Buat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙.
###
Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
Mata cantik salsa menatap lurus kedepan, ke arah pintu dapur yang sedang terbuka. Duduk bersandar pada kursi meja makan. Baru saja, salsa telah menyelesaikan rajutannya, lagi. Sekarang, merajut adalah kegiatan nya sehari-hari saat di siang hari seperti ini. Karena entah apalagi yang harus ia lakukan jika semuanya sudah di kerjakan oleh asisten rumah tangga nya. Lagipula, suaminya masih begitu posesif dan protektif dengannya. Tidak boleh melakukan aktifitas apapun kecuali merajut, memasak, dan menyiram tanaman nya.
"Nah, jadi lagi deh selimut buat mas bayi, kali ini ibun bikin yang ada bentuk bebeknya dulu yaa. Besok-besok, ibun bikinin yang bentuk dino" ucap salsa mengelus perutnya sendiri yang semakin tambah besar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bi Ratih yang mendengar itu pun menyunggingkan senyum di bibirnya. Rasanya ia turut berbahagia menanti bayi kecil itu lahir.
Salsa menoleh kepada sang art yang sekarang sedang asik menanak nasi tidak jauh dari posisi nya.
"Bi"
"Iya mba salsa?"
"Waktu bibi melahirkan dulu, operasi atau normal?" tanya salsa.
"Bibi dulu normal mba, 3 orang anak bibi lahirnya normal semua. Gak ada yang operasi, karena kendala biaya juga. Jadi bibi lahirannya semua normal, bahkan hanya di dukun beranak aja. Gak di rumah sakit atau di bidan" jawab bi ratih sesekali sambil memperhatikan kompornya.
"Serius bi? Emang aman lahiran sama dukun beranak gitu?"
"Yaa kalau dibilang aman juga kayaknya resiko nya tinggi mba. Tapi ya namanya juga jaman dulu, kayaknya lahiran dimana aja ya aman-aman aja" jawab bi ratih tersenyum.
"Pasti rasanya sakit banget ya bi?" tanya salsa lagi. Kini wajah dan mata perempuan itu berubah menjadi sedih bercampur takut jika diperhatikan.
Bi ratih pun menghampiri salsa setelah selesai dengan kegiatannya. Perempuan itu mendekat, duduk di kursi lain dan mengusap lengan salsa lembut. "Bohong kalau bibi jawab gak sakit" ucapnya.
"Tapi memang itu proses yang harus dilalui. Setiap ibu yang melahirkan pasti merasakan yang namanya sakit, atau kalau kata bidan sekarang namanya gelombang cinta" lanjutnya.
Bi ratih memegang kedua tangan salsa, mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. Tatapan bi ratih pun sama, lembut dan penuh sayang. "Jangan takut ya nduk, semuanya pasti akan baik-baik aja. Ada gusti Allah yang pasti akan membantu, yang penting jangan lupa terus berdoa"
"Bibi percaya mba salsa pasti bisa melalui segala prosesnya dan melakukan semuanya dengan baik, karena mba salsa perempuan yang hebat, perempuan yang kuat" ucap bi ratih.
Salsa membalas tatapan bi Ratih dengan sendu. Perempuan tua ini seolah paham dengan segala kekhawatirannya. Apalagi setelah mendengar ucapan ibu mertuanya saat di meja makan pada malam itu.
"Tidak perlu khawatir, melahirkan itu sebuah anugerah, bukan suatu hal yang menakutkan. Ada di usia kehamilan sekarang saja sudah bisa mba salsa lewati, berarti melahirkan nanti juga bisa mba salsa lalui. Coba kalau di pikir-pikir lagi. Pasti mba salsa juga tidak menyangka sudah ada di titik sekarang ini kan? Mengandung selama berbulan-bulan sampai hampir menginjak usia 8 bulan kaya sekarang" Salsa pun mengangguk mengiyakan.