17. The Wedding

333 23 1
                                        

Jeraldo tengah menikmati olahraga paginya dengan bermain-main basket di halaman belakang rumah. Tangannya dengan lihat memantul-mantulkan bola berwarna coklat garis hitam itu, lalu berlari menuju ke bawah ring dan dengan gerakan santai nan rapi, bola yang semual di tangannya berhasil masuk ke dalam ring tersebut.

"Gugup?" tanya seseorang dengan suara yang begitu berwibawa, ikut bergabung ke lapangan bersama Jeraldo.

"Pah," sapa Jeraldo. Berlari-lari sambil memantulkan bola menuju ke Jeffry. Dengan isyarat tangan, Jeraldo lekas melempar bola basket tersebut ke arah Jeffry yang sukses diterima dengan sempurna. "Nice shoot, Pah," seru Jeraldo. Kala Jeffry berhasil dengan santainya menembak three point setelah dioper bola oleh Jeraldo. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bakat basket Jeraldo memang menurun dari Jeffry.

"Udah sampai mana, nih pendekatannya?" tanya Jeffry dengan antusias. Menepuk sebelah pundak Jeraldo, lalu mengisyaratkan untuk duduk di tepat di tengah lapangan, sesuai posisi mereka berdua. Jeraldo pun langsung mendudukkan bokongnya tanpa pikir panjang. Merentangkan kedua kakinya, lalu merebahkan tubuhnya ke tanah. Ia sudah cukup lelah berolahraga sedari tadi.

"Kenapa gugupnya nggak hilang-hilang, ya," ucap Jeraldo. Mengabaikan pertanyaan dari Jeffry. Jeffry yang mendengar keluhan Jeraldo pun sontak tersenyum mengerti. Akan apa yang dialami anak semata wayangnya ini.

"Itu normal, Nak. Papah juga dulu gugupnya berhari-hari," jawab Jeffry. Lalu ikut mendudukkan dirinya tak jauh dari tempat Jeraldo terlentang. "Tapi yang harus kamu tau, itu adalah momen yang paling berharga di hidup kamu. Di mana kamu akan mengubah status dan akan mempersunting seorang wanita yang akan menemani kamu disisa umur kamu. Wajarlah kamu gugup, apalagi banyak tamu, ya, kan. Salah sebut nama bisa berabe urusannya" tutur Jeffry dengan sedikit bercanda. Ia bisa merasakan dengan jelas kegelisahan dan kegugupan Jeraldo perihal pernikahannya yang digelar besok. Tidak terasa, anak yang ia besarkan sedari kecil, sebentar lagi akan memilih hidup barunya. Anak yang baru saja rasanya kemarin merengek minta dibelikan mobil tamia, sekarang sudah bisa membeli berbagai macam mobil untuk dikoleksi.

"Nikmatin tiap prosesnya. Papah selalu percaya sama jagoan papah yang udah besar ini," lanjut Jeffry. Melemparkan bola basket ke arah Jeraldo dengan tiba-tiba. Akan tetapi dengan santainya Jeraldo langsung bisa menangkap bola tersebut. Lihatlah, apa yang perlu Jeffry khawatirkan, anaknya benar-benar tumbuh menjadi pria hebat dan tangguh.

"Mau one-on-one?" tantang Jeraldo yang kini sudah berdiri sambil men-dribble bola basketnya. Jeffry yang melihat itu langsung melambaikan tangannya sambil geleng-geleng kepala.

"Nggak, energi papah udah habis dipake nge-gym," jawab Jeffry langsung menyerah. Dirinya sudah lebih dulu teerbantai malam tadi, one-on-one bersama Jeraldo. "Pendekatannya udah sampai mana? Papah liat kalian udah lumayan akrab, tuh. Sampai dimasakin, ya," goda Jeffry dengan mata genitnya yang sengaja dikedipkan sebelah.

Jeraldo yang melihat itu sedikit bergidik ngeri, sangat jarang Jeffry melakukan hal seperti ini, tapi ia juga tidak heran, sih. "Nggak boleh kepo," jawab Jeraldo pada akhirnya.

"Anak muda satu, bikin papah iri aja."

"Doain, ya, Pah."

"Pasti. Papah selalu mendoakan yang terbaik untuk anak papah," jawab Jeffry. Kembali menepuk sebelah bahu Jeraldo.

***

Teriakan ayam yang perlahan-lahan merayap, menyentuh lembut gendang telinga, mengisyaratkan akan kedatangan sang arunika. Semua insan yang terlelap perlahan membuka mata, disambut oleh kesegaran jumantara pagi yang menyejukkan jiwa. Namun, di antara mereka, ada satu insan yang hatinya dipenuhi kegelisahan. Rasa gugup itu kembali menyerang, membuat pikirannya berkelana tak berarah. Akankah hari ini berjalan dengan baik? Apakah semuanya akan berjalan lancar sesuai rencana? Seberapa kuat ia mencoba menenangkan diri, sekuat itu pula kegelisahan merayap, mencengkeram jiwa dan pikirannya.

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang