyata. Cukup di mimpi saja.

Jeraldo dengan cepat kembali membawa Aldara dalam pelukannya. Mengecup pucuk kepala istrinya ini, dan kembali mengusap-usap lembut punggungnya. Sebenarnya ada perasaan takut. Takut jika Aldara menolak perlakuannya ini, mengingat bagaimana perang dingin diantara mereka. Akan tetapi yang terpenting sekarang apa yang Jeraldo takutkan tidak terjadi. "Aku enggak kemana-mana, Sayang. Aku disini terus sama kamu" Jeraldo dengan lembut berusaha mencoba menenangkan Aldara.

Ia tidak tahu mimpi apa yang barusan Aldara alami. Tapi yang jelas, ia tidak akan meninggalkan Aldara. Tidak akan pernah. Dan Aldara, masih terus menangis dalam pelukan Jeraldo, ia begitu bersyukur semuanya hanyalah mimpi. Jeraldo meninggalkannya, itu semua hanyalah mimpi. Dan Aldara berharap itu tidak akan pernah terjadi. Tidak, Aldara memohon dengan sangat kepada Tuhannya.

***

Setelah kejadian pagi tadi, seolah dinding es yang menghalangi Jeraldo dan Aldara meleleh begitu saja. Semuanya kembali seperti dulu, bahkan mungkin lebih baik. Wajah dingin Aldara sudah tidak lagi terlihat, nada bicaranya yang sempat datar kini hangat kembali. Seperti sebuah keajaiban. Pagi ini begitu sempurna.

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang