Pagi itu, Jeraldo tidak lagi bermalas-malasan. Biasanya, dia baru bangun ketika jam menunjukkan pukul delapan, terlambat untuk berangkat ke kantor. Tapi hari ini berbeda. Jam baru menunjukkan pukul 7.30, dan Jeraldo sudah rapi dengan setelan jas lengkap, siap berangkat. Pikirannya penuh dengan perbincangan yang terjadi semalam dengan Aldara. Ada sesuatu yang mengganggu benaknya, sesuatu yang tak bisa ia abaikan. Jeraldo memutuskan untuk turun tangan sendiri. Dia tahu, untuk mencari tahu kebenaran, dia harus bertindak cepat. Jeffry adalah orang pertama yang terlintas di pikirannya—sahabat ayahnya, seorang pengacara berpengalaman yang tahu seluk-beluk hukum. Jeffry mungkin bisa membantunya menggali lebih dalam tentang kasus yang menimpa ibu Aldara dua tahun lalu.
"Halo, Pah," sapa Jeraldo saat telepon tersambung. "Ada yang Jeral mau bicarakan. Kira-kira pagi ini bisa ketemu?" Setelah beberapa detik hening, suara di ujung sana menjawab, "Oke, Nak. Langsung ke kantor Papa saja." Telepon terputus. Jeraldo segera melangkah menuju kamar, ingin mengabari Aldara sebelum pergi.
"Sayang," panggil Jeraldo dari ambang pintu kamar.
Aldara, yang baru saja selesai mandi, berbalik. "Iya?" tanyanya sambil mengeringkan rambut.
"Aku mau berangkat sekarang, ya. Ke kantor Papa dulu, ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Nanti siang aku kabari, kalau ada apa-apa, langsung kasih tahu aku, ya," ucap Jeraldo, berusaha terdengar tenang meski ada kegelisahan di suaranya.
Aldara mengangguk sambil tersenyum tipis. "Makan siang di rumah atau mau aku anterin ke kantor?"
Jeraldo tersenyum, lalu mengecup kening Aldara lembut. "Di rumah, dong. Kalau kerjaanku belum selesai nanti, suruh supir jemput kamu. Kita makan bareng di kantor, ya."
"Iya, hati-hati di jalan," jawab Aldara, matanya penuh perhatian. Tembok pertahanan gengsi nyonya Adiyama berangsur-angsur roboh terhadap Jeraldo.
Setelah berpamitan, Jeraldo bergegas keluar rumah, menyusuri jalanan Jakarta yang mulai padat. Ada perasaan berat di dadanya, perasaan yang membuat langkahnya terasa lebih cepat. Dia tahu ada sesuatu yang harus dia lakukan, sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya dan hidup Aldara selamanya.
***
Sesuai rencana, Jeraldo tiba di kantor Jeffry, gedung perkantoran yang megah dengan pemandangan kota Jakarta yang sibuk. Ia langsung menuju ruangan Jeffry tanpa banyak basa-basi. Jeraldo tahu, semakin cepat dia berbicara dengan Jeffry, semakin cepat dia bisa mencari jawaban.
"Pa," panggil Jeraldo sambil memasuki ruangan.
Jeffry, yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan santai, menoleh dan tersenyum melihat kedatangan putranya. "Ada apa, nyari-nyari Papa sampai ke kantor begini? Biasanya Papa yang disuruh ke kantor kamu," balas Jeffry, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.
Jeraldo duduk di sofa tamu, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. "Pa," panggilnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.
Jeffry berhenti sejenak, menatap putranya dengan cermat. "Kalau bukan hal penting, nggak mungkin ke sini, kan?" tebak Jeffry, nadanya berubah serius.
Jeraldo mengangguk, mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, "Ini soal Mama Aldara."
Jeffry yang mendengar itu langsung memasang wajah serius. "Aldara sudah cerita?"
Jeraldo mengangguk lagi, merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya. "Papa tahu soal kasus kecelakaan yang menimpa Mama Aldara, kan?"
Jeffry terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke luar jendela yang besar. "Iya, Papa tahu. Istri Haris meninggal dalam kecelakaan tragis dua tahun lalu, dan pelakunya belum ditemukan sampai sekarang. Seingat Papa, kasus itu sudah ditutup."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomanceIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
