Chapter 39 (Candelabra - I)

191 25 3
                                        

Shotaro POV

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Shotaro POV

Kegelapan masih mendominasi sekelilingku dengan hanya mengandalkan penerangan yang minim dari lampu disepanjang korior, aku melirik jam yang menunjukan pukul 2 pagi. Aku bergegas bersiap-siap, aku benci untuk menjadi pihak yang terakhir datang.

"Sungchan....." ucapku mengoyang-goyangkan lengan Sungchan

"5 menit lagi" ucap Sungchan sembari menarikku didalam dekapannya

"Kau sendiri tau aku benci menjadi orang yang ditunggu" ucapku sembari melepaskan pelukannya

"Kiss me" 

Dasar kantong hormon berjalan, apa yang semalam masih kurang. Aku saja merasa sulit untuk bergerak, sungguh jika bukan karena mantra penyembuhan aku tak yakin bisa berjalan dengan normal. Bahkan aku tak yakin untuk ikut dalam quest

"done"  ucapku memberikan ciuman singkat di bibirnya

"Sudah lama aku tak ikut dalam quest" ucapku merapikan jubah miliku, Sungchan berjalan  pelan menuju kamar mandi

"Aku malah ingin kau tidak mendapatkan quest lagi" ucap Sungchan dari balik pintu kamar mandi

"Kau meremehkanku?" ucapku kesal, Ia tak pernah tau dan tak perlu tau jika aku terpaksa menerima sindiran karena kurangnya keterlibatan aku dalam quest

"Siapapun akan bertindak sepertiku, siapa yang mau kesayangannya terluka" ucap Sungchan berjalan menghampiriku

"Kenakan pakaianmu Jung Sungchan!" sampai kapanpun aku tak pernah terbiasa melihat Sungchan dengan bagian atasnya yang terbuka

"10 menit cukup, Taro Hyung"

BBUUUKKKK.....

"Apa tanda yang kemarin kau buat masih kurang!!!!"

"Jika itu menyangkut hyung, tak pernah ada kata puas" ucapnya dengan senyum yang menyiratkan godaan, aku kembali memukulnya hingga ia terpaksa melangkah mundur satu langkah

"Sekembalinya kita dari quest kita jalan-jalan" ucapku

"Janji?" ucapnya menyodorkan kelingkingnya meski sebelah tangannya masih memegang perut tempat dimana aku memukulnya

Hubunganku dengannya seperti anak kecil, meski terkadang ia membawanya dalam hubungan dewasa pula. Jung Sungchan memberikan warna yang begitu banyak padaku

Hanya padaku....

Sampai saat ini aku sendiri masih sulit mempercayai bahwa hubungan kami akan sejauh ini, Aku mengira Ia yang bak pangeran es dengan cahaya yang begitu terang tak akan mungkin melirikku yang berada dalam bayangan di gelapnnya malam. Sudahlah itu masa lalu, selagi Sungchan bangga dan percaya padaku itu sudah cukup untuk membungkam mulut-mulut orang yag merasa iri dan berusaha menjatuhkanku

"Hyung, memikirkan apa?" ucap Sungchan, aku yang tersadar langsung terbaring. Wajah Sungchan yang hanya berjarak beberapa inchi membuatku gelalapan

"Bukan Apa-apa" aku memegang tangannya dan menarik tangannya untuk meninggalkan kamar.

Sternzeichen S2 [Sacrifice]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang