36 Selesai.

478 30 3
                                        

Langit sore itu berwarna keemasan, seolah mengiringi sebuah babak baru dalam hidup Aldara dan Jeraldo. Di ruang tamu besar keluarga Adiyama, suasana hening, hanya suara detik jam dinding yang terdengar samar. Semua orang berkumpul, kedua keluarga yang selama ini diwarnai oleh bayang-bayang masa lalu. Perasaan tegang menggantung di udara, tak terucap namun terasa dalam setiap tarikan napas. Aldara duduk di samping Jeraldo, matanya tak lepas menatap sosok ayahnya, Haris, yang tampak merenung di ujung meja. Di seberangnya, Jeffry, ayah Jeraldo, duduk dengan wajah penuh beban yang selama bertahun-tahun ia simpan di balik senyum formal dan ketenangannya.

Hari yang ditakutkan oleh semua orang akhirnya tiba. Semua kebohongan, semua kebingungan yang telah lama bersemayam, kini siap untuk diungkapkan.

"Terima kasih sudah datang," suara Jeraldo terdengar rendah, mencoba mengawali percakapan dengan nada yang sopan. Dia tahu betapa pentingnya momen ini, namun bahkan dirinya pun tak sepenuhnya siap.

Jeffry mengangguk pelan. "Kita harus menyelesaikan ini. Tidak bisa terus begini...."

Aldara merasakan jemarinya sedikit bergetar. Jeraldo meraih tangannya di bawah meja, menggenggamnya dengan hangat, memberikan dukungan. Ia tahu betapa beratnya hal ini bagi Aldara—untuk duduk di ruangan yang sama dengan keluarga suaminya, yang kini diduga terlibat dalam kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.

Jeffry mengambil napas panjang. "Ada sesuatu yang harus aku katakan... sesuatu yang selama bertahun-tahun aku sembunyikan," suaranya gemetar, dan mata Jeffry menatap tajam ke arah Haris dan Aldara juga Aldo.

Semua orang di ruangan itu terdiam, bahkan nafas mereka seakan tertahan. Jeffry mulai berbicara, perlahan namun tegas, menceritakan peristiwa yang telah menghantui keluarganya selama bertahun-tahun. Hari kecelakaan itu. Hari dimana Hani, ibu Aldara, ditabrak oleh mobil hitam yang segera melarikan diri. Kebenaran yang selama ini tertutupi lapisan kepalsuan mulai terungkap, sedikit demi sedikit, dan setiap kalimatnya menghantam seperti palu berat di hati semua orang yang mendengarkan.

"Kecelakaan itu... mobil yang menabrak Hani..." Jeffry menggantungkan kalimatnya, merasakan kerongkongannya kering. Dia menelan ludah, mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan. "Itu... adalah mobilku."

Aldara terperangah. Matanya membelalak lebar, meskipun ia sudah tahu kebenaran ini tapi tetap saja sulit untuk percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tangan Jeraldo semakin erat menggenggam tangannya, seakan berusaha menahan badai yang tak terhindarkan. Ada perasaan bersalah yang begitu besar dalam diri Aldara karena sempat menuduh bahwa itu adalah mobil Jeraldo karena jelas-jelas mobil itu ada di garasi rumah mereka. Sedangkan Haris menunduk, menarik napas panjang dengan wajah yang pucat, seolah semua darah telah tersedot dari tubuhnya.

"Tapi... waktu itu aku terlalu takut," lanjut Jeffry dengan cepat, suaranya semakin tercekat. "Aku takut kehilangan segalanya. Aku takut menghancurkan keluarga kita, Jeraldo, dan terutama menghancurkan kamu, Aldara." Jeffry kembali menarik nafasnya, dengan perasaan berat kembali melanjutkan kalimatnya. "Mobil itu... mobil yang ada di garasi rumah ini. Mobil berwarna hitam yang kemudian aku ganti warnanya untuk dititipkan pada Jeraldo."

Rasa shock membungkus tubuh Aldara, seolah dirinya telah terhenti di tengah ruang yang tak bisa dijelaskan. Seluruh dunia di sekelilingnya tampak kabur, hanya berpusat pada kenyataan pahit yang baru saja ia dengar. Mobil itu milik Jeffry. Mobil yang semula berwarna hitam kini sudah diganti menjadi warna putih.

Air mata perlahan menggenang di sudut mata Aldara. Dia tidak tahu harus merasa apa. Marah, sedih, kecewa? Semua perasaan bercampur aduk menjadi satu. Kenapa dunia bisa sesempit ini.

Jeraldo menatap ayahnya, wajahnya penuh rasa sakit. "Kenapa, Pa? Kenapa selama ini Papa tidak mengatakan yang sebenarnya? Kenapa membiarkan kita hidup dalam kebohongan?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jeraldo-AldaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang