Aldara baru saja selesai bimbingan skripsi dengan dosennya di kampus. Hari ini terasa sangat melelahkan karena ia harus menghadapi banyak revisi dan saran untuk skripsinya. Ketika keluar dari ruangan dosen, Aldara mengusap dahinya yang berkeringat dan melihat ke arah Karin yang sedang mengecek jam yang melingkar di tangan. Hari ini mereka bimbingan bersama.
"Kayaknya kita butuh makan enak nih buat ngilangin stress," kata Karin sambil tersenyum lelah. Aldara langsung memberikan dua jempolnya pada Karin. Setelah otaknya dibuat panas, kini waktunya membuat perut kenyang.
"Iya, gue setuju banget. Gimana kalau kita makan nasi Padang? Gue udah ngidam dari kemarin," jawab Aldara dengan semangat yang tiba-tiba muncul. Membayangkan ayam gulai dan sambal ijo yang menggugah selera itu hampir membuat air liurnya menetes seketika.
Tanpa berpikir panjang, mereka pun bergegas menuju parkiran. Aldara yang menyetir, sementara Karin duduk di sebelahnya. Mereka berdua menggunakan mobil Karin, hanya saja Karin terlalu malas menyetir sekarang, jadilah Aldara yang turun tangan. Saat mereka melaju di jalanan yang sedikit macet, mereka berbincang tentang rencana-rencana mereka setelah sidang skripsi nanti. Namun, di tengah percakapan mereka, tiba-tiba Aldara menginjak rem mendadak. Sebuah mobil di depan mereka juga berhenti tiba-tiba. Karin terkejut dan langsung memegang dashboard.
"Kenapa, Dar?" tanya Karin, napasnya sedikit terengah.
"Di sana! Ada nenek-nenek yang hampir keserempet mobil!" Aldara menunjuk ke arah seorang nenek yang tampak kebingungan di tengah jalan, sementara mobil-mobil lain membunyikan klakson. Tanpa ragu, Aldara membuka pintu mobil dan berlari ke arah nenek tersebut. Karin mengikutinya, meski merasa sedikit cemas. Aldara dengan sigap membantu nenek itu menepi ke trotoar.
"Nenek nggak apa-apa? Maaf ya, Nek, kalau tadi nenek kaget," ujar Aldara sambil memegang tangan nenek itu dengan lembut.
Nenek itu mengangguk, masih terlihat sedikit gemetar. "Terima kasih, Nak. Nenek tadi nggak lihat kalau ada mobil mendekat."
Setelah memastikan nenek itu baik-baik saja, Aldara dan Karin mengajaknya duduk di sebuah bangku di pinggir jalan. Mereka bertiga berbincang sejenak, dan nenek itu bercerita bahwa dia sedang berjalan ke pasar untuk membeli bahan makanan.
"Nek, gimana kalau kita antar ke pasar? Sekalian kita bisa makan bareng," usul Aldara dengan senyum hangat. Nenek itu tampak ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk.
"Boleh, Nak. Terima kasih banyak, ya."
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke sebuah rumah makan Padang terdekat. Sesampainya di sana, mereka memesan berbagai macam lauk pauk. Aldara dan Karin membantu nenek itu memilih makanan, dan mereka bertiga makan bersama sambil bercengkerama.
***
"Aku senang bisa nolongin nenek tadi," ucap Aldara mengakhiri ceritanya.
"Sampai situ doang?" tanya Jeraldo.
"Iya." Aldara mengangguk-angguk lemah. Membuat Jeraldo menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kini pasangan suami istri ini tengah berada di dalam kamar dengan posisi Aldara berbaring dengan selimut tebal membungkus tubuhnya. Aldara baru saja menceritakan apa saja yang terjadi hari ini pada Jeraldo. Kenapa bisa berakhir demikian.
"Ujan-ujanan kan tadi?" tanya Jeraldo. Sedangkan yang ditanya hanya bisa mengangkat selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya sekarang.
"Sedikit," cicit Aldara dengan nada begitu pelan.
"Sedikit tapi sampai demam begini." Cerita Aldara hanya sampai pada menolong sang nenek tadi. Akan tetapi yang menjadi intinya justru tidak diceritakan kenapa bisa Aldara berakhir demam seperti sekarang ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomantikaIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
