Angin bertiup lembut, menggerakkan dedaunan dan bunga kamboja yang masih berada di tangkainya. Hijab pasmina dari seorang perempuan juga ikut bergerak. Mengalun, mengikuti arah angin itu berhembus.
Salsa menabur kelopak bunga mawar di gundukan tanah yang masih basah. Disusul dengan menaruh beberapa tangkai bunga mawar hitam tepat di bawah sebuah batu nisan. Nisan yang bertuliskan nama Kevin Pratama telah terukir di batu nisan itu.
Tatapan perempuan itu menyirat kesedihan. Mungkin wajahnya bisa berbohong, tapi sorot mata nya tidak pernah bisa bohong kalau ia sangat sedih atas kepergian kakaknya. Lebih tepatnya telah menjalani hukuman terakhir nya dengan eksekusi mati.
Tentu saja hal ini disadari oleh Lian. Ia paham dengan apa yang istrinya rasakan. Sebenarnya ia juga merasa bersalah, karena Kevin yang berstatus sebagai kakak kandung istrinya harus bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap adiknya dulu.
Tapi hukuman tetap berjalan. Dan hal itu juga disetujui oleh Kevin sendiri. Ia sadar akan kesalahan yang telah ia perbuat, tidak hanya dengan Syarla, tapi juga dengan seorang teman yang telah ia ambil identitas nya selama ini.
Sebuah tangan besar perlahan mendarat di punggung Salsa. Cepat-cepat perempuan itu menghilangkan jejak air mata yang ternyata jatuh di pipinya.
"Sayang, maaf..." ucap Lian terdengar lirih dan pelan.
Salsa membalik badannya untuk menghadap sang suami. Bibirnya mengembangkan senyum, tapi matanya sedikit terlihat sembab.
"It's oke, mas. Sudah seharusnya seperti ini" ucap Salsa dengan hati yang lapang.
Sebuah senyum tipis yang hanya segaris, terbit di bibir Lian. Tangannya menggenggam jemari Salsa begitu erat, ibu jarinya terlihat mengusap punggung tangan itu. Dan matanya menatap Salsa tanpa mau beralih. "Kalau mau sedih jangan di sembunyikan. Gak perlu pura-pura tegar di hadapan nya mas, sayang"
Mendengar ucapan itu, sepasang mata cantik Salsa mulai buram karena genangan air mata yang datang begitu saja di pelupuk mata. Ternyata, suami nya dapat mengerti apa yang tengah ia rasakan. Dan beruntungnya lagi, Lian bersikap layaknya adik ipar yang juga ikut kehilangan sosok seorang kakak. Bukan menghakimi atau memberikan umpatan untuk Kevin yang telah ditimbun oleh tanah ini.
"Baik buruknya Kevin hanya dia yang tau. Buruknya Kevin, sudah sepenuhnya ada di kepalanya mas. Tapi baiknya seorang Kevin, hanya kamu yang bisa merasakannya. Karena kamu, adik tersayangnya"
"Mas gak pernah tau, kenangan indah seperti apa yang kamu lalui bersama kakak mu, sayang. Tapi mas masih bisa merasakan, kalau kamu begitu sangat menyayangi dia, walaupun rasa sayang itu bertabrakan dengan rasa kecewa atas kejahatan yang dia lakukan"
"Jadi menangislah, kalau ingin nangis. Gak ada larangan untuk kamu menangisi kepergian kakak mu, sayang" ucap Lian begitu lembut.
Air mata Salsa seketika tumpah menyeluruh. Lian sigap menarik Salsa dalam dekapannya. Ia usap punggung itu naik turun dengan begitu lembut.
Tanpa mau ia sembunyikan lagi. Air mata itu jatuh menyeluruh di pipi, serta ikut membasahi kemeja hitam yang suaminya kenakan. Mau bagaimanapun kalimat penenang yang suaminya katakan, rasa penyesalan pada keluarga Lian pasti masih ada membekas di hati Salsa meskipun hanya setitik.
"Mas.... Sekali lagi maaf..." ucap Salsa dalam pelukan itu.
"Ssstt, kita sudah pernah bahas soal ini. Biarkan semua ini menjadi kisah pahit di masa lalu, yaa. Semua yang terjadi memang gak mungkin bisa kita lupain begitu aja, tapi bukan berarti kita harus terus ingat dan bahas soal ini. Biarkan ini jadi cerita di perjalanan hidup kita. Yang membuat kita jadi bertumbuh dan berproses menjadi manusia yang lebih baik" ucap Lian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry For Your Grudge [END]
Fiction généraleBuat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙. ### Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
![Sorry For Your Grudge [END]](https://img.wattpad.com/cover/371685023-64-k564799.jpg)