Matahari mulai menampakkan sinarnya. Sinar itu biasa selalu menjadi teman untuk seorang perempuan yang setiap hari akan selalu bangun di pagi hari.
Sama seperti biasanya, kegiatan Salsa setiap pagi adalah memasak, beberes rumah dan membuatkan bekal untuk sang Ayah bekerja. Perempuan 19 tahun ini selalu membuatkan bekal untuk Denis agar bisa menghemat pengeluaran mereka.
Sudah dari dulu selalu seperti ini. Sewaktu perempuan itu masih duduk di bangku SMA, ia selalu membawa bekal dan tidak jajan di sekolah.
Beruntung ia memiliki Nabilla, seorang sahabat yang suka sekali berbagi. Jadi Salsa terkadang masih bisa merasakan jajanan yang ada di jual di sekolah.
Saat ini Salsa sudah bekerja sebagai pelayan di cafe milik keluarga nya Nabilla. Maka dari itu, ia bisa kapan saja bertemu dengan Nabilla sepulang sahabatnya itu selesai kuliah. Sedangkan dirinya, ia memutuskan tidak kuliah. Saat ini ia hanya ingin fokus mencari uang untuk membantu sang Ayah yang sekarang kondisi kesehatannya menurun tapi masih mau bekerja sebagai Office Boy di salah satu kantor perusahaan.
Perempuan itu melangkah ke depan, berjalan beriringan dengan sang Ayah menuju ke teras rumah dengan tujuan mengantarkan Denis yng hendak berangkat kerja.
"Ayah hati-hati dijalan ya, bekal Ayah sudah Caca siapin di tas. Jangan lupa dimakan yaa, Ayah" ucap Salsa kepada Denis sambil mencium punggung tangan pria itu.
"Iya nak, trimakasih yaa. Ayah berangkat kerja dulu. Nanti hati-hati jalan sama Nabilla ya" balas Denis sembari mencium kening sang putri.
Salsa mengangguk dengan senyum yng mengembang di bibirnya. "Siap, Yah. Caca pasti akan selalu hati-hati"
"Ya sudah, Ayah berangkat yaa. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Sesuai dengan percakapan itu. Siang hari nanti Salsa berencana pergi keluar rumah untuk menemani sahabat nya mencari buku.
Sudah sering kali, mereka pergi jalan-jalan berdua, entah pergi ke toko buku, ke mall, pergi mencari ice cream atau jalan-jalan ke pasar malam untuk mencoba berbagai macam wahana yang ada.
***
Di tempat lain. Seorang pria bertubuh tegap, tinggi, dan memiliki badan yang begitu sempurna sebagai seorang laki-laki. Dia berjalan dengan tenang menuju ke ruang kerjanya. Wajah yang tampan itu, terlihat begitu sempurna dengan ornamen nya. Mata, hidung, bibir, alis dan hidung. Semuanya tersusun rapi di wajah tegas itu. Ekspresi yang selalu datar dan terlihat dingin, tidak melunturkan ketampanan dari seorang Arlian.
Ceklek
Tangan besar itu, bergerak membuka pintu ruangan. Beberapa dokumen sudah tersusun rapi di sebelah laptop di atas meja kerjanya.
Tanpa mau membuang waktu, Lian melangkah untuk duduk di kursi kerjanya. Ia hendak segera menyelesaikan pekerjaannya. Tapi baru saja ia membuka dokumen itu, ponselnya berbunyi karena ada sebuah pesan masuk dari sahabatnya, Nando.
Ting 📩
Nando
"Li, gua udah nemu titik terang tentang data orang yang lo cari"
Lian
"Lu buru ke kantor. Gua tunggu data lo, cepetan!"
Nando
"Yee si anjing, sabar kali. Gua masih di jalan, macet ini"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry For Your Grudge [END]
Ficción GeneralBuat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙. ### Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
![Sorry For Your Grudge [END]](https://img.wattpad.com/cover/371685023-64-k564799.jpg)