Mulai hari ini dan seterusnya sepertinya hidup Aldara akan benar-benar berubah. Hidup yang tidak pernah ada dalam planning-nya bahkan sama sekali tidak pernah sekalipun terlintas di benaknya. Akan tetapi semua itu perlahan datang menghampiri tatanan hidup gadis itu. Karena perjodohan yang dilakukan oleh ayahnya, mau tak mau Aldara akan menikah dengan pria yang bernama Jeraldo. Entah seberapa jauh takdir mengukir lembaran baru di kehidupan sang gadis, tapi yang jelas saat ini, hati itu masih setengah keras untuk menerima.
"Serius, nih, sepagi ini?" tanya Aldara, menatap Jeraldo di sampingnya yang sedang menyetir.
Jeraldo melirik ke jam tangan yang melilit di pergelangan tangannya, kemudian menoleh ke Aldara. "Ini udah mau jam sembilan, Ra."
Mendengar itu, Aldara hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Pagi-pagi sekali Jeraldo datang untuk menjemputnya, membawa Aldara pergi entah ke mana, dan anehnya pula Haris yang notabennya ayah Aldara yang terkadang strict dengan mudahnya mengizinkan ia pergi bersama Jeraldo. Apa mungkin karena mereka berdua akan menikah? Aldara tidak peduli itu, yang jelas ia tidak suka pagi harinya di ganggu oleh pria ini.
Jeraldo tersenyum melihat Aldara yang nampak malas-malasan di pagi hari seperti ini. "Kan tadi malam udah dikasih tau, kalau hari ini kita ada fitting baju," kata Jeraldo.
Aldara berdecak sebal, memang tadi malam Jeffry dan Haris menyepakati hari ini fitting baju pernikahan mereka. "Nggak sepagi ini juga, Kak Jeral," ucap Aldara, menghembuskan nafasnya. Ia masih merasa mengantuk, acara ngebonya harus terganggu.
Jeraldo kembali melirik ke Aldara yang kini nampak menguap. "Temenin gue dulu," ujar Jeraldo. Pandangannya kembali fokus ke jalanan di depan.
"Mau ke mana, sih, memangnya?" tanya Aldara. Perasaan tidak ada dalam agenda soal menemani Jeraldo, deh. Apakah ini alasan dibalik ia di jemput sepagi ini.
"Gue ada meeting sama client."
"Ya, tinggal meeting. Kenapa harus bawa-bawa gue?" Aldara menyamankan posisinya, menyandarkan punggung dan kepalanya di kursi.
"Client-nya cewek."
"Ya, terus?"
"Temenin gue."
Aldara yang semula sudah menyandar nyaman, kini kembali duduk tegap, menatap Jeraldo. "Emang lo nggak bisa meeting tanpa gue, ya?" tanya Aldara.
"Bisa," jawab Jeraldo, ikut menolah menatap Aldara.
"Terus?" Aldara bingung, dengan kedua mengeryit.
"Kamu banyak tanya."
Aldara mendengus pelan, mendengar Jeraldo tiba-tiba memakai 'kamu', rasanya agak aneh. Namun pada akhirnya Aldara memilih tidak menjawab, dan kembali menyenderkan punggung dan kepalanya dengan nyaman. Ia tidak tahu masih jauh atau tidaknya, jarak kantor ataupun tempat meeting nanti. Sekarang Aldara ingin memanfaatkan sedikit waktunya, untuk tidur sebentar jika itu bisa.
Mungkin.
"Tidur aja, nanti dibangunin," ujar Jeraldo, menoleh ke Aldara yang kini sudah menutup kedua matanya. Jeraldo tersenyum, gemas pada Aldara yang benar-benar menjadi dirinya sendiri tanpa ragu ataupun malu di depan Jeraldo seperti ini. Sebelah tangan Jeraldo terulur, meraih pucuk kepala Aldara, dan mengusapnya dengan lembut.
Aldara sangat mengantuk, karena malam tadi tidurnya sangatlah sedikit. Karena sebagian ulah dari Jeraldo juga. Karena perkataanya yang tiba-tiba seakan melamar Aldara di acara pertemuan keluarga mereka, semua sikap Jeraldo yang tidak terduga itu sukses membuat Aldara hampir tidak bisa tidur sampai jam tiga pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeraldo-Aldara
RomanceIni cerita Jeraldo Aldara yang di tiktok itu. Selamat membaca:) Bingung mau deskripsiin apa. Cerita mereka berdua, keseharian pasutri gemes. 🔞 tidak aman untuk jantung jomblo Yg tau Jeraldo pasti ituu🤫🫣
