11. Perjodohan

328 30 10
                                        

Hari ini seperti biasa Aldara kembali masuk bekerja sebagai seorang waiters di café. Semuanya nampak seperti sedia kala, Aldara sudah kembali tersenyum dan semangat bekerja. Karena Haris beberapa hari yang lalu sudah kembali ke rumah, kondisinya juga semakin hari semakin berangsur-angsur membaik. Membuat Aldara begitu bersyukur dan merasa senang.

Akan tetapi hari baik Aldara sepertinya hanya sampai pada sore tadi, karena sekarang dirinya harus berhadapan dengan pria menyebalkan yang terus menyerang Aldara dengan berbagai pertanyaan yang sama sedari tadi.

"Sekarang jujur ke gue, lo udah berapa lama pacaran sama Jeraldo?" tanya Juan, menyenderkan tubuhnya ke dinding. Sedangkan Aldara berada di sampingya sedang me-lap kaca cafe, karena sebentar lagi pergantian shift.

"Gue harus bilang berapa kali sih, ke lo! Gue nggak pacaran sama Jeraldo," jawab Aldara dengan nada kesal. Sedari tadi terus mendapatkan pertanyaan demikian dari seorang Juan.

"Ah, masa sih?" tanya Juan merasa tidak percaya. Yah, meskipun Jeraldo juga tidak mengatakan bahwa mereka berpacaran, tapi siapa tahu kan, keduanya sepakat untuk merahasiakan hubungan mereka. Rumit memang menjadi manusia kepo seperti Juan ini. Pokokya ia harus tahu, itulah maunya Juan.

"Terserah lo, deh. Intinya gue nggak pacaran sama Jeraldo," tegas Aldara penuh penekanan.

Juan mengedikkan bahunya, ada perasaan lega kala mendengar jawaban Aldara demikian. Yang berarti perasaan keponya sudah terjawab sekarang. Juan menyunggingkan senyum miringnya kemudian menatap Aldara yang masih sibuk membersihkan kaca. "Bentar lagi shift lo berakhir kan?" tanya Juan.

Aldara menatap malas ke arah Juan yang nampak begitu santai, tidak tahu saja sedari tadi betapa menyebalkannya pria ini terhadap Aldara. "Iya. Kenapa?" jawab Aldara dengan nada ketus.

"Mau temenin gue beli makan kambing nggak?" tanya Juan dengan menaik-turunkan alisnya bergantian.

"Nggak," tolak Aldara langsung. Membuat Juan langsung menangkupkan kedua tangannya di depan Aldara.

"Ayolah, Dar. Makanan kambing pak bambang udah menipis, mami nyuruh gue beli buat si mbek," ucap Juan sedikit memohon. Demi keberlangsungan hidupnya, Juan harus menuruti segala keinginan mami Pradipta.

"Ya, lo tinggal beli sendiri. Nggak perlu ngajak gue," jawab Aldara, sambil merapikan alat bersih-bersihnya karena pekerjaannya sudah selesai sekarang.

"Lo masih aja galak ya, kaya dulu," celutuk Juan.

"Apa lo bilang?"

"Putri singosmosis,.

"Sinting," kesal Aldara, kemudian langsung berlalu meninggalkan Juan.

Juan tentu tidak tinggal diam, ia mengikuti Aldara dan berjalan beriringan bersama. "Ayolah, Gayatri," mohon Juan masih tidak menyerah.

"Gue sibuk, Ju," balas Aldara, meletakkan alat pembersihnya, kemudian melepas apron coklat di tubuhnya. Kemudian Aldara menatap Juan yang kini berdiri menunggunya dengan mata yang disengaja mengerjap berkali-kali. Di pikir lucu mungkin, tapi bukan Juan kalau tidak seperti itu.

"Lo sibuk apa?" tanya Juan.

"Banyak. Intinya gue nggak bisa," ujar Aldara tersenyum simpul kepada Juan yang langsung merubah raut wajahnya menjadi kecewa.

"Bentar aja. Sekalian gue anter pulang," saran Juan memberikan tawarannya. "Gimana?"

Aldara menghembuskan nafasnya dengan pelan. Ia sudah berjanji pada Haris hari ini untuk tidak keluyuran kemana-mana. Maka dari itu setelah bekerja, Aldara harus bergegas untuk pulang ke rumah.

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang